
Byur …. "Aaa." Mentari sedikit menjerit sambil berdiri saat pahanya baru saja diguyur minuman berwarna kuning itu.
"Aduh, maaf ya. Aku tidak sengaja," ucap Naraya berpura-pura.
Mentari menatap Naraya dengan pandangan kesal. Sedangkan Gieno menatap dress Mentari sedikit kotor dibagian paha. "Ingin beli yang baru?" tanya Gieno.
Mentari menoleh dan menggeleng pelan. "Tidak perlu, Kak. Hanya sedikit kotor, aku bersihkan dulu ke toilet. Kalian makanlah," tutur Mentari. Setelah mengucapkan itu, Mentari pergi dari sana berjalan menuju ke arah toilet.
"Aku membantu dia dulu ya, Kak. Sepertinya dia marah kepadaku," pungkas Naraya. Tanpa mendengar jawaban laki-laki itu, Naraya berjalan cepat menyusul langkah kaki Mentari.
Sedangkan di dalam sana, Mentari sudah menggerutu kesal dengan kejadian sial yang dialaminya. "Ck, membuat mood aku semakin jelek saja," gerutu Mentari merasa kesal.
"Hei, kau." Suara seseorang mengalihkan perhatian Mentari dari dress kotornya.
Mentari memutar bola matanya malas melihat keberadaan Naraya di belakangnya. "Kau siapanya Kak Gieno?" tanya Naraya sinis.
"Bukan urusanmu," sahut Mentari ketus.
Naraya melotot mendengar jawaban gadis dihadapannya itu. "Kau tidak usah sok dekat dengan Kak Gieno. Aku ini adalah calon pacarnya," sambung Naraya.
__ADS_1
Mentari terdiam sejenak mendengar kalimat Naraya. "Baru saja jadi calon, sudah sombong. Belum tentu benar-benar jadi pacar kan?" ejek Mentari.
"Aku pasti akan menjadi pacarnya," sahut Naraya.
"Hei, Nyonya. Banyak sekali yang namanya calon, salah satunya calon presiden. Kadang ada lima, empat atau berapalah calon presiden. Tapi apa semuanya jadi presiden? Tidak kan?" ledek Mentari.
"Kau berani sekali kepadaku? Apa kau tidak tahu siapa aku? Aku ini keturunan tunggal keluarga Barka, kau tahu!" teriak Naraya marah.
Mentari sempat terkejut mendengar salah satu nama perusahaan yang cukup terkenal itu. Ya, memang perusahaan Barka cukup terkenal. Mungkin jika dimasukkan ke dalam daftar, keluarga Barka masuk ke dalam daftar orang paling kaya nomor dua puluh sekian di Indonesia.
"Terus aku harus apa? Bilang waw?" balas Mentari masih saja mengejek Naraya.
"Jadi benar tebakanku, kau sengaja menumpahkan ini," balas Mentari sinis.
"Iya, aku muak melihat wajahmu. Aku lebih cantik dari pada kau. Tubuhku juga lebih bagus dari pada kau, jadi tidak usah sok ingin berebut Kak Gieno denganku. Kau pasti kalah," ejek Naraya remeh.
Mentari tersenyum miring mendengar kalimat itu. "Mungkin memang benar kau akan dipilih, sebab Kak Gieno memang suka mencari jal**g." Mentari tersenyum manis ke arah Naraya yang saat ini sudah melotot marah.
"Brengsek! Kau mengatakan aku jal**g?" Naraya melotot menatap Mentari dengan wajah protes.
__ADS_1
"Aku tidak bilang itu, kau saja yang merasa," sahut Mentari santai.
Naraya merasa kesal dan marah kepada Mentari. Wanita itu dengan cepat bergerak ke arah keran air dan menyiramkannya ke tubuh Mentari. Mentari terkejut saat tubunya basah sebab Naraya menyiramkan dengan membabi buta. "Hei, berhenti! Kau sudah gila," teriak Mentari.
Merasa kesal dengan kelakuan Naraya, Mentari mendekat dan menarik rambut Naraya kasar. "Aaa." Naraya menjerit merasakan sakit disekujur kepalanya.
"Rasakan!" Mentari pergi keluar toilet saat merasa puas dengan aksi jambakannya itu. Meski hanya sekali jambakan, tetapi itu cukup untuk melepaskan rasa kesalnya.
Sedangkan Naraya di dalam sana sudah meringis merasakan perih di kulit kepalanya. "Perempuan kurang ajar, sakit sekali rambutku."
Mata Naraya melotot saat melihat beberapa helai rambutnya putus. "Kurang ajar, aku tidak terima. Dia menjambak rambutku dengan keras sampai aku sempat merasa pusing seperti ini. Ditambah dengan beberapa helai rambutku yang sudah rontok. Badan kecil seperti itu, kenapa kekuatannya sangat kuat," gerutu Naraya.
Mentari berjalan kesal ke arah meja di mana Gieno masih duduk santai di sana. Gadis itu tidak menyadari jika sedari tadi dia sudah menjadi pusat perhatian. "Kak," rengek Mentari.
Gieno menoleh dan melotot melihat keadaan Mentari. "Apa yang kau lakukan di toilet, mandi?" cetus Gieno tidak habis pikir.
Mentari mengerucutkan bibirnya kesal mendengar perkataan Gieno. Gadis itu menoleh ke arah Naraya yang mulai mendekat sambil menatapnya tajam. "Dia menyiramku dengan air seperti orang gila. Lihatlah hasilnya."
Mata Gieno kembali melotot saat baru menyadir jika pakaian dalam Mentari sudah terekspos jelas dari luar. "Sh**," umpat Gieno.
__ADS_1
Laki-laki itu dengan cepat membuka jas kantornya dan memasangkannya ke tubuh Mentari. Melihat itu jelas saja membuat Naraya semakin kesal. Sedangkan Mentari hanya diam sambil menatap Naraya dengan pandangan tidak suka.