
"Kak, besok aku ke kantor Kakak lagi, ya," ucap Naraya sengaja ingin memanasi Mentari. Naraya juga ingin menyombong kepada Mentari jika dia sudah dekat dengan Gieno.
Gieno menoleh ke arah Naraya. "Silakan saja," sahut Gieno.
Naraya tersenyum puas sambil melirik Mentari seakan mengejek. Sedangkan Mentari yang melihat itu sudah menahan kesal di hatinya. 'Apa dia sedang memanasiku?' batin Mentari kesal.
"Aku dengar di dekat kantor kamu sekarang sedang buka restoran baru. Bagaimana kalau besok kita ke sana, Kak?" ajak Naraya semakin menjadi.
Mentari yang merasa kesal, memilih sibuk dengan ponselnya sendiri. Gadis itu serasa ingin menggigit tangan Naraya yang sedari tadi bermain di lengan kekar Gieno. 'Lebih baik aku main game saja, membuat kesal,' batin Mentari lagi.
Sedangkan Gieno melirik Mentari yang tampak menahan kesal. Kening laki-laki itu berkerut saat melihat gadis itu sibuk dengan ponselnya. Naraya yang tahu jika pandangan Gieno sedang tertuju kepada Mentari, segera mengambil perhatian laki-laki itu lagi. "Aku dengar perusahaan kamu akan segera meluncurkan produk senjata terbaru dan itu adalah design kamu sendiri. Benar ya?" tanya Naraya.
Gieno melirik Naraya dan mengangguk singkat. "Iya," sahut Gieno singkat.
"Wah, aku dari dulu begitu mengagumi kamu dengan segala keahlian kamu itu. Membuat senjata bukan hanya melihat kegunaannya, tapi juga design yang oke," ucap Naraya memuji Gieno.
"Hihihi." Gieno dan Naraya menoleh ke arah Mentari yang saat ini sedang terkekeh kecil melihat layar ponselnya. Sepertinya gadis itu tidak sadar jika dua pasang mata sedang menatapnya dengan pandangan berbeda.
Jika Naraya memandang Mentari dengan pandangan aneh. Berbeda dengan Gieno yang sudah menatap tajam gadis itu. Tanpa aba-aba Gieno mengambil alih telepon genggam gadis itu sehingga mengejutkan Mentari dan juga Naraya. "Eh …." Mentari menoleh menatap Gieno yang sedang menatap layar ponselnya.
__ADS_1
"Kenapa, Kak?" tanya Mentari.
"Siapa kontak ini?" tanya Gieno datar.
"Itu temanku," balas Mentari meski masih merasa bingung.
Sedangkan Naraya saat ini sudah bisa menebak jika Gieno tengah merasa curiga dan cemburu. "Namanya siapa? Kenapa kau memberi namanya sebagai nomor tiga puluh lima?" tanya Gieno tidak sabar.
Mentari menggaruk kepala belakangnnya bingung harus menjawab seperti apa. "Namanya Abel," sahut Mentari pelan.
Kening Gieno berkerut mendengar jawaban Mentari. "Perempuan atau laki-laki? Terus kenapa kau memberi namanya itu?" tanya Gieno beruntun.
Sedangkan Gieno nampak tidak peduli dengan jawaban diujung kalimat Mentari saat gadis itu menjawab jika Abel adalah perempuan. "Jangan bermain saat bersamaku," papar Gieno.
"Kakak kan sedang berbicara bersama dia." Mentari mengerucutkan bibirnya merasa kesal sendiri.
Gieno yang melihat itu jelas saja merasa semakin gemas. Laki-laki itu menggeram tertahan. 'Jika bukan di sini, sudah aku gigit kau,' batin Gieno gemas.
"Permisi, Tuan dan Nyonya." Kedatangan seorang pelayan mengalihkan perhatian tiga manusia itu. Naraya yang sedari tadi menahan kesal akhirnya mendengus.
__ADS_1
"Maaf, Mas. Panggil aku Mentari saja, masalahnya aku masih begitu kecil. Umurku masih … hmmp."
Kalimat Mentari terpotong saat dengan tiba-tiba Gieno berdiri dan menutup mulut Mentari. Mentari mengedipkan matanya bingung dengan aksi tiba-tiba Gienom. Sedangkan Naraya sudah semakin merasa kesal dengan kejadian itu. 'Kenapa Kak Gieno seperti begitu cemburu kepada gadis ini? Padahal lebih cantik aku,' batin Naraya kesal.
Sedangkan pelayan laki-laki itu hanya bisa diam dengan wajah kaku menahan takut. "Tidak usah banyak bicara, makan saja." Gieno mengambil satu potong kentang goreng dan memasukkannya ke dalam mulut Mentari.
Mentari diam dengan wajah bingungnya menatap Gieno tidak mengerti. Sedangkan mulut gadis itu mulai mengunyah kentang goreng yang baru saja disuapi Gieno itu. 'Enak juga.' Mentari membatin sambil menatap kentang goreng milik Gieno dengan pandangan berbinar.
Sedangkan Gieno yang mengerti jika Mentari nampak tertarik dengan kentang goreng itu, mengulurkan piring itu. "Makan," ucap Gieno datar.
Mata Mentari berbinar menatap Gieno sambil tersenyum tipis. "Untuk aku?" tanya Mentari kepada Gieno.
"Hem," deham Gieno.
"Wah, tapi … Kakak makan apa?" tanya Mentari lagi.
"Makan saja," ucap Gieno.
Rasa kesal Naraya yang sedari tadi sudah begitu menumpuk membuat wanita itu memikirkan rencana licik. Naraya tersenyum penuh arti saat melihat gelas berisi minuman berwarna kuning. 'Aku harus menggertaknya,' batin Naraya licik.
__ADS_1