Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
21. Markas


__ADS_3

Mentari mengernyit melihat area yang dimasuki oleh Gieno. Gadis itu menoleh sekeliling dan bergidik ngeri kala mengetahui dia sedang berada di markas Zero. 'Astaga, mengerikan sekali tempat ini,' batin Mentari.


Gieno membuka pintu mobil dan keluar dengan keadaan Mentari masih lengket di tubuhnya. "Eh, aku berjalan sendiri saja Kak," ucap Mentari.


"Kau terlalu lamban, aku sudah lelah. Ingin segera berbaring," tutur Gieno.


Mentari terdiam, apa yang dikatakan oleh Gieno benar. Dia memang tidak akan bisa mengimbangi langkah lebar Gieno. Namun, jika dia memilih tetap keras ingin berjalan, sudah dipastikan dia tersesat. Mengingat itu, Mentari pasrah untuk tetap berada digendongan Gieno.


Tring … tring … tring …


Getaran ponsel Gieno berbunyi mengejutkan Mentari. Ternyata ponsel laki-laki itu tepat berada di dadanya. Mentari menegakkan tubuhnya kaku, sedangkan Gieno sudah tersenyum miring melihat wajah merah gadis itu. "Hemm," deham Gieno.


"Kau sudah di markas?" tanya Yezo.


"Sudah," balas Gieno.


"Kalau tahu begitu, lebih baik kami langsung ke markas saja tadi," tutur Yezo.


"Mereka hanya debu bagiku," ucap Gieno angkuh.

__ADS_1


"Ya, aku tahu. Sudahlah, aku sudah mebyuruh orang untuk memperbaiki mansionmu. Kemungkinan dua hari lagi kau bisa kembali ke mansion," terang Yezo.


"Baiklah," balas Gieno.


"Kau benar-benar membawa gadis itu?" tanya Yezo.


Gieno melirik Mentari yang sudah membaringkan kepala di bahu kekarnya. Sepertinya gadis itu sudah mengantuk. "Hem," deham Gieno.


"Baiklah, aku tutup. Kami segera sampai," ujar Yezo.


Cklek …. Gieno memasuki sebuah ruangan khusus untuk dirinya di markas itu. Ruangan yang mungkin bisa disebut sebagai kamar. Mentari membuka sedikit matanya kala merasakan Gieno membaringkan tubuhnya di atas kasur. Gadis itu nampak sedikit tidak nyaman dengan interior gelap dari markas itu. Mentari memang tidak menyukai atau lebih tepatnya takut dengan hal yang tergolong gelap.


Gadis itu yang melihat Gieno akan melangkahkan kakinya segera bersuara. "Kak," cicit Mentari.


Gieno mengernyitkan keningnya. "Kenapa?" tanya Gieno datar.


"Aku … takut sendiri, di sini menakutkan." Mentari bersuara begitu pelan sambil menunduk.


Gieno tersenyum miring dan mendekat ke arah Mentari. "Aku ingin mandi, kau ingin ikut?" bisik Gieno tepat di daun telinga Mentari.

__ADS_1


Gadis itu terkejut, apa lagi wajah Gieno begitu dekat dengannya saat ini. "O-oh … silakan Kak, aku di sini saja," sahut Mentari gugup.


Gieno kembali tersenyum miring. Cup …. Sebelum berdiri laki-laki dingin itu masih menyempatkan mencium pipi kiri Mentari yang sedang memerah. Jantung Mentari berdetak tiga kali lebih cepat setelah mendapat ciuman lembut itu dari Gieno. Gadis polos itu menatap punggung kekar Gieno yang mulai menghilang di balik pintu kamar mandi. "Ya ampun, kenapa aku merasa dia semakin ke sini semakin lembut. Meski masih saja dingin," gumam Mentari.


...*****...


Clek …. Gieno keluar dengan tubuh polos, hanya ada handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Gieno mengernyit kala dia tidak melihat keberadaan Mentari. Laki-laki itu hanya dapat melihat seonggok selimut yang bergerak-gerak gelisah. Laki-laki itu tersenyum miring, Gieno menebak pasti Mentari sedang ketakutan saat ini. Laki-laki dingin itu mendekat dan menyibak selimut itu kasar. "Aaaaaaa …."


Gieno menutup telinganya kala suara teriakan Mentari berdering nyaring di dalam ruangan itu. Sedangkan lima laki-laki yang baru saja berniat mengetuk pintu kamar Gieno terlonjak mendengar teriakan kencang itu. Lima laki-laki itu saling tatap kemudian mengusap wajah mereka kasar.


"Astaga, seganas itukah iblis gila itu?" celetuk Petrik. Setelahnya lima laki-laki itu memilih pergi ke kamar masing-masing.


Gieno menatap dingin ke arah Mentari yang sudah terkejut melihat keberadaan Gieno. "Kau ingin menghancurkan markasku?" desis Gieno.


"Maaf Kak, aku terkejut karena Kakak tiba-tiba menarik selimutnya. Aku pikir setan," sahut Mentari pelan.


"Di sini tidak ada setan, hilangkan sifat penakutmu itu," papar Gieno.


Mentaro tidak menyahut, gadis itu hanya diam sambil mengerucutkan bibirnya kesal. 'Dia enak berbicara seperti itu, orang takut mau bagaimana,' batin Mentari kesal.

__ADS_1


Sedangkan Gieno yang melihat bibir panjang gadis itu mulai terpancing. Jangan salahkan laki-laki itu yang memang memiliki nafsu tanpa batas dan begitu mudah untuk tergoda. "Kau memancingku?" desis Gieno pelan.


Mentari terkejut dan mendongak menatap ke arah Gieno. Setelahnya mata gadis itu membola kala baru menyadari kalau laki-laki di depannya ini belum memakai baju. Mentari segera menutup mata dengan kedua telapak tangannya. Hal itu malah semakin membuat Gieno gencar ingin mempermainkan gadis dihadapannya.


__ADS_2