
Mentari tersenyum mendengar kalimat Gieno. Gadis itu berdiri dan memegang tangan Gieno. Merasa Gieno tidak bergerak, Mentari mendongak dan melihat wajah Gieno nampak memerah. "Kenapa, Kak?" tanya Mentari.
Gieno menghela napas panjang sebelum menyahut kalimat Mentari. "Tunggu bajumu dulu, kau tidak bisa keluar dari sini dengan penampilan seperti itu. Di sini isinya laki-laki semua, kau ingin memancing para buaya lapar?" cetus Gieno datar.
Mentari menunduk menatap penampilan yang dimaksud Gieno. "Kenapa memangnya, Kak? Aku kan pakai baju, bukan telanjang," celetuk Mentari polos.
'Sh**,' batin Gieno mengumpat. 'Kau memang tidak bertelanjang, tapi ini mungkin lebih menggoda mata laki-laki,' sambung Gieno membatin.
Penampilan Mentari memang tidak feminim, sebab gadis itu tidak memakai gaun atau pun dress. Namun, Mentari sedang memakai kaos polos Gieno yang begitu besar saat dipakai oleh gadis itu. Kaos polos milik Gieno berhenti tepat dipertengahan paha putih Mentari. Jelas saja hal itu membuat gadis itu terlihat lebih imut dan menggoda iman.
"Sudah, intinya tunggu saja dulu. Ayo duduk." Gieno menarik tangan Mentari dan membawa tubuh gadis itu ke atas ranjang.
"Sambil menunggu, kau berbaringlah. Aku temani sampai pakaianmu sampai," tutur Gieno.
Mentari tidak membantah, gadis itu menurut dengan naik ke atas ranjang dan berbaring di sana. Gieno dengan cepat menarik selimut di atas ranjang itu dan menutupi paha Mentari. "Pejamkan matamu," titah Gieno lagi.
Mentari kembali tidak bersuara, gadis itu tanpa membantah langsung menutup matanya. Sedangkan Gieno sudah tersenyum tipis melihat kepatuhan Mentari. 'Mungkin karena ini kau lebih menarik, begitu patuh,' batin Gieno.
__ADS_1
...*****...
"Kau jangan ke mana-mana, tetap di sini dan jangan keluar," ucap Heiki.
"Bagaimana dengan keluargaku?" tanya Damar.
"Kau tenang saja, aku akan jamin keperluan keluargamu selagi kau masih di sini," balas Heiki.
"Kalau iblis gila itu menyentuh keluargaku bagaimana?" tanya Damar khawatir.
"Sudahlah, kau tidak usah khawatir. Aku sedang berusaha membantumu di sini. Jadi kau diam dan ikuti saja perkataanku," papar Heiki.
"Iya, aku pergi." Setelah mengucapkan itu, Heiki pergi dari sana meninggalkan Damar seorang diri.
"Kalian tetap bersiaga dan bersiap dengan segala kemungkinan," titah Heiki kepada para penjaga di luar rumah kecil itu.
"Baik, Tuan," sahut mereka serentak. Dalam kegelapan malam itu, Heiki berjalan ke arah mobil diikuti oleh pengawal pribadi yang disewanya. Sudah beberapa hari ini, laki-laki paruh baya itu selalu diikuti oleh para pengawal. Begitu pula dengan keluarga Barka lainhya. Hanya saja, Naraya dijaga secara diam-diam.
__ADS_1
...*****...
"Sudah mulai?" Suara Gieno mengalihkan perhatian tiga laki-laki yang berada di ruangan utama itu.
"Mana gadismu?" tanya Petrik.
"Tidur," sahut Gieno.
"Nanti kalau dia bangun bagaimana?" tanya Rangga.
"Aku sudah menyuruh dua anggota berjaga di depan pintu kamar. Masih berlangsung?" balas Gieno sambil bertanya di ujung kalimatnya.
"Masih, kau ingin pergi?" sahut Rangga.
"Iya, kalau begitu aku pergi dulu." Setelah mengucapkan itu, Gieno pergi dari sana. Iblis gila itu sudah merasa tidak sabar sedari tadi ingin segera ikut ke dalam pertempuran.
Gieno memasuki mobilnya dan mulai menyetir mobil itu dengan kecepatan gila, sama seperti orangnya. Kegilaan Gieno dalam membawa mobil dijalanan padat kota itu, memancing umpatan para pengendara lainnya. Namun, sebagai seorang iblis gila, Gieno tentu saja tidak menghiraukan itu semua.
__ADS_1
Brum … Ckitt …
Gieno membanting setir mobil saat sebuah mobil tanpa aba-aba menyalip lajunya. "Bangsat!" umpat Gieno.