
Gieno yang sedang menyetir mobilnya memicing kala melihat seorang wanita sedang melambai-lambaikan tangannya di tepi jalanan. Saat melihat wajah wanita itu, Gieno tersenyum miring. "Suatu kebetulan yang pas sekali," tutur Gieno.
Laki-laki itu menepikan mobilnya di samping wanita itu. Tok … tok …. Si wanita mengetuk-ngetuk pintu mobil Gieno. Laki-laki itu menekan tombol buka untuk kaca mobil itu. Saat saling bertatapan, sangat terlihat raut terkejut di wajah wanita itu. Setelahnya Gieno dapat menangkap raut bahagia di warna muka wanita itu.
"Tuan De Larga, aku tidak menyangka itu kamu." Naraya tersenyum manis ke arah Gieno. Senyum yang mampu membuat laki-laki tergila-gila kepadanya. Namun, entah kenapa itu tidak berlaku untuk sang iblis gila ini.
"Mobil aku tiba-tiba mati begitu pula dengan ponselku, aku hampir pingsan karena ketakutan. Di sini jalanan sepi, untung Anda lewat. Padahal saya di sini sudah hampir satu jam. Bolehkah saya minta tolong?" sambung Naraya.
Gieno melirik singkat ke arah mobil yang terdiam di tepi jalanan. Setelahnya laki-laki itu melirik jam di mobilnya, hari sudah menunjukkan jam setengah sebelas malam. Gieno yakin, pasti keluarga wanita ini sudah sangat khawatir saat ini. Gieno tersenyum miring. "Saya tidak punya banyak waktu untuk memperbaiki mobilmu, naiklah," ucap Gieno dengan nada datarnya.
Mata Naraya membola kesenangan. Tanpa bertanya lagi, wanita itu segera masuk ke dalam mobil Gieno. 'Kalau tahu akan bertemu dengannya seperti ini, aku tidak masalah menunggu hampir satu jam tadi. Ah … maafkan aku yang sempat mengumpatimu mobil,' batin Naraya senang.
"Di mana rumahmu?" tanya Gieno berpura-pura tidak tahu.
__ADS_1
Naraya menoleh dengan kening berkerut. 'Dia tidak ingat aku?' batin Naraya.
"Saya keturunan keluarga Barka, jadi Anda bisa mengantarkan saya ke kediaman utama Barka," sahut Naraya.
Gieno tersenyum miring. 'Kira-kira bagaimana tanggapan dua laki-laki itu nanti?' batin Gieno.
"Ekhm … saya adalah pengagum Anda, Tuan. Saya sangat senang bisa bertemu dengan Anda di sini. Bolehkah kita berkenalan lebih dekat lagi? Saya waktu itu sudah menemui Anda, apa Anda melupakan itu?" tutur Naraya.
"Ada banyak wanita yang bersama saya setiap harinya, dan saya tidak mengingat satu pun dari mereka," ucap Gieno datar. 'Kecuali satu wanita, di mansionku,' sambung Gieno di dalam hati.
'Aku tidak akan pernah lupa, semua tentang keluargamu, akan aku kenang bahkan sampai ke neraka,' batin Gieno. Tanpa sadar laki-laki itu mencengkram setir mobil begitu kuat.
Sedangkan Naraya yang melihat Gieno hanya diam tanpa mengulas perkataannya merasa bingung sendiri. 'Dia terlalu dingin, cukup susah juga. Padahal selama ini setiap laki-laki yang melihat wajahku, pasti akan berakhir bertekuk lutut. Tuan De Larga ini memang berbeda, ini malah semakin membuat aku menginginkannya,' ucap Naraya di dalam hati.
__ADS_1
"Anda mengatakan tidak ingat satu wanita pun, jadi … Anda tidak memiliki kekasih, Tuan?" pancing Naraya.
"Tidak," sahut Gieno singkat.
Naraya tersenyum senang mendengar jawaban dari laki-laki di sampingnya. Wanita itu terus mencoba mengajak Gieno berbicara, meski laki-laki itu hanya membalas singkat, bahkan kadang tidak dijawab. Sehingga saat mobil milik Gieno memasuki area kediaman Barka, laki-laki itu tersenyum miring melihat tiga manusia sedang berdiri dengan wajah khawatir.
"Ya ampun, mereka pasti sudah sangat khawatir," tutur Naraya.
Setelah mobil berhenti, Naraya keluar dari mobil sehingga membuat tiga manusia itu bergerak cepat ke arahnya. "Sayang, kamu ke mana saja? Mama khawatir, kenapa tidak ada kabar?" tanya Nayry khawatir.
"Maaf, Ma. Mobil aku tiba-tiba mati di tengah jalan, lebih sial lagi ponselku juga ikut mati. Jalanan sangat sepi, untung aku bertemu dengan Tuan De Larga. Dia mengantarku pulang," jelas Naraya.
Tiga pasang mata itu melotot terkejut saat mendengar nama orang yang dilontarkan Naraya. "Tuan De Larga, apa Anda tidak akan masuk dulu?" tawar Naraya.
__ADS_1
Gieno membuka kaca mobilnya dan tersenyum miring ke arah dua laki-laki yang sudah memucat melihat keberadaannya. "Tidak, saya langsung pulang. Malam Tuan Besar dan Tuan Muda Barka." Gieno kembali tersenyum miring menyapa Abraham dan Heiki yang masih terdiam.
"Terima kasih, Tuan." Naraya berteriak saat melihat mobil milik Gieno pergi menjauh dari kawasan Barka.