Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
73. Tidak Memiliki Kekasih


__ADS_3

Naraya melotot saat melihat aksi Gieno untuk Mentari. Rasa kesal dan iri wanita itu semakin menjadi. Naraya menatap mentari dengan pandangan begitu benci. Hari juga menatap Naraya dengan pandangan kesal. "Dia malah lebih gila, dia menarik rambut ku sampai banyak yang rontok. Aku tidak terima, aku selalu merawat seluruh tubuhku termasuk rambutku," protes Naraya.


"Aku tidak akan menarik rambutmu, kalau kamu tidak seperti orang gila dengan menyiram aku. Lihatlah bajuku menjadi basah seperti ini, bahkan sampai pakaian dalamku menerawang keluar," balas Mentari polos.


Mata Gieno melotot saat mendengar kalimat polos yang keluar dari mulut Mentari. Gieno mengedarkan pandangannya ke sekitar dan menatap tajam beberapa orang terutama laki-laki yang masih menatap ke arah Mentari. "Itu karena aku sudah berusaha untuk meminta maaf tapi kau malah tidak menerima maafku titik aku pantang sekali jika sudah meminta maaf, malah tidak dianggap oleh orang lain," papar Naraya berbohong.


Kening Mentari berkerut saat mendengar perkataan Naraya. "Kapan kau mengucapkan maaf kepadaku? Saat kau baru datang saja kau sudah berbicara tidak sopan kepadaku. Kau bahkan mengaku sendiri kalau kau sengaja menyiramkan minuman ke bajuku," pungkas Mentari bingung.


Mata Naraya membola mendengar perkataan mentari. "Kau jangan mengada-ngada," balas Naraya.


"Aku tidak mengada-ngada, sudahlah ... aku tidak ingin berurusan denganmu. Aku ingin makan di mansion saja." Mentari menoleh ke arah Gieno yang sedari tadi terdiam mendengar perdebatan dua wanita didekatnya itu.


"Mana bisa begitu? Kalau kau ingin pulang ya pulang saja. Tidak usah membawa Kak Gieno untuk ikut pulang denganmu. Kak Gieno bahkan belum makan, dia pasti sudah lapar," protes Naraya.


Mentari menoleh ke arah Gieno, saat mendengar perkataan Naraya mungkin saja benar. "Ya sudah, kalau begitu aku pulang duluan ya, Kak. Aku sudah dingin," ucap Mentari meminta izin.

__ADS_1


Gino menatap mentari dengan pandangan datarnya. "Tidak, ayo pulang bersama aku. Biar kau yang aku makan nanti di mansion." Gieno dengan tiba-tiba mengangkat tubuh Mentari tanpa aba-aba.


Naraya yang melihat itu jelas saja terkejut dan menatap mereka dengan pandangan protes. "Terus aku bagaimana? Masa aku tinggal sendiri di sini?" protes Naraya kesal.


Gieno yang mendengar suara Naraya menoleh singkat. "Semuanya kan sudah dipesan, silakan kau makan saja titik tenang saja, sudah aku bayar."


Naraya ternganga melihat Gieno pergi begitu saja setelah mengucapkan kalimat itu. Wanita itu menghentakkan kakinya merasa begitu kesal dan marah dengan kejadian itu. "Tidak akan aku biarkan, dilihat dari manapun aku lebih dari segalanya daripada wanita itu, kenapa Kak Gieno malah memilih wanita seperti itu?" gerutu Naraya.


.


.


.


Secara perlahan Gieno meletakkan tubuh Mentari di kursi di sebelah pengemudi. Setelahnya laki-laki itu memutari mobil untuk masuk dan duduk di kursi pengemudi. Mentari melirik singkat ke arah Gieno yang nampak mulai fokus dengan jalanan kota. 'Perutku sangat lapar, bagaimana aku mengatakannya kepada Kak Gieno, ya?' batin Mentari bingung.

__ADS_1


"Kau ingin makan apa?" Suara berat Gieno mengejutkan Mentari yang sedang berada di alam lamunannya.


Gadis itu menoleh menatap wajah Gieno yang masih fokus menjalankan mobil. "Aku terserah saja," sahut Mentari.


"Bukannya kau ingin nasi goreng seafood?"


"Ah, iya. Sayang sekali nasi gorengku tadi belum aku sentuh sama sekali. Kentang goreng tadi juga sangat enak," celoteh Mentari.


"Besok kalau bertemu dengan Naraya lagi, kau lawan saja dia. Jangan mau kalah, sebagai gadisku kau harus berani," peringat Gieno.


Mentari terkejut mendengar perkataan Gieno. "Bukannya dia kekasih kamu, kak?" tanya Mentari bingung.


Gieno tersenyum miring mendengar pertanyaan mentari. "Aku tidak memiliki kekasih," sahut Gieno datar.


Mentari terkejut mendengar perkataan Gieno, gadis itu baru menyadari bagaimana sifat Gieno yang sebenarnya. Bukan lagi hal rahasia, seorang iblis gila seperti Gieno memiliki satu perempuan di dalam hidupnya. 'Yah, aku melupakan hal penting itu. Sama seperti aku saat ini, tidak jelas status di dalam kehidupan Kak Gieno. Entah akan sampai kapan terus seperti ini?' batin Mentari sendu.

__ADS_1


__ADS_2