
"Luka luar Nona Mentari memang tidak terlihat. Tetapi jatuhnya dari lantai empat, sehingga menyebabkan benturan yang sangat keras bagi tubuh manusia. Benturan keras itu membuat organ dalam Nona Mentari sempat terhenti. Hal ini malah lebih berbahaya daripada luka luar. Menyembuhkan organ dalam atau luka dalam itu lebih sulit daripada menyembuhkan luka luar yang nampak oleh mata. Kami sudah mengecek keadaan tubuh Nona Mentari. Kami juga sudah berusaha memulihkan beberapa organ dalam yang sempat terhenti. Seperti yang kami jelaskan, terbentuknya organ dalam Nona Mentari cukup keras sehingga membuat kondisi tubuhnya tidak stabil. Hal itu yang membuat Nona mentari kesulitan untuk sadarkan diri. Jika dalam waktu lima jam ke depan, Nona Mentari masih belum sadarkan diri. Dengan begitu Nona Mentari akan dinyatakan koma."
Gieno diam, mata tajam laki-laki itu nampak menatap kosong. Penjelasan dokter membuat hati Gieno begitu gundah. Luka fisik Mentari memang tidak terlihat oleh matanya. Gadis itu masih terlihat baik-baik saja tanpa adanya luka. Mentari terbaring seperti orang tidur biasa, hanya saja wajah gadis itu sangat pucat.
Keadaan Mentari yang seperti itu membuat hati Gieno berkecamuk. Perasaan sedih, cemas dan khawatir bercampur menjadi satu. Ini adalah kedua kalinya juga bagi Gieno merasakan hal seperti itu di dalam hatinya. Setelah kejadian pertama saat melihat aksi pembantaian mendiang papanya. Sekarang perasaan sedih itu kembali dialami oleh Gieno saat melihat kondisi Mentari.
"Apa yang harus aku lakukan untuk membuat dia segera sadar?" tanya Gieno dingin.
Dua orang dokter yang berada di dalam ruangan itu saling tatap dengan wajah pucat. Sedari tadi mereka sudah bergetar ketakutan menjelaskan kondisi Mentari kepada iblis gila itu. Mendengar pertanyaan Gieno, membuat mereka bingung sekaligus takut untuk menyahut.
"Maaf, Tuan. Untuk hal itu kami tidak bisa memastikannya. Tapi kami akan terus berusaha untuk membantu pemulihan Nona Mentari," ucap salah satu dokter gugup.
Glek …
__ADS_1
Dua dokter itu meneguk saliva mereka kasar saat dengan tiba-tiba Gieno mengangkat kepalanya dan menatap mereka tajam. "Tidak bisa memastikan? Dokter macam apa kalia?" murka Gieno.
Laki-laki itu nampaknya kehilangan kendali. Gieno nampak sangat marah saat mendengar jawaban dari dua dokter itu. Jelas saja hal itu membuat dua dokter laki-laki itu ketakutan. Mereka bahkan sudah mulai menjauh melihat mata Gieno semakin menajam.
Brak … Prang …
Gieno mengangkat kursi yang sempat dia duduki dan membanting kursi itu ke atas meja kaca. Gieno mengamuk, laki-laki itu benar-benar tidak terima jika para dokter tidak bisa mengembalikan Mentari secepatnya kepadanya. Yah, sesuai dengan namanya, Gieno benar-benar gila.
Dua dokter itu nampak sangat ketakutan. Mereka sudah bersembunyi di sudut ruangan dengan tubuh bergetar. Mereka manatap waspada ke arah Gieno yang mulai mendekat ke arah mereka. "Tu-tuan, tolong jangan bunuh kami," ucap seorang dokter ketakutan.
"To-tolong!" dua dokter laki-laki itu berteriak ketakutan.
Para inti Zero yang berada di luar ruangan itu saling tatap. "****! Apa aku bilang, suara pecahan kaca itu pasti ulah Gieno. Dia pasti mengamuk!"
__ADS_1
Yezo berucap sambil bergerak cepat membuka pintu ruangan dokter itu. Bukan hanya Yezo yang masuk, empat laki-laki lainnya ikut masuk melihat keadaan dalam ruangan itu. Mereka jelas saja terkejut saat melihat Gieno mulai mendekat ke arah dua dokter itu.
"Astaga, mana pawang dia sedang terlelap," celetuk Petrik.
"No, kau sadarlah! Kalau kau membunuh mereka, lalu siapa yang akan menyembuhkan Mentari!" teriak Rangga mencoba menyadarkan Gieno.
"Aku tidak butuh orang bodoh seperti mereka," desis Gieno.
"Bukan mereka yang bodoh, No. Tapi memang keadaan Mentari tidak sesimpel itu. Kau bisa bayangkan sendiri bagaimana jatuhnya Mentari dari lantai empat mansionmu. Siapa saja manusia yang jatuh dari ketinggian itu, aku rasa tidak akan selamat. Mentari masih beruntung, jangan gila di saat seperti ini!" tambah Yezo.
"Iya, lebih baik sekarang kau temani dia di ruangannya. Aku yakin dia saat ini sedang menunggu penjelasanmu. Seperti yang dikatakan oleh dokter, dia memang tidak sadarkan diri. Tapi kemungkinan dia masih bisa mendengar dan tahu apapun di sekitarnya. Kau belum memberi penjelasan tentang kesalahan pahaman itu," sambung Rangga.
Langkah kaki Gieno terhenti, laki-laki itu diam dan menyerap setiap perkataan dari sahabatnya. Setelahnya laki-laki itu baru sadar jika apa yang dikatakan oleh Rangga ada benarnya. 'Benar, aku belum menjelaskan kesalahan pahaman itu. Dia pasti masih marah kepadaku, ini semua salahku,' batin Gieno merasa bersalah.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara lagi, Gieno berjalan dan meninggalkan ruangan dokter itu begitu saja. Melihat itu lima inti Zeri menghela napas lega. Begitu pula dengan dua dokter laki-laki itu. "Maaf, saya akan mengurus kerugian ini," ucap Yezo kepada dua dokter laki-laki itu.
"I-iya, Tuan," balas salah satu dari dokter itu.