
“Apa kau ingin sebuah video supaya lebih jelas?” papar Heiki.
Naraya terkejut saat mendengar kalimat itu. Air muka Heiki sama sekali tidak bercanda saat ini. Jelas saja karena keadaan di dalam ruangan utaman Barka itu sedang sangat tegang.
Ting …
Sebuah notifikasi masuk ke telepon genggam Naraya. Wanita itu menoleh dan menatap ke arah Heiki yang nampak begitu marah. Merasa hal itu sudah tidak bisa dianggap remeh, Naraya segera membuka dan memutar video yang dikirimkan Heiki.
Secara perlahan video itu mulai terputar. Naraya terus menggelengkan kepalanya saat melihat setiap wajah orang yang ada di dalam video itu. Bahkan wanita itu sampai menutup mulutnya. Apa yang dikatakan oleh Heiki memang benar. Jelas sekali di dalam video itu Naraya digilir bahkan kadang diajak bermain oleh dia laki-laki sekaligus.
“Apa sekarang? Masih ingin mengatakan jika itu editan, iya?” murka Heiki.
Naraya tidak menyahut, wanita itu malah membatin dengan gejolak rasa sakit di dalam hatinya. ‘Jadi aku digilir? Pantas saja rasanya begitu sakit, bahkan sampai punyaku robek. Apa maksud semua ini?’ batin Naraya.
“Kenapa kau begitu bodoh, Naraya? Kenapa?” geram Abraham.
Bukannya menyahut, Naraya malah memutar tubuhnya dan berlari ke arah pintu utama kediaman Barka. “Naraya! Naraya! Ingin kemana kamu!” teriak Heiki.
“Mas, kejar dia, Mas! Bagaimana kalau dia nekat menemui Gieno. Bisa-bisa laki-laki itu menyakiti anak kita,” ucap Nairy cemas.
“Akan aku usahakan menghambat jalannya. Dia benar-benar udah bodoh,” geram Heiki.
...*****...
“Kak, kenapa kalau kita makan ini harus tunggu dingin dulu? Aku kan tidak sabar,” tutur Mentari.
__ADS_1
Gieno terkekeh kecil mendengar kalimat Mentari. “Nanti kalau kamu makan saat ini masih panas. Lidah kamu itu bisa melepuh, memangnya kamu mau kalau seperti itu?” balas Gieno.
Mentari menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan Gieno. “Rasanya tidak enak, akau pernah waktu itu tidak sengaja minum kopi yang masih panas. Tidak enak rasanya,” sahut Mentari.
“Nah itu kamu tahu. Sudahlah, tunggu saja dulu. Kalau sudah terlalu lapar, kamu makan ini saja.” Gieno mengambilkan sebuah roti selai dan memberikannya kepada Mentari.
Gadis itu saat ini sedang berada di atas pangkuan Gieno. Gieno memeluk tubuh Mentari yang begitu pas di dalam pelukannya. Posisi itu saat ini begitu menjadi candu bagi iblis gila itu.
“Lepaskan aku! Aku ingin bertemu dengan Kak Gieno.”
Perhatian sepasang insan yang sedang berpelukan itu teralihkan saat mendengar suara keributan. Mata tajam Gieno menatap dingin Naraya yang nampak menatap Mentari dengan pandangan benci. Naraya merasa begitu marah saat melihat kemesraan dua manusia di depannya itu.
“Maaf, Ketua. Kami tertipu, dia me ….”
“Kalian kembalilah,” sela Gieno.
Deg …
Mentari terkejut saat mendengar kalimat Naraya. Gieno menyadari hal itu, sebab laki-laki itu juga merasakan tubuh Mentari terkesiap. Gieno menoleh saat merasakan jika Mentari sedang menoleh dan menatapnya.
Laki-laki itu tersenyum tipis ke arah Mentari yang nampak terdiam. “Kamu ke kamar dulu, ya. Aku ingin berbicara sebentar dengannya,” ucap Gieno.
Tanpa banyak kata, Mentari turun dari atas pangkuan Gieno dan pergi begitu saja dari sana. Gieno menatap kepergian Mentari dengan wajah bingung. Sebab tidak biasanya gadis itu terlihat sangat cuek kepadanya. ‘Apa dia marah?’ batin Gieno.
“Aku butuh penjelasan.” Suara Naraya mengalihkan perhatian Gieno.
__ADS_1
“Ikut aku.” Tanpa banyak bicara, Gieno berdiri dan berjalan ke arah sebuah kamar.
Naraya mengikuti langkah kaki Gieno, tetapi sudut mata wanita itu menangkap keberadaan Mentari yang ternyata sedang mengintip mereka. Naraya tersenyum miring kemudia mendekat ke arah gadis itu. “Hai, kita bertemu lagi. Tapi aku tidak ingin basa-basi karena aku takut kalau Kak Gieno sudah menungguku. Kami tadi malam sudah melalui malam panas. Ini, kau bisa lihat satu foto ini. Ah iya, ternyata Kak Gieno belum puas. Dia mengingikan aku lagi, ini aku akan segera ke sana. Dia mengajakku masuk ke kamar tamu,” ucap Naraya memprofokasi Mentari.
Mentari menatap satu lembar foto yang diberikan Naraya kepadanya. Satu tetes air mata mengalir di pipi gadis itu. “Ternyata dia masih melakukan itu dengan wanita lain. Kenapa ini begitu sakit?”
Mentari menangis sambil memegang dadanya yang terasa begitu sakit. “Aku tidak kuat,” isak Mentari.
.
.
.
Tok … Tok … Tok …
Gieno menggeram marah saat mendengar suara pintu kamar tamu itu diketuk kasar dari luar. Laki-laki itu berjalan marah dan membuka pintu itu tidak kalah kasar. Gieno menatap tajam kepala pelayan yang nampak bergerak gelisah di depan pintu itu.
“Apa yang kau lakukan? Kau sudah bosan hidup?” desis Gieno.
“Maafkan saya, Tuan. Ta-tapi Nona Mentari ….”
“Ada apa?” sela Gieno cepat.
“Nona Mentari ada di rooftop, Tuan. Nona Mentari ingin bunuh diri.”
__ADS_1
“Apa?”