
Naraya melambaikan tangannya ke arah Gieno yang baru saja sampai di gedung perusahaan De Larga. Wanita ini begitu keras berusaha untuk mendekati Gieno. Sedangkan Gieno hanya menatap Naraya dengan tatapan datar seperti biasa. "Hai, Kak," sapa Naraya lembut.
"Hai," balas Gieno singkat.
"Kemarin ada apa? Kenapa pergi tiba-tiba?" ucap Naraya penasaran.
Gieno diam mendengar perkataan Naraya. Kalimat itu membuat laki-laki dingin itu mengingat kejadian kemarin. Gieno juga menjadi ingat kondisi Mentari kala itu. 'Dia masih belum sadar,' batin Gieno.
"Kak." Suara Naraya mengembalikan kesadaran Gieno.
Laki-laki itu menoleh, menatap Naraya datar. "Hal penting," sahut Gieno.
Naraya mengangguk pelan tidak menukas pembahasan itu lagi. "Hari ini bisa makan siang bersama lagi, Kak?" Naraya terus berjalan mengikuti langkah kaki Gieno yang sedang menuju ruangannya.
"Boleh," balas Gieno.
Naraya tersenyum kesenangan. 'Suatu kemajuan yang sangat bagus, Naraya. Aku tahu, tidak ada satu pun laki-laki yang mampu menolak pesonaku. Termasuk Tuan De Larga,' batin Naraya percaya diri.
__ADS_1
"Boleh aku minta nomor kontak kamu, Kak? Supaya lebih mudah menghubungimu nanti," ucap Naraya beralasan.
Gieno berhenti di depan pintu lift khusus untuk dirinya. Laki-laki itu merogoh kantong celananya dan mengambil sesuatu di dalam dompet mewahnya. Setelahnya Gieno memberikan sebuah kartu nama kepada Naraya. Sedangkan Naraya mengernyit melihat itu. Jika Gieno memberikan kartu nama, berarti nomor kontak yang tertera di sana bukan nomor pribadi laki-laki itu.
"Ekhm … ini nomor kontak bisnis kamu, Kak? Bukan nomor pribadi?" tanya Naraya.
Gieno masuk ke dalam lift kemudian menatap wajah bingung Naraya. "Nomor pribadiku hanya inti Zero yang tahu," papar Gieno. Setelah mengucapkan itu, Gieno menghilang di balik pintu lift.
Naraya menatap pintu lift, kemudian menunduk membaca kartu nama laki-laki dingin itu. "Ya sudah, lumayan tetap bisa menghubunginya," gumam Naraya.
"Apa ini?" Abraham berteriak marah. Sedangkan Heiki sudah duduk dengan kepala menunduk.
"Kenapa masalah seperti ini kamu masih belum bisa mengurusnya? Bagaimana aku bisa tenang melepas perusahaan kepada kamu, Heiki? Kamu sudah hampir beruban di perusahaan, tapi masih belum ada kemajuan. Akan sampai kapan seperti ini, hah?" murka Abraham.
Heiki masih diam sambil menunduk, laki-laki paruh baya itu tidak berani mengangkat kepalanya. "Naraya juga tidak ada minat dengan perusahaan, siapa yang akan aku andalkan kecuali kamu? Jika saja kau bersedia aku jodohkan, tidak akan seperti ini jadinya. Nayry juga sudah setuju dengan pernikahan keduamu itu. Barka butuh penerus, Heiki," sambung Abraham.
Heiki mendongak dan menatap wajah Abraham. "Nayry memang mengatakan setuju, Pa. Tapi Papa tidak tahu kalau hatinya sakit di dalam sana. Istri mana yang bersedia dimadu, Pa," pungkas Heiki.
__ADS_1
"Itu salahnya karena tidak bisa hamil lagi, sudah resikonya menikah dengan keluarga kaya," geram Abraham.
Heiki menatap Abraham tidak terima. "Aku menikah dengan Nayry juga karena dijodohkan. Sekarang kenapa malah seakan Papa menyalahkan aku? Di saat aku sudah nyaman dan sayang kepada Nayry sampai kehadiran Naraya. Sekarang Papa ingin menghancurkan kembali hatiku?" ungkap Heiki mulai terpancing emosi.
"Tidak usah banyak bicara, Heiki. Kau ingin mengikuti jejak Kakak kamu itu? Membantah dan tidak ingin dijodohkan, malah memilih menikahi laki-laki pecundang," papar Abraham marah.
"Aku sudah mengikuti keinginan Papa dengan menikahi Nayry. Kenapa sekarang Papa menyamakan aku dengan Kakak? Aku dengan Nayry sudah saling nyaman, Pa. Sekarang Papa malah ingin menghadirkan masalah di dalam rumah tanggal kami," balas Heiki tidak terima.
"Kalau saja rahim Nayry tidak diangkat, aku juga tidak akan menyuruhmu menikah lagi. Kita membutuhkan anak laki-laki, Heiki," ujar Abraham.
"Terus Papa menyalahkan kami akan hal itu? Rahim Nayry diangkat juga berawal dari kelalaian Papa yang tidak hati-hati waktu itu. Seharusnya Papa tidak seperti ini, Nayry seperti ini juga karena Papa," cecar Heiki.
Bugh …. Abraham memukul tubuh Heiki dengan tongkat di tangannya. "Sudah berani kau melawanku? Membahas kesalahan? Bagaimana dengan kelalaianmu dalam mengurung anak itu? Bahkan membuat dia kabur dan kembali menjadi iblis di depan kita saat ini. Padahal kita bisa memanfaatkannya untuk meneruskan perusahaan Barka. Lihatlah, kepandaiannya di dalam dunia bisnis bahkan sudah diakui oleh pasar dunia. Tidak seperti kamu yang sudah ubanan di perusahaan, tapi tidak bisa apa-apa," sembur Abraham.
Heiki menatap tajam ke arah Abraham. "Kalau begitu, silakan Papa ajak anak itu ke sini. Suruh dia membantu Papa mengurus perusahaan ini. Aku pergi, Papa tidak butuh aku bukan?" Setelah mengucapkan itu, Heiki pergi dari ruangan Abraham begitu saja.
"Heiki, ke mana kau. Kembali! Heiki … bangsat!" Abraham berteriak memanggil Heiki yang sama sekali tidak menghiraukan suaranya.
__ADS_1