
Gieno menatap datar Naraya yang sedang berdiri di kursi tunggu perusahaan miliknya. 'Bagus,' batin Gieno licik.
Naraya yang melihat kedatangan Gieno berjalan mendekat ke arah laki-laki tampan itu. Gieno masih berjalan dengan wajah datarnya seakan tidak melihat keberadaan gadis itu. "Permisi," sapa Naraya.
Gieno menoleh dan menatap Naraya dengan wajah dingin seperti biasa. 'Ya ampun, kenapa begitu tampan?' batin Naraya terpesona.
Gieno yang melihat Naraya hanya diam dengan mulut ternganga memutar bola matanya kesal. Laki-laki itu kembali melanjutkan langkahnya. Naraya yang tersadar dari keterpesonaannya segera mengejar langkah lebar Gieno. "Maaf, Kak. Boleh kita berkenalan?" ucap Naraya berani.
Gieno melirik Naraya sekilas kemudian tersenyum miring. "Apa yang kau punya untuk berkenalan denganku?" tutur Gieno dingin.
Naraya terdiam beberapa saat. "Aku cantik, di mana pun aku berada, aku pasti mendapat julukan sebagai wanita tercantik. Termasuk di kampusku saat ini," balas Naraya percaya diri.
Gieno menatap menilai Naraya dari atas hingga ke bawah. Laki-laki itu akui apa yang dikatakan oleh Naraya adalah benar. Naraya adalah gadis cantik dengan tubuh ideal para wanita. Gieno tersenyum miring. 'Aku tahu, wanita sepertinya lebih cocok sebagai pemuas ranjangku,' batin Gieno.
__ADS_1
"Hanya itu?" tanya Gieno.
Naraya menatap wajah Gieno bingung. "Terus apa lagi? Bukankah sebagai laki-laki akan menilai seorang wanita dari wajahnya? Aku tahu kau pasti juga begitu," papar Naraya.
Gieno mengangguk kecil. "Tentu, tapi ada satu hal lagi jika kau ingin membuat aku tertarik kepadamu," sahut Gieno.
"Apa?" tanya Naraya penasaran.
Gieno mendekatkan wajahnya tepat ke arah Naraya sehingga membuat gadis itu memerah salah tingkah. "Kenikmatan," bisik Gieno. Laki-laki itu dengan sengaja menyentuh daun telingan Naraya dengan bibirnya.
"Ah, terserahlah. Aku cantik, selama ini laki-laki selalu bertekuk lutut di depanku. Kalau dia bersedia denganku, aku akan membuatnya tidak mampu jauh dariku," sambung Naraya percaya diri.
...*****...
__ADS_1
Abraham melotot terkejut saat melihat keberadaan Gieno di depannya. Laki-laki tua itu menatap was-was ke arah Gieno yang terus berjalan mendekat ke arahnya. "Apa yang kau lakukan di kantorku? Aku bisa menelepon orang-orangku untuk segera menghabisimu," ucap Abraham takut.
Gieno tertawa remeh. "Orang-orang? Boleh juga, silakan panggil. Aku beri kau waktu untuk menghubunginya. Kurang baik apa lagi aku?" ucap Gieno santai.
Abraham yang dilanda ketakutan bergegas mendekat ke arah telepon kantornya. Abraham sesekali menatap was-was ke arah Gieno yang sedang duduk santai di atas sofa tamu ruangan kerja Abraham. "Cepat ke sini, bawa sebanyaknya orang."
Gieno menatap Abraham yang mulai bergetar ketakutan. "Kenapa ruangan ini masih kau yang menghuninya? Apa anak laki-lakimu itu masih belum sanggup menopangnya sendiri?" tutur Gieno remeh.
"Tidak usah ingin tahu, kau bukan siapa-siapa," sahut Abraham di dalam rasa takutnya.
"Aku tahu, semenjak itu aku juga sudah tidak menganggap kalian siapa-siapa. Dengan begitu aku menjadi lebih leluasa untuk balas dendam. Tanpa adanya halangan kata keluarga," papar Gieno.
"Aku sarankan kau lebih baik segera pergi dari sini jika kau masih ingin hidup. Orang-orangku akan segera datang," kata Abraham.
__ADS_1
"Apa kau belum kenal dengan aku? Maksudku, apa selama satu bulan ini kau tidak melihat berita? Bagaimana ganasnya pemimpin Zero, bahkan sampai dijuluki sebagai sang iblis gila?" tanya Gieno.
Glek …. Abraham menelan salivanya pelan mencoba mengurangi rasa takutnya. Laki-laki itu bingung, bagaimana Gieno bisa masuk ke dalam ruangan kerjanya. "Perlu aku ingatkan, Zero adalah satu-satunya gengster yang legal di mata negara. Jika saja aku menghabisimu di sini, aku membawa nama Zero dengan alasan yang aku palsukan. Aku sama sekali tidak akan terseret hukum." Gieno menyeringai menatap wajah pucat Abraham.