
"Maaf, Tuan. Silakan Tuan tunggu di luar ruangan," ucap seorang dokter gugup.
Gieno tidak menyahut, tetapi juga tidak membantah. Laki-laki itu memilih duduk di kursi tunggu di depan ruangan itu. Gieno menatap datar pintu ruangan tempat di mana Mentari ditangani. "Kenapa perasaanku tidak enak, ada yang aneh," gumam Gieno.
Cklek …. Pintu ruangan itu kembali terbuka, memperlihatkan seorang dokter keluar dari sana. Gieno yang melihat itu berdiri menatap dokter itu dengan pandangan datarnya. "Maaf, Tuan. Kondisi pasien cukup serius karena pasien mengeluarkan banyak darah. Luka di kepalanya juga sedikit terbuka, saya rasa kemungkinan luka itu terbuka karena beberapa kali kepala pasien terantuk atau pun terbentur benda keras. Sedangkan luka lebam di tubuh korban tidak terlalu serius, tetapi cukup untuk membuat kesadaran pasien semakin menipis. Kami ingin meminta persetujuan operasi, luka di kepalanya harus kami jahit," ungkap dokter.
"Lakukan," sahut Gieno dingin.
"Baik, kalau begitu mohon mengisi formulir persetujuan di bagian administrasi, Tuan," papar dokter. Gieno tidak menyahut, setelah kembalinya dokter itu ke dalam ruangan, Gieno ikut berjalan ke arah bagian administrasi.
...*****...
"Apa dia belum sadar?" tanya Yezo.
"Belum," balas Gieno.
__ADS_1
"Jelas belum akan sadar, setelah selesai operasi biasanya pasien akan sadar sekitar tujuh jam atau bahkan lebih lama," ujar Rangga.
"Kata Dokter kondisinya bagaimana?" tanya Petrik.
"Dia mengeluarkan banyak darah di luka kepala," jelas Gieno.
"Apa yang dilakukan bedebah itu kepadanya?" ucap Ferry penasaran.
"Aku sempat melihat ada darah di sudut ruangan penyekapan. Aku rasa Januar menghantukkan kepala Mentari," tutur Yezo.
"Masih, tapi aku rasa dia sudah menginginkan mati sekarang," sahut Yezo.
"Pantau, jangan biarkan dia bunuh diri. Aku harus memberi tahu lebih dalam kepadanya. Siapa aku sebenarnya, dia terlalu meremehkan aku selama ini," desis Gieno.
...*****...
__ADS_1
Tak … tak … tak …
Langkah kaki Gieno menggema di ruangan gelap yang sunyi itu. Ruangan di mana para tahanan Zero di kumpulkan dengan bilik yang berbeda-beda. Langkah kaki Gieno terhenti di depan sebuah pintu besi. Laki-laki dingin itu menatap dingin pintu hitam itu. "Buka," titah Gieno.
"Baik, Ketua." Setelah menyahut, seorang laki-laki membuka pintu bilik itu.
Drett …. Suara pintu terbuka mengalihkan pandangan seorang laki-laki yang sedang duduk dengan keadaan memprihatinkan. Januar, dia adalah laki-laki yang menghuni bilik penjara itu. Januar yang melihat kedatangan Gieno menelan salivanya kasar. Kejadian gila tadi masih terlintas jelas di depan matanya.
Gieno masuk dan mendekat ke arah Januar yang mulai memundurkan tubuhnya. Sesekali Januar meringis kala merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Gieno menunduk menatap datar laki-laki yang sudah memucat takut. "Kenapa mundur? Bukankah biasanya kau suka mencari kesempatan untuk berhadapan seperti ini denganku?"
Suara rendah Gieno menggema di dalam ruangan sempit itu. Januar yang mendengar kalimat Gieno hanya diam tidak menyahut. Gieno menekuk kakinya dan menatap wajah Januar sejajar. "Kau sudah melihat iblis gila yang sebenarnya? Atau perlu aku perlihatkan lagi?" bisik Gieno.
"Lepaskan aku, aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi. Aku akan segera pergi dari negara ini," papar Januar mencoba bernegosiasi.
Gieno hanya diam, tidak menyahut dan tidak berekspresi. Wajah iblis gila itu masih saja datar. "Kau memang akan segera pergi, tidak akan berada di negara ini lagi. Aku akan segera mengirimmu ke neraka," desis Gieno rendah.
__ADS_1
Deg …. Detak jantung Januar berpacu cepat. Kalimat Gieno mampu membuatnya mati sebelum disentuh oleh iblis gila itu. "Tapi kau tenang saja, aku ingin bermain-main dulu. Seperti kau … mempermainkan gadisku," sambung Gieno.