Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
47. Parasit Negara


__ADS_3

Iraya mengangguk kecil, berdekatan dengan Gieno sungguh membuatnya gugup dan salah tingkah. Dapat melihat wajah Gieno dari jarak sedekat itu sudah menjadi sebuah keberuntungan baginya. 'Astaga, tampan sekali,' batin Iraya.


Sedangkan Gieno yang melihat tatapan mendamba dari wanita itu sudah tersenyum sinis. Tanpa menyentuh tubuh wanita itu sedikit pun, Gieno mundur sehingga membuat Iraya bingung. "Wanita sepertimu, tidak laku bagi pedangku. Padahal kau sedang bertelanjang seperti ini, tapi … dia tetap tidak bangun. Lubangmu terlalu kotor untuknya," hina Gieno.


Mendengar perkataan itu, Iraya sangat terkejut. Wanita itu menatap Gieno dengan wajah menahan kesal. Ingin marah pun, jelas dia tidak akan berani. Sedangkan Tanuta, masih diam ditempatnya dengan wajah pucat. Gieno sekarang sudah berdiri tepat di depan laki-laki paruh baya itu. "Kenapa kau diam?" celetuk Gieno.


"Ada apa Tuan De Larga berkunjung ke mansionku dengan cara seperti ini. Padahal jika Tuan datang dengan cara baik-baik, aku akan merasa sangat terhormat," tutur Tanuta gugup.


Gieno tersenyum miring. "Aku tidak suka dengan kebaikan, kau tahu aku bukan? Gosip tentang aku itu, bukanlah main-main," papar Gieno.

__ADS_1


"Aku tidak merasa memiliki masalah dengan Zero, atau pun dengan Anda, Tuan," balas Tanuta.


Gieno mengangguk pelan, laki-laki dingin itu mengelilingi tubuh Tanuta yang masih saja diam. "Kau memang tidak ada masalah dengan Zero atau pun aku. Karena aku tahu, kau pasti tidak berani, iya kan?" ejek Gieno.


Tanuta diam, tangannya mengepal erat mencoba menahan amarah dan takut yang bercampur menjadi satu. Dia masih waras dengan tidak ingin menyinggung iblis gila dihadapannya ini. "Tapi satu hal yang perlu aku ingatkan. Zero adalah perkumpulan legal di mata hukum dan negara. Apa kau ada mendengar, jika aparat negara sering meminta bantuan kepada Zero untuk membersihkan pejabat negara yang tidak tersentuh oleh hukum?"


Glek …. Tanuta menelan salivanya susah payah. "Aku pejabat negara yang melakukan tugas sesuai UU, tidak melakukan tindakan melenceng apa pun," kata Tanuta mencoba membela dirinya sendiri.


Gieno tertawa keras mendengar perkataan Tanuta. Setelahnya iblis gila itu menatap tajam laki-laki paruh baya itu. "Tidak melakukan tindakan melenceng apa pun? Dan melakukan tuga sesuai UU?" papar Gieno.

__ADS_1


"Apa korupsi dan penggelapan dana bantuan dan proyek adalah hal yang tertulis di dalam. UU? Bolehkah aku melihat point itu di dalam UU?" sambung Gieno mengejek.


Tanuta terdiam, tidak mampu menyahut perkataan Gieno. "Meski aku dijuluki iblis gila, tapi … aku tidak pernah menyukai orang yang suka memakan hak orang lain. Apa lagi hak rakyat biasa, orang sepertimu memang layak untuk dileyapkan dari muka bumi ini. Kau hanya menjadi sampah masyarakat dan parasit negara," desis Gieno.


Tanuta mulai begetar saat Gieno berdesis tajam di dekatnya. Kaki gemetar itu mencoba untuk kabur dari sana. Namun, baru beberapa langkah, dirinya sudah dihadang oleh puluhan anggota Zero. "Ingin kabur? Silakan, jika kau bisa," bisik Gieno tepat di belakang telinga Tanuta.


Sedangkan Tanuta, sudah bergetar ketakutan. "Siapa yang berani memberi perintah kepadamu? Aku adalah pejabat penting di negara ini, akan aku habisi orang itu" teriak Tanuta hilang akal.


"Ya, silakan. Kau cari saja dia di neraka besok," sahut Gieno santai. "Dan untukmu, Nona. Kau bisa bersenang-senang seperti biasa. Aku akan mengirimmu ke markas Zero, di sana banyak sekali jantan lapar." Gieno menyambung kalimatnya sambil menatap Iraya yang nampak juga ketakutan di sudut meja.

__ADS_1


__ADS_2