
Mentari menggeliat kecil saat merasakan tenggorokannya begitu kering. Secara perlahan mata gadis itu mulai terbuka. Mentari menoleh ke samping dan tidak menemukan keberadaan Gieno. Beberapa detik mengumpulkan kesadaran, Mentari duduk dari tidurnya dengan wajah tegang. "Kak," panggil Mentari.
Satu menit Mentari menunggu sahutan, tetapi itu tidak didapatkan gadis itu. Jantung Mentari mulai berdetak lebih cepat, gadis itu menelan salivanya susah payah. "Kak Gieno!" teriak Mentari memanggil Gieno.
Hening, gadis itu masih tidak mendapatkan jawaban dari laki-laki yang dipanggilnya. Jelas saja karena Gieno tidak berada di sana. Dengan memberanikan diri Mentari berjalan ke arah pintu kamar mandi dan kembali menanggil Gieno.
Tok … Tok … Tok …
"Kak Gieno!" Mentari mengetuk pintu kamar mandi dan memanggil nama Gieno. Merasa tidak ada sahutan, gadis itu kembali ke atas ranjang sambil melirik takut kesekitar. Perlahan suara tangis gadis itu mulai keluar dan terisak.
"Huaaa … Kak Gieno!" Mentari berteriak keras sambil menangis. Hal itu gadis itu lakukan untuk mengalihkan rasa takutnya. Teriakan Mentari yang cukup nyaring mampu didengar oleh dua penjaga di depan pintu kamar sang ketua itu.
Dua laki-laki itu melotot saat mendengar suara tangis Mentari. "Gadis Ketua bangun," tutur salah satu dari mereka.
Tok … Tok … Tok …
__ADS_1
"Nona! Nona sudah bangun?" Salah satu dari laki-laki itu mengetuk pintu kamar Gieno sambil memanggil Mentari dengan suara sedikit berteriak.
Mentari di dalam sana terdiam saat mendengar suara pintu kamar diketuk dari luar. "Nona! Ada apa Nona?"
Mentari bergerak pelan ke arah pintu dengan air mata yang masih mengalir. Gadis itu mendekatkan telinganya ke pintu kamar itu sambil bersuara. "Kalian siapa?" tanya Mentari.
"Kami orang yang diperintahkan Ketua untuk menjaga Anda, Nona," sahut laki-laki itu dari arah luar.
"Manusia kan?" tanya Mentari polos.
Cklek …. Dua laki-laki itu bergerak menjauh dari pintu saat mendengar pintu kamar itu dibuka dari dalam. Mata mereka melotot saat melihat penampilan Mentari yang masih memakai kaos kebesaran milik Gieno. Dengan cepat dua laki-laki itu mengalihkan pandangan mereka karena mereka masih sayang nyawa.
"Maaf, Kak Gieno mana?" tanya Mentari pelan.
"Ketua sedang ke pusat pertempuran, Nona," balas mereka.
__ADS_1
Kening Mentari berkerut saat melihat dua laki-laki itu menoleh ke arah yang berbeda. Satu dari mereka menoleh ke kiri sedangkan satu lagi menoleh ke kanan. "Apa memang seperti itu jika anggota Zero menghadapi orang lain?" celetuk Mentari bingung.
"Maksud Anda, Nona?" tanya mereka.
"Itu, kalian memandang ke arah lain dan juga berbeda," ucap Mentari.
"Uhuk …." Dua laki-laki itu terbatuk mendengar perkataan Mentari.
"Bukan begitu, Nona. Ekhm … sekarang Nona butuh apa? Biar kami bantu," cetus salah satu dari mereka.
"Apa kalian bisa mengantarkan aku ke tempat Gieno?" tanya Mentari.
Dua laki-laki itu terkejut, mereka saling pandang dengan wajah bingung. "Em, kalau itu kami tidak bisa, Nona. Ketua pasti akan memarahi kami kalau Anda menyusul ke sana. Di sana berbahaya, Nona."
Mentari nampak menunduk lesu mendengar jawaban salah satu laki-laki itu. Sedangkan dua laki-laki yang melihat Mentari bersedih, menjadi panik sendiri. "Em, bagaimana kalau Nona ke tempat tiga inti lainnya saja. Mungkin mereka bisa memberi solusi, kami tidak berani bertindak tanpa ada perintah, Nona," jelas salah satu laki-laki itu.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu antarkan aku kepada mereka," ucap Mentari.