
Dor … dor …
Mentari terkejut mendengar suara tembakan, gadis itu semakin mempererat pelukannya ke tubuh Gieno. Sedangkan laki-laki datar itu sudah tersenyum miring. Gieno mengambil jaketnya dan meraih sebuah pistol di dalam saku. "Turun," ucap Gieno.
"Ta-tapi, sepertinya di luar sedang kacau," cicit Mentari.
"Aku ingin pakai baju," ujar Gieno datar.
Mentari terkejut kala menyadari Gieno masih bertelanjang dada. Dengan gerakan ragu gadis itu turun dari tubuh Gieno. Namun, tangan gadis itu masih saja memeluk pinggang mekar Gieno. Pemimpin Zero itu mulai memasang pakaiannya dan juga jaketnya. Mentari masih saja menempel pada tubuh kekar itu.
Jika tadi Mentari merasa begitu takut untuk berdekatan dengan Gieno. Sekarang malah sebaliknya, gadis itu merasa begitu aman jika berada di dekat laki-laki dingin itu. Mentari merinding, kegelapan malam yang sunyi itu berganti dengan suara penembakan yang saling bersahutan. "Ikut aku," tutur Gieno datar.
"Ke mana, Kak?" tanya Mentari.
"Kalau kau tidak ingin mati di sini, ikuti saja," ucap Gieno datar.
Mentari menelan salivanya kasar, gadis itu semakin mendekat ke tubuh Gieno yang sedang mengecek isi pistol. Gieno juga mengambil sebuah kotak berisi pisau-pisau mini kesayangannya. Mentari menatap dua perlengkapan Gieno itu dengan pandangan ngeri.
Tok … tok … tok …
Mentari terlonjak kala mendengar suara pintu kamar Gieno diketuk dari luar. Gadis itu memeluk tubuh Gieno berniat bersembunyi. "Ketua," ucap orang di luar pintu.
Gieno berjalan ke arah pintu dengan keadaan dibuntuti oleh Mentari yang masih memeluk tubuhnya. Cklek …. Seorang laki-laki berdiri sambil menunduk hormat kepada Gieno. "Bagaimana?" tanya Gieno.
__ADS_1
"Kami sudah membawa pasukan lawan ke area barat, jadi Anda bisa membawa Nona Mentari keluar dari arah timur," terang laki-laki itu.
Gieno mengangguk. "Kau bawa dia ke mobil, aku akan menyusul," titah Gieno.
"Baik, Ketua," sahut laki-laki itu patuh.
"Kau ikut dia," ujar Gieno kepada Mentari.
Mentari menatap wajah laki-laki yang terlihat samar karena kegelapan. Gadis itu nampak ragu. "Cepatlah, tidak ada waktu untuk melamun," sambung Gieno.
"Apa tidak bisa aku dengan Kakak saja?" cicit Mentari.
"Aku akan melalui area pertempuran, jika kau ikut denganku. Itu hanya akan membebaniku," balas Gieno.
"Baiklah," sahut Mentari terpaksa.
Dor … dor … buk … bak …
Perkelahian dan penembakan antara dua gengster itu semakin memanas. Gieno tersenyum miring kala melihat seorang laki-laki yang tampak berdiri angkuh di tengah pertempuran. "Tuan Alexander," sapa Gieno rendah.
Januar Alexander, laki-laki berumur dua puluh lima tahun itu adalah pemimpin gengster Darkness. Gengster yang selama ini selalu berusaha mencari masalah dengan Zero. Januar juga merupakan laki-laki maniak wanita, sama seperti Gieno. Namun, jika tentang kemampuan, laki-laki itu masih belum bisa bersaing dengan Gieno.
Januar tersenyum miring. "Akhirnya kau keluar juga dari persembunyianmu, anggotamu bertempur. Kau malah sibuk bertempur di dalam kamar. Bagaimana? Enak tidak gadis itu? Bisakah kau berbagi denganku?" tutur Januar.
__ADS_1
Gieno tersenyum miring. "Boleh, tapi … sepertinya, kau harus tahu satu hal. Pedangmu itu sepertinya tidak akan mampu untuk memuaskannya. Aku tahu, bukan hanya nyalimu yang kecil, tapi juga kem****nmu," ejek Gieno.
Januar mengepalkan tangannya marah. "Serang!" teriak Januar.
Buk … dor … sret …
Saling memukul, saling menembak dan saling membantai. Kondisi mansion Gieno sekarang sungguh sangat mengerikan. Ini bukanlah pertama kalinya ditempat itu terjadi pertempuran berdarah. Gieno yang merupakan iblis gila itu memang sengaja tidak memberikan keamanan ketat di mansionnya karena laki-laki itu suka dengan tantangan.
Gieno menendak seorang laki-laki yang mencoba menghalangi jalannya ke arah Januar. "Benar bukan? Nyalimu kecil, bersembunyi di balik punggung anggota," ejek Gieno.
Buk … krak …
Gieno baru saja mematahkan tangan anggota Darkeness tepat di depan mata Januar. Pemimpin Darkness itu menatap Gieno marah. Adu otot antara pemimpin itu pun terjadi, tetapi … seperti biasa, Januar masih belum bisa mengimbangi kepandaian bela diri Gieno. Iblis gila itu benar-benar tiada lawan.
Plak … bruk …
Januar kini sudah berlutut tepat di bawah kaki Gieno yang sedang tersenyum miring. Gieno dengan sangat mudah membuat Januar bertekuk lutut hanya dalam hitungan menit. "Bukankah aku sudah memberi pesan kepada anggotamu beberapa hari yang lalu? Perlu aku ulangi?" desis Gieno.
Januar menatap Gieno dengan pandangan marah. "Kalau kau ingin mengalahkan iblis, maka … kau harus mati terlebih dahulu," bisik Gieno remeh.
"Kau terlalu sombong, bangsat!" umpat Januar.
Gieno terkekeh mendengar perkataan Januar. "Sombong? Bukankah itu memang aku? Perlu aku beri tahu, selama ini setiap pertempuran selalu aku yang memenangkan. Pertanyaannya, kenapa tidak aku bunuh saja kau? Padahal tanpa adanya pertempuran ini pun, aku tetap bisa membunuhmu dengan mudah," ucap Gieno dingin.
__ADS_1
Januar terdiam, apa yang dimatakan oleh Gieno ada benarnya. Jujur saja itu memang sedari dulu mengganggu pikirannya. "Hanya satu jawabanku, geng bodohmu ini adalah satu-satunya geng yang berani melawan Zero. Aku salut akan hal itu, dengan arti lain … hanya kalian yang bisa memberi aku permainan yang cukup mengasikkan. Kalau aku melenyapkan geng kalian sekarang, maka siapa yang akan jadi bahan permainan Zero lagi?" ejek Gieno.