Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
89. Musuh Abadi


__ADS_3

"Bangsat!" Gieno menatap sebuah mobil yang kini sudah terparkir tepat di depan mobilnya. Hal itu membuat mobil Gieno terhalang tidak memiliki akses untuk bergerak.


Beberapa detik kemudian, keluar seorang laki-laki berbadan besar dari dalam mobil itu. Gieno masih diam di dalam mobil sambil melihat laki-laki itu dengan tatapan datar. Laki-laki bebadan besar itu bergerak ke arah mobil Gieno dengan wajah marah.


Buk … Buk … Buk …


Gieno menatap pergerakan bibir laki-laki berbadan besar itu. Dapat iblis gila itu tebak, laki-laki itu sedang menyuruh Gieno untuk membuka pintu mobil. "Ck, mengganggu perjalanaku saja," gerutu Gieno merasa kesal.


Sedangkan di luar mobil, laki-laki berbadan kekar itu terus memukul kaca mobil milik Gieno. "Buka mobilnya, bangsat!" teriak laki-laki itu marah.


Klek …. Laki-laki itu berhenti berteriak saat pintu mobil itu mulai terbuka. "Berani sekali kau memotong laju mobilku, bedebah!" teriak laki-laki besar itu.

__ADS_1


Gieno membalikkan badan sambil menutup pintu mobilnya. Iblis gila itu menatap dingin wajah laki-laki besar yang kini nampak terdiam. "Kau tidak ingin laju mobilmu dipotong orang lain? Maka buat jalan milikmu pribadi, jangan lajukan mobilmu di sini," desis Gieno.


Glek …. 'Mati aku.' Laki-laki bertubuh besar itu meneguk ludahnya kasar sambil membatin takut.


"Ma-maaf," ucap laki-laki itu tergagap.


Gieno hanya menatap laki-laki itu dengan pandangan dingin. "Kau pikir badan besarmu ini bisa membuat aku takut?" ejek Gieno.


"Cepat singkirkan mobil jelekmu itu sebelum aku buat kau ikut ringsek dengan mobil bututmu itu. Kau mengganggu perjalananku," cetus Gieno dingin.


"Ba-baik, maaf Tuan." Dengan langkah gemetar, laki-laki besar itu dengan segera berjalan menuju mobilnya. Sedangkan Gieni yang melihat itu hanya menatap dingin dan kembali masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


Beberapa menit berselang, Gieno akhirnya sampai juga di tempat pertempuran. Laki-laki itu memarkirkan mobilnya begitu santai seakan tidak terjadi apa-apa di sana. Setelah memarkirkan mobilnya, Gieno membuka pintu mobil itu dan keluar dari sana. "Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga."


Suara berat seseorang mengalihkan perhatian Gieno yang baru saja keluar dari mobil. Iblis gila itu menoleh dan menatap datar seorang laki-laki yang sedang tersenyum miring kepadanya. "Aku tidak menyangka kau ternyata begitu menyukaiku. Bahkan kemana pun aku pergi, kau selalu mengikutiku," cetus Gieno.


Laki-laki yang berada dihadapan Gieno itu tersenyum sinis. "Sebelum nomor urut satu gengster terbaik belum di isi oleh Lion, maka selama itu aku akan selalu mengejar keberadaanmu. Aku akan melakukan cara apa pun untuk mendapatkan itu. Termasuk dengan mengikut sertakan gadis manis itu," tutur laki-laki itu.


Tangan Gieno mengepal mendengar kalimat laki-laki dihadapannya. Gieno jelas tahu gadis yang dimaksud laki-laki itu adalah Mentari. Gieno bingung, perasaannya tidak suka saat laki-laki itu membawa nama Mentari ke dalam permasalahan mereka. Namun, dengan kecerdikan Gieno dalam mengendalikan ekspresi, Gieno menanggapi perkataan itu dengan seringai iblisnya.


"Gadis? Siapa yang kau maksud? Apa gadis kurunganku itu?" ujar Gieno.


Kening laki-laki itu berkerut mendengar jawaban Gieno. Sedangkan Gieno yang melihat itu sudah tersenyum miring. "Raka, Raka, kau pikir aku ini ada kelemahan? Aku rasa kau adalah orang yang paling tahu bagaimana aku selama ini. Kau adalah musuh abadiku, bukan begitu?" sambung Gieno santai.

__ADS_1


Sekarang giliran tangan laki-laki yang dipanggil Raka itu yang mengepal erat. Raka merasa kesal dan marah melihat tanggapan Gieno yang tidak sesuai dengan dugaannya. 'Aku yakin gadis itu penting untukmu,' batin Raka.


__ADS_2