Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
66. Memang Boleh?


__ADS_3

Dengan patuh Mentari turun dari tubuh Geino. Mata gadis itu memicing saat melihat sebuah gundukan menjulang di balik handuk yang dikenakan Gieno. Sedangkan Gieno menyeringai saat melihat wajah bingung Mentari yang masih saja menatap gundukan itu. "Kau penasaran?" tanya Gieno.


Mentari terkejut mendengar suara Gieno. Gadis itu menatap wajah Gieno ragu, tetapi tanpa sadar kepalanya mengangguk pelan. Gieno yang melihat itu mengulum bibir mencoba menahan tawa. 'Kenapa dia begitu polos?' batin Gieno tidak habis pikir.


"Kau yakin? Aku takut nanti kau malah menyesal, masalahnya jika kau sudah melihatnya … maka kau harus memanjakannya," tutur Gieno rendah.


Mentari menatap Gieno dengan kerutan kening semakin terlihat jelas. Namun, beberapa detik kemudian mata bulat itu membola saat Mentari mengingat sesuatu. Sedangkan Gieno yang melihat perubahan ekspresi Mentari semakin mengulum bibirnya. 'Apa dia sudah sadar sekarang?' batin Gieno.


"Apa itu burung?" gumam Mentari tanpa sadar. "Besar sekali," sambung Mentari masih belum sadar.


Gieno yang sedari tadi mencoba menahan tawa, sekarang terlepas sudah. Mendengar kalimat polos dari bibir manis Mentari sukses membuat Gieno terbahak keras. Sedangkan Mentari sudah terlonjak saat mendengar suara tawa Gieno yang begitu besar. Mata Mentari membola saat melihat keindahan alam yang akan sangat sulit untuk dia nikmati. Wajah tampan Gieno saat tertawa adalah objek utama pemandangan Mentari saat ini.


'Andai kamu lebih sering seperti ini, Kak. Sunggu suatu keajaiban,' batin Mentari.


"Iya, kau benar. Ini memang burung, kau ingin melihatnya?" Gieno bersuara disisa tawanya.


Sedangkan Mentari yang awalnya sedang mengagumi wajah tampan Gieno. Sekarang sudah melotot saat mendengar perkataan Gieno. 'Astaga, ternyata aku mengucapkannya? Bukan membatin, malunya,' jerit Mentari di dalam hati.

__ADS_1


Tanpa sadar karena merasa sangat malu, Mentari malah memeluk tubuh Gieno dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher laki-laki itu. Gieno yang tadinya masih tertawa, sudab terhenti karena terkejut. Laki-laki itu menunduk menatap tubuh Mentari saat ini kembali berada di atasnya. Tanpa sadar bibir laki-laki itu melengkung begitu tipis merasa lucu dengan tingkah Mentari yang sedang salah tingkah.


Gieno menegakkan tubuhnya sehingga secara tidak langsung tubuh Mentari ikut duduk. "Apa kau tidak ingin bertanggung jawab? Dari tadi malam, kau selalu membangunkan burungku ini. Tapi malah tidak bertanggung jawab," pungkas Gieno.


Bukannya menjawab, Mentari malah semakin mempererat pelukannya di tubuh Geino. Sekedar untuk melihat wajah Gieno saja gadis itu seakan tidak mampu. "Jangan begitu, Kak," cicit Mentari begitu pelan.


"Apanya yang jangan begitu? Seharusnya aku yang berbicara seperti itu, kau jangan begitu … tidak bertanggung jawab itu nama," tutur Gieno semakin gencar menggoda Mentari.


"Aku kan tidak sengaja," cicit Mentari lagi.


"Tetap saja, aku ingin kau bertanggung jawab," balas Gieno.


Kening Gieno berkerut saat mendengar jawaban Mentari. "Apa yang jangan?" tanya Gieno.


"Jangan minta tanggung jawab," sahut Mentari polos.


Gieno kembali mengulum bibirnya mendengar jawaban polos dari Mentari. "Terus apa?" tanya Gieno lagi.

__ADS_1


Mentari terdiam sejenak, tidak tahu harus menjawab apa. "Tidak tahu," jawab Mentari pelan.


"Sudah, aku ingin mandi. Minggirlah," papar Gieno pada akhirnya mengalihkan topik.


Mentari secara perlahan melepaskan pelukannya. Gieno menatap wajah merah Mentari yang masih nampak malu. Gadis itu secara perlahan mulai bergerak berniat turun dari pangkuan Gieno. "Stop!" ujar Gieno cepat.


Mentari patuh, meski bingung gadis itu benar-benar berhenti bergerak dan diam seperti patung. "Bergerak sedikit lagi, dia bisa bangun kembali," ungkap Gieno.


Mata Mentari melotot mendengar kalimat Gieno. "Terus aku harus apa?" tanya Mentari panik.


Gieno yang awalnya mencoba menahan sang junior, sekarang teralihkan dengan wajah lucu Mentari saat panik seperti itu. Laki-laki itu tersenyum nakal. "Seperti ini saja, jangan bergerak," ucap Gieno kembali mengerjai Mentari.


"Bukannya Kakak ingin mandi?" tanya Mentari.


"Ayo mandi bersama," ajak Gieno nakal.


Mata Mentari kembali melotot mendengar perkataan Gieno. "Memangnya boleh, Kak?" tanya Mentari polos.

__ADS_1


Mulut Gieno ternganga saat mendengar pertanyaan Mentari. Laki-laki itu pikir Mentari akan mengamuk setelah dia mengucapkan kalimat itu. 'Ck, kepolosannya ini benar-benar berbahaya. Tidak akan aku biarkan dia keluar sembarangan lagi. Dia bisa dimanfaatkan kalau seperti ini,' batin Gieno tidak habis pikir.


__ADS_2