Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
76. Berkurang


__ADS_3

Mentari masih diam di tempatnya dengan posisi yang hampir sama. Gadis itu masih tidur di bawah selimut dengan handuk membalut tubuhnya. Di samping gadis itu ada Gieno yang nampak sedang sibuk dengan telepon genggamnya. Beberapa menit setelah Gieno mencium keningnya, laki-laki itu ikut merebahkan tubuhnya di samping mentari sampai saat ini.


Mentari hanya diam tanpa melakukan apapun, sedangkan Gieno masih nampak begitu sibuk dengan benda pintar itu. Entah apa yang dilakukan pemimpin gangster itu. Merasa bosan dengan suasana yang begitu sunyi, Mentari memilih memejamkan matanya untuk tertidur. Tubuhnya terasa begitu lelah setelah seharian ini berputar di area Mall untuk mencari buku.


Sedangkan Gieno yang sedari tadi sibuk dengan telepon genggamnya, menoleh saat tidak merasakan pergerakan Mentari. Mata tajam laki-laki itu menangkap wajah polos gadis manis di sampingnya. Iblis gila itu meletakkan telepon genggamnya di atas meja di samping ranjang. Setelahnya Gieno mendekat ke arah Mentari dan ikut masuk ke dalam selimut.


Tring … Tring … Tring …


Gieno mengumpat kecil saat telepon genggam itu mengganggu aksinya. Baru saja laki-laki itu akan memeluk tubuh Mentari, tetapi terhenti karena dering ponsel itu. "Siapa yang menggangguku?" decak Gieno kesal.


Gieno menatap malas nama Yezo yang terpampang di layar ponselnya. Dengan keadaan malas laki-laki itu mengangkat sambungan telepon itu. "Apa?" ketus Gieno.


Terdengar gelak tawa di seberang telepon genggam Gieno. Bisa laki-laki itu tebak bukan hanya Yezo yang sedang berada di sana, tetapi para inti Zero lainnya. "Ingat kalian belum muhrim," celetuk Yezo menyindir Gieno.

__ADS_1


"Bangsat! Matikan cctv-nya jika kalian masih ingin punya mata," desis Gieno. Gieno kembali mendengar suara gelak tawa di seberang telepon. Merasa malas harus menanggapi lima inti Zero, Gieno langsung mematikan sambungan telepon itu begitu saja.


"Ck, mengganggu saja," gerutu Gieno kesal.


Saat Gieno kembali akan memeluk tubuh Mentari, tetapi kembali terurungkan saat laki-laki itu mengingat sesuatu. Gieno kembali mengambil telepon genggamnya dan melirik jam di layar ponsel itu. Setelahnya laki-laki itu kembali melirik wajah polos Mentari yang nampak sedang begitu nyaman tertidur. "Dia belum makan," gumam Gieno.


Gieno menggerakkan tangan kekarnya di atas rambut Mentari. Secara perlahan laki-laki itu mengusap rambut halus milik Mentari. Beberapa detik laki-laki itu terus memandangi wajah polos Mentari saat tertidur. Entah apa, yang pasti pikiran dan jiwa laki-laki itu terasa lebih tenang dan nyaman saat berada di samping gadis itu.


"Mentari," bisik Gieno begitu pelan.


Kalimat Rangga selalu sukses mencuri tempat di dalam pikirannya. 'Apa benar yang dikatakan Rangga?' batin Gieno.


Flashback On.

__ADS_1


Gieno mengisap rokoknya dan menghembuskan asap rokok itu dari mulut dan hidungnya secara pelan. Yezo menoleh ke arah Gieno yang nampak sesekali menatap layar ponselnya. "Aku lihat kau sudah jarang bergelut sekarang," tutur Gieno.


Lima pasang mata menoleh ke arah Yezo yang baru saja bersuara. Kening Gieno berkerut saat Yezo sedang menatapnya. "Kau berbicara kepadaku?" tanya Gieno.


Yezo mengangguk pelan menanggapi pertanyaan Gieno. "Iya, aku lihat kau sudah sangat jarang melakukan pergelutan dengan wanita. Ada hal apa?" ulang Yezo.


Empat laki-laki lainnya mengangguk pelan pertanda setuju dengan kalimat Yezo. "Iya aku juga penasaran apa yang membuatmu sudah mengurangi jadwal pergelutan itu. Apa kau terlalu sibuk? Aku rasa tidak," tambah Patrik.


Gieno terdiam mendengar kalimat para sahabatnya. Jujur saja laki-laki itu sebenarnya juga bingung dengan keadaan dirinya sekarang ini. Gieno menghela napas pelan sebelum berbicara. "Entahlah, aku pun bingung dengan diriku saat ini. Memang nafsuku saja yang sepertinya, akhir-akhir ini mulai berkurang. Aku juga tidak tahu apa penyebabnya," terang Gieno.


Kening para sahabat Gieno berkerut merasa ikut bingung dengan jawaban laki-laki itu. Sedangkan Rangga nampak menatap Gieno dengan pandangan begitu serius. "Aku rasa nafsumu berkurang karena kau memiliki gadis kurungan sekarang. Apa setiap kali kau ingin bercinta, pikiranmu malah tertuju kepada gadis itu?" cetus Rangga.


Gieno terdiam mendengar kalimat Rangga. "Ya," sahut Gieno singkat dan begitu pelan nampak ragu.

__ADS_1


'Berarti itu adalah pengaruh baik dari gadis itu untukmu, aku harap ada perubahan yang lebih besar lagi,' batin Rangga.


Flashback Off.


__ADS_2