Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
117. Harta Berharga


__ADS_3

"Brengsek! Dia sudah mulai bergerak menyinggung perusahaan. Ini bisa bahaya," ucap Heiki.


"Kenapa? Bisa dia tahu tentang ini? Ini hanya bagian negara seharusnya yang tahu, kita sudah membayar mahal tentang ini," ujar Abraham nampak tidak percaya.


"Apa Papa lupa kalau dia punya Zero? Aku dengar beberapa hari yang lalu aparat negara meminta tolong kepada Zero. Misi kali ini cukup tertutup tapi masih dipublish. Aku rasa dia menemukan ini dari hasil misi itu. Ini kan bersangkutan dengan keuangan negara yang bocor bahkan sampai ke luar negeri," jelas Heiki.


Kening Abraham berkerut mendengar kalimat Heiki. "Jadi ini bukan tipuan? Maksudku ini dokumen asli?" tanya Abraham.


"Aku rasa ini asli, Pa. Masalahnya pembukuannya tidak ada yang beda sedikit pun," sahut Heiki.


"Kita tidak bisa tinggal diam, ini sudah tidak beres. Sepertinya dia berniat menghancurkan perusahaan kita dulu baru bergerak. Jadi yang perlu kita lakukan sekarang, kita pertahankan perusahaan ini. Dengan adanya perusahaan ini, kita masih bisa mencoba perlindungan diri dengan adanya uang. Apapun itu, kita harus bisa mempertahankan perusahaan," tegas Abraham.


"Tapi kita bisa apa, Pa? Apa yang akan kita lakukan?" tanya Heiki nampak frustasi.


Abraham terdiam sejenak mendengar kalimat Heiki. Laki-laki tua itu nampak berpikir hal apa yang harus mereka lakukan. "Kau hubungi panglima Jamhur, kita bisa meminta tolong kepada dia," titah Abraham.


"Baiklah."

__ADS_1


Tok … Tok … Tok …


Baru saja Heiki berniat meraih telepon genggamnya. Suara pintu ruangan kerja Abraham di ketuk mengalihkan perhatian dua laki-laki itu. "Siapa?" tanya Heiki.


"Saya Tuan, ada paket lagi, Tuan." Suara seorang laki-laki terdengar di balik pintu ruangan itu.


Mendengar kalimat laki-laki di balik pintu itu, Abraham dan Heiki saling tatap dengan wajah nampak tegang. "Paket? Kali ini siapa? Bukannya mereka semua sudah mati?" tanya Heiki.


Abraham tidak menyahut kalimat Heiki. Laki-laki tua itu nampak diam dengan pemikiran dan perasaannya yang bercabang. "Masuk," titah Abraham membuka suara.


Cklek …


"Letakkan paket itu di sana dan buka," titah Abraham lagi.


Dengan patuh, laki-laki yang merupakan kepala pengawal Abraham dan Heiki itu melakukan hal sesuai dengan perintah Abraham. Kotak yang cukup besar itu diletakkan di atas lantai. Setelahnya secara perlahan laki-laki itu membuka penutup paket itu.


Abraham dan Heiki terus memperhatikan pergerakan laki-laki dihadapan mereka. Mereka nampak semakin tegang saat melihat kotak paket itu mulai terbuka. Keterangan itu terus berlanjut sampai kotak itu terbuka sempurna.

__ADS_1


Laki-laki yang membuka kotak itu terkejut bahkan sampai menjauh secara spontan. Laki-laki itu dengan segera menutup mulutnya. Sepertinya dia berusaha menahan mual.


Berbeda dengan Abraham dan Heiki yang sudah melotot melihat kepala seorang laki-laki di dalam kotak itu. Bahkan saking terkejutnya, dua laki-laki berbeda generasi itu berdiri ingin memastikan penglihatan mereka. "Pa, itu … panglima Jamhur?" tanya Heiki ragu.


"Jadi mataku tidak salah, ini kepala panglima Jamhur," gumam Abraham.


"Ja-jadi, dia pun sudah menjadi korban Zero? Aku rasa ini karena misi dari aparat negara juga," sambung Heiki.


"Sepertinya begitu," balas Abraham.


"Terus sekarang bagaimana, Pa? Sudah tidak ada tempat untuk kita berdiskusi," papar Heiki.


"Berdiskusi denganku saja."


Tiga laki-laki yang berada di dalam ruangan itu terlonjak saat mendengar suara dingin seseorang. Mereka menoleh dan melihat keberadaan Gieno sedang duduk di bingkai jendela ruangan kerja Abraham. Jelas saja hal itu membuat Abraham dan Heiki terkejut sekaligus takut.


Berbeda dengan kepala pengawal Abraham dan Heiki. Laki-laki itu sudah menganga tidak percaya menatap Gieno dengan pandangan kagum. 'Kapan dia ada di sana? Gila, kemampuannya benar-benar tidak main-main. Aku merasa tersanjung bisa melihatnya dengan jarak sedekat ini,' batin laki-laki itu.

__ADS_1


Gieno sedang menatap Abraham dan Heiki dengan pandangan datarnya. Beberapa detik kemudian, iblis gila itu tersenyum miring menatap wajah kaku dua laki-laki itu. "Aku ke sini hanya ingin memberitahu kan satu hal. Targetku selanjutnya adalah harta paling berharga Barka. Jaga dia dalam tiga hari ini, sebab jika tidak … maka bersiap-siaplah untuk menyesal," papar Gieno dingin.


'Naraya?' batin Abraham dan Heiki.


__ADS_2