
Mentari menatap Gieno yang baru saja masuk ke dalam mobil. Gadis itu menatap laki-laki itu dengan pandangan cemas. "Apakah aman, Kak? Tidak akan terjadi seperti waktu itu kan?" ucap Mentari.
Gieno menoleh singkat ke arah gadis itu dan tersenyum miring. "Kenapa? Kau takut?" ejek Gieno.
"Iya, aku kan masih ingin hidup," sahut Mentari polos.
Gieno terkekeh kecil mendengar jawaban dari gadis itu. "Berada di sekitarku, ya seperti ini. Tidak ada kata aman," tutur Gieno.
Laki-laki mulai melajukan mobilnya, sedangkan Mentari sudah terdiam mencerna kalimat Gieno. 'Benar juga, dia kan selalu membuka peluang untuk diserang. Padahal bisa memberi pengamanan tinggi, tapi dengan sengaja mencari pertempuran,' batin Mentari.
"Bersiap saja, kalau kalau ada yang menghadang jalan kita," cetus Gieno.
Mentari terkejut mendengar perkataan Gieno. Wajah pucat gadis itu malah semakin terlihat pucat. Sedangkan Gieno yang sempat melirik singkat ke arah Mentari hanya bisa mengulum bibirnya menahan tawa. Sungguh wajah takut Mentari mampu membuat hati Gieno tergelitik geli. "Tapi, akan baik-baik saja kan, Kak?" cicit Mentari.
"Mana aku tahu," balas Gieno santai.
Mentari menoleh cepat ke arah Gieno. "Kakak kan punya Zero, pasti kita akan baik-baik saja," papar Mentari.
Gieno kembali tersenyum miring mendengar perkataan Mentari. "No," suara Rangga menggema di telinga Gieno.
"Hem," deham Gieno.
Mentari yang mendengar Gieno berdeham, menoleh cepat. Kening gadis itu berkerut tidak mengerti. 'Dia berdeham kepadaku atau bagaimana?' batin Mentari bingung.
__ADS_1
"Kau membawa pistol?" tanya Rangga.
"Ada, kenapa?" sahut Geino balik bertanya. Mentari yang mendengar kalimat Gieno, mengerti jika Gieno sedang berbicara dengan seseorang.
"Di persimpangan mereka menunggu, semuanya membawa pistol. Kau perlu bersiap," tutur Rangga.
Gieno mengangguk singkat mendengar perkataan Rangga. "Zero Beta?" tanya Gieno.
"Tiga orang, sedang melihat situasi dan kondisi. Kau hanya perlu melewati persimpangan. Setelah itu, mereka akan mengambil alih," jelas Rangga.
"Pertempuran utama di mana?" tanya Gieno.
"Sekitar empat kilometer dari persimpangan itu, jika kau berbelok ke arah kanan maka kau akan menemukan. Tapi aku sarankan kau tetaplah lurus, kau sedang bersama Mentari. Aku hanya takut kalau ini jebakan untuk memancingmu. Setelah aku telusuri, penyerangan mereka memiliki keanehan," cetus Rangga.
"Mereka menyerang secara terbuka, tidak seperti biasanya. Jika mereka benar-benar ingin menghabisi kita. Pasti dia akan bergerak secara tertutup. Apa lagi tujuan utama mereka itu adalah kamar Mentari. Dari sana saja sudah bisa disimpulkan jika mereka menargetkan gadismu itu," ungkap Rangga.
Gieno menyeringai mendengar perkataan Rangga. Iblis gila itu melirik wajah Mentari yang masih nampak begitu kaku dan pucat karena ketakutan. "Mereka pikir semudah itu mengambil sesuatu yang sudah menjadi milikku?" ejek Geino.
"Intinya sekarang kau main aman dulu. Jika kau ingin bertempur, maka kau antar dulu Mentari ke sini. Setelah itu silakan kau kembali ke tempat pertempuran utama," terang Rangga.
"Siapa yang turun?" tanya Gieno.
"Yezo dan Ferry," sahut Rangga.
__ADS_1
Gieno mengangguk pelan. "Kenapa harus berdua, aku rasa Ferry saja bisa memukul mundur mereka," tutur Gieno.
"Yezo katanya sedang ingin mematahkan leher orang," celetuk Rangga.
Girno terkekeh mendengar perkataan Rangga. "Kenapa bocah itu?" cetus Gieno.
"Entahlah, aku pun tidak tahu," balas Rangga.
Sret … brak …
"Aaaa …." Mentari berteriak kala mobil yang ditumpanginya baru saja dihantam mobil lain dari arah kanan. Gadis itu mengeratkan pegangannya pada pegangan mobil dengan wajah semakin kaku.
Sedangkan Gieno saat ini sudah menyeringai iblis melihat beberapa mobil saat ini sudah mengepung mobilnya. "Satu, tiga … lima," gumam Gieno. Laki-laki baru saja mengihitung jumlah mobil yang jelas saja sengaja mengepung mobilnya.
Dor …. Suara tebakan mulai menggema di indera pendengaran Mentari. Gadis itu memejamkan matanya merasa begitu ketakutan. "Dua anggota Zero Beta langsung turun, No. Mereka mengejar dari arah kiri," ucap Rangga.
"Aku hanya perlu lurus?" tanya Gieno.
"Iya, setelah melewati dua kilo meter dari simpang empat. Kau bebas dan bisa lanjut ke sini," jelas Rangga.
"Okey," sahut Gieno. Laki-laki itu menoleh ke samping dan terkekeh melihat Mentari sedang memejamkan matanya dengan wajah kaku.
"Kau bisa membawa mobil?" tanya Girno kepada Mentari.
__ADS_1
Mentari yang merasa Gieno sedang berbicara kepadanya segera membuka mata dan menoleh ke arah laki-laki itu. Gadis itu dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak bisa," sahut Mentari cepat.