Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
129. Jatuh


__ADS_3

Melihat keterdiaman Naraya, Abraham memberi kode kepada Heiki untuk segera mendekat kepada wanita itu. Heiki mulai berjalan mendekat dengan langkah begitu pelan. Satu langkah demi satu langkah membawa tubuh laki-laki paruh baya itu semakin dekat dengan tubuh putrinya.


Heiki benar-benar memanfaatkan keterdiaman Naraya yang sedang melamun. Namun, tepat saat tangan laki-laki itu ingin meraih tangan Naraya. Tubuh Naraya oleng karena terkejut dengan keberadaan Heiki yang sudah berada di dekatnya.


“Aaaa ….” Naraya dan Nairy berteriak bersamaan saat tubuh Naraya oleng dan kaki wanita itu tergelincir.


“Tidak!” teriak Nairy.


Grep …


Heiki berhasil menggapai tangan Naraya. Melihat itu, Nairy dan Abraham mendekat berniat membantu laki-laki paruh baya itu. “Kita butuh bantuan, panggil pengawal, Pa,” ucap Heiki nampak kesulitan.


Tubuh Naraya saat ini sedang bergelantungan di atas gedung tinggi itu. Sekalinya Heiki melepaskan tangannya, maka saat itu juga Naraya akan jatuh ke bawah sana. “Aku tidak membawa ponsel,” ucap Abraham panik.


“Astaga, bagaimana ini? Aku tidak kuat menahannya,” papar Heiki dengan suara tersengal merasakan sakit di bahu kanannya.


“Mas, apa yang harus aku lakukan? Aku bantu, ayo kita tarik bersama-sama,” ucap Nairy panik.


“Pa, aku … takut,” cicit Naraya di bawah sana.

__ADS_1


“Tenanglah, Sayang. Kamu pasti akan baik-baik saja. Ayo kita tarik, Mas,” sahut Nairy.


“Ini tidak segampang itu, jika aku melepaskan sedikit saja pegangan tangan ini, makan Naraya bisa jatuh,” balas Heiki semakin kesulitan.


“Terus harus apa? Aku panggil orang dulu? Pasti lama,” ucap Nairy semakin panik.


“Akhh … aku sudah tidak kuat, tanganku juga sudah berair,” keluh Heiki panik.


“Pa, Ma, apa aku akan benar-benar mati hari ini? Padahal aku belum mendapatkan cintanya Kak Gieno,” lirih Naraya.


“Jangan menyebut nama laki-laki brengsek itu lagi, Naraya. Semua ini terjadi karena dia, jangan membahas dia lagi dalam keadaan seperti ini,” geram Abraham.


“Mas, bertahanlah, Mas. Aku akan memegang bahumu ini, coba tarik putri kita,” isak Nairy.


“Ahh, aku sudah tidak punya kekuatan. Shhh … jangankan untuk mengangkat, aku … akhhh, tidak!”


“Aaaaa ….”


Terlepas sudah, akhirnya pegangan tangan Heiki dan Naraya terlepas. Tiga manusia itu berteriak sambil menatap tubuh Naraya yang sudah melayang bersiap membentur lantai keras di bawah sana. “Tidak … tidak, Naraya!” teriak Nairy histeris.

__ADS_1


Brak …


Deg …


Tubuh tiga manusia itu mematung di tempat saat melihat keadaan tubuh Naraya dari atas. Sangat jelas terlihat tubuh perempuan yang selama ini mereka manjakan sudah bercerai berai di bawah sana. Bahkan nampak beberapa orang yang sempat berjalan di dekat kejadian, mulai menjauh dengan wajah terkejut.


“Tidak, Naraya pasti masih hidup. Dia tidak mungkin meninggalkan aku, iya. Dia masih hidup.” Nairy berucap sambil membalikkan tubuhnya dan berlari cepat ke arah pintu keluar.


Melihat itu, dengan gerakan cepat Heiki ikut menyusul langkah istrinya. “Nairy, jangan terlalu terburu-buru, nanti jatuh,” teriak Heiki.


Abraham masih diam di tempatnya dengan pandangan kosong. Naraya, cucu satu-satunya yang begitu dia sayangi dan dia manjakan sekarang sudah tiada. Tanpa diperjelas pun, dia juga sudah tahu jika Naraya tidak mungkin selamat dari maut saat jatuh dari gedung setinggi itu.


“Ini semua pasti ulah iblis gila itu, dia sudah menghancurkan kehidupanku. Laki-laki brengsek,” desis Abraham.


Tanpa mereka tahu, jika aksi dan tindakan mereka sedari tadi dipantau oleh seseorang melalui layar tablet di tangannya. Gieno, laki-laki itu saat ini sudah menyeringai senang melihat kehancuran keluarga Barka sudah dimulai. “Pembalasanku akan segera datang. Sebenarnya rencana awalku masih ingin bermain-main dengan kalian. Tapi tindakan wanita brengsek itu membuat gadisku harus seperti ini.”


Gieno berucap sambil menatap keadaan Mentari yang saat ini sedang terbaring tidak berdaya di atas ranjang rumah sakit itu. “Melihat keadaan gadisku yang seperti ini, sering sekali membangunkan jiwa iblisku. Selanjutnya, kalian akan segera menemui ajal kalian. Persis dengan cara Papaku menerima ajalnya,” sambung Gieno berdesis.


Memang benar apa yang dikatakan oleh Gieno. Keadaan Mentari yang masih koma dan belum berada dalam keadaan aman. Membuat Gieno sering sekali lepas kendali dan mengamuk. Tidak jarang dalam beberapa hari ini lima inti Zero kewalahan menghadapi sikap Gieno.

__ADS_1


__ADS_2