
"Ekhm … Kamu tinggalnya di mana? Maksud aku, di mansion atau apartemen?" tanya Naraya.
"Keduanya," sahut Gieno.
Kening Naraya mengernyit bingung. "Maksudnya?" tanya wanita itu.
"Kadang di mansion, kadang di apartemen," jelas Gieno.
Naraya mengangguk mengerti. "Apa sesekali aku boleh mampir?" tanya Naraya berani.
Gieno terdiam sejenak, tanpa Naraya sadari laki-laki itu tersenyum miring. "Boleh," jawab Gieno.
Mata Naraya membulat. "Benarkah?" tanya Naraya lagi.
"Silakan, aku tidak pernah melarang orang lain datang ke tempatku," ungkap Gieno.
Naraya tersenyum merasa kesenangan. 'Jika sudah begini, aku akan semakin mudah untuk mendekatinya,' batin Naraya.
Tring … tring … tring …
Telepon genggam Gieno berdering nyaring, mengalihkan perhatian sepasang insan itu. "Hemm," deham Gieno menyahut panggilan itu.
"Kau di mana sekarang? Kenapa belum ke sini, katanya kau akan ke sini dijam makan siang?" celoteh Yezo.
"Sebentar lagi," balas Gieno.
"Ck, kau itu har … Mentari!" Gieno terkejut saat mendengar suara teriakan Yezo memekik.
"Ada apa?" tanya Gieno. Namun, laki-laki itu tidak mendapatkan jawaban dari Yezo. Hanya terdengar bunyi krasak-krusuk di seberang sana. Hal itu membuat Gieno tidak tenang.
__ADS_1
Secara tiba-tiba Gieno berdiri dari duduknya dan kembali meninggalkan Naraya tanpa kata-kata. Sedangkan Naraya yang melihat kepergian Gieno untuk kedua kalinya, hanya mendengus kesal. "Ck, ditinggal lagi," gerutu Naraya kesal.
...*****...
Gieno membuka pintu mobilnya dan bergegas masuk. Belum sampai beberapa menit mobilnya melaju, laki-laki itu mengernyit kala merasakan ada yang tidak beres dengan mobilnya. Gieno mencoba menginjak rem, tetapi benda itu tidak berfungsi. Mengetahui mobilnya sudah disabotase, bukannya takut, iblis gila itu malah tersenyum miring.
Laki-laki itu dengan santainya tetap melajukan mobilnya tanpa beban. "Mari kita tunggu, sampai mana mereka bisa bermain," gumam Gieno.
Tidak sampai lima menit setelah laki-laki dingin itu bergumam. Rombongan mobil datang mendekati mobilnya. Gieno yang melihat itu menyeringai licik. "No." Suara Rangga terdengar dari alat yang terpasang di telinga laki-laki itu.
"Siapa?" ucap Gieno.
"Kakek dan paman kesayanganmu," sahut Rangga.
Gieno menyeringai mengetahui itu. "Mereka sudah mulai bergerak? Ini yang aku tunggu," desis Gieno.
"Zero Cross dua sudah berada dua kilometer di belakang kalian, kau bersiap-siaplah," papar Rangga.
"Bawa mobilmu dengan kecepatan santai, tetap mencoba menghindari mereka. Persimpangan nanti belok kanan, di sana jalanan sepi. Kau bisa lebih leluasa," terang Rangga.
Tepat setelah Rangga selesai berbicara, lima mobil khas anggota Zero datang membantu jalan Gieno. Dengan kadatangan mereka itu, bunyi tembakan mulai merajalela. Gieno melirik kaca spion mobil dan menyeringai saat melihat Zero Cross mulai membentuk barisan.
"Rangga," panggil Gieno.
"Iya?" balas Rangga.
"Mentari?" tanya Gieno singkat.
"Kenapa? Aku tidak di rumah sakit," sahut Rangga.
__ADS_1
"Aku tahu kalau kau tahu keadaannya sekarang, ada apa?" tanya Gieno lagi.
"Kau lihat saja sendiri," balas Rangga.
Gieno mengumpat kesal mendengar jawaban Rangga. Namun, laki-laki itu tidak menukas lagi. Dia lebih memilih fokus kepada jalan dan menyelesaikan aksi kejar-kejaran ini. "Belok kiri," ucap Rangga.
Brum … ckit …
Gieno membawa mobilnya ke arah yang sesuai dengan ucapan Rangga. "Dua anggota Zero Cross akan menghadang jalan mobilnya sekitar tiga kilometer lagi. Kurangi kecepatanmu dari sekarang," papar Rangga.
"Pengerjar?" tanya Gieno.
"Mereka hanya tikus kecil, bukan lawan Zero. Seharusnya aku tidak menurunkan Zero Cross dua tadi. Zero Cross Under saja bisa menyelesaikan mereka," tutur Rangga meremehkan.
Gieno tersenyum miring mendengar itu. "Memangnya ada yang bisa mengalahkan Zero?" celetuk Gieno angkuh.
Brum … brum …
Dua mobil mulai mendahului kecepatan mobil Gieno. "Bersiap, No. Kau akan terbang ke mana?" tanya Rangga.
"Sisi kanan," balas Gieno.
"Baiklah," sahut Rangga.
Gieno sudah tidak menginjak pedal gas mobilnya lagi. Laki-laki itu mulai membuka seatbelt dan bersiap membuka pintu mobil. Satu mobil tampak mendekat ke arah Gieno yang baru saja membuka pintu mobilnya. Gieno menatap mobil itu intens dan tanpa aba-aba laki-laki iblis itu melompat.
Duk …. Tubuh Gieno menempel di badan mobil, secara perlahan mobil itu mulai mengurangi lajunya. Brak …. Suara benda terbentur keras memekkan telinga. Mobil yang sempat ditumpangi Gieno tadi sudah mulai memelan dengan bantuan dari dua anggota Zero.
Bruk …. Gieno melompat turun dari badan mobil dan berjalan mendekat ke arah mobilnya. "Ketua," sapa lima laki-laki menunduk hormat.
__ADS_1
"Kalian urus, Melvin dan Rangga akan segera datang. Mobil mana?" tutur Gieno.
"Baik, Ketua. Mobilku, Ketua." Seorang laki-laki menyodorkan kunci mobilnya kepada Gieno. Setelah menerima itu, Gieno bergerak dan meninggalkan tempat itu.