Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
62. Menikah Lagi


__ADS_3

Gieno dengan terpaksa membawa Mentari ikut ke dalam ruangan pertemuan para inti Zero. Sedangkan lima inti Zero yang melihat sosok Mentari di belakang Gieno nampak terkejut. "Kau menjemputnya?" tanya Yezo terkejut.


"Hemm," deham Gieno. Laki-laki itu membawa tubuh Mentari ke sebuah kursi di dalam ruangan itu.


"Padahal dia kan bosan terus kau kurung," celetuk Patrik.


"Terus aku harus membiarkannya keluar dan berbicara mesra dengan laki-laki lain, begitu?" balas Gieno tidak suka.


Kening lima anggota inti itu berkerut melihat wajah kesal Gieno. Setelahnya mereka saling pandang dan tersenyum penuh arti. "Kau cemburu?" tanya Rangga.


Gieno menoleh dan menatap lima laki-laki itu dengan kening berkerut. "Tidak usah membahas hal tidak penting. Sekarang ayo kita mulai, aku gerah," papar Gieno.


Mendengar itu lima laki-laki itu kembali menoleh ke arah Mentari yang terkejut ditatap seperti itu oleh lima inti Zero. Mentari menundukkan wajahnya merasa traumanya masih sedikit tersisa. Sedangkan Gieno tang mengerti maksud tatapan teman-temannya kembali bersuara. "Dia takut di kamar sendiri, biarkan saja dia di sini. Tidak akan berpengaruh," ucap Gieno.


"Sudah, ayo kita mulai," ajak Yezo.


"Kak." Suara pelan Mentari mengalihkan perhatian enam laki-laki itu. Gieno yang melihat lima temannya ikut menoleh mendengus malas.

__ADS_1


"Tidak usah ikut melihat, dia ketakukan karena kalian," dengus Gieno.


"Huh, bilang saja kau cemburu," ejek Patrik.


Gieno menghiraukan perkataan Patrik, laki-laki itu kembali menatap wajah Mentari. "Apa?" tanya Gieno.


"Lembutlah sedikit kepada perempuan, kau ini bagiamana? Masih saja datar seperti tembok," celetuk Ferry.


"Ck, diamlah. Kalian duduk saja ditempat masing-masing dan siapkan bahan masing-masing," cetus Gieno mulai kesal.


Gieno memilih mendekat ke arah Mentari dan menatap wajah manis gadis itu. "Ingin apa?" ulang Gieno bertanya.


"Ada." Gieno berlalu ke arah meja utama ruangan itu dan mengambil sesuatu dari atas meja itu.


Gieno memasangkan benda itu di kepala Mentari, tepat menutupi telinga gadis itu. "Sudah?" tanya Gieno. Mentari mendongak dan mengangguk kecil.


...*****...

__ADS_1


"Apa dia masih di Irlandia? Kenapa tidak ada kabar? Nomornya juga tidak aktif hari ini," gumam Naraya merasa galau.


"Sayang," panggil Nayry. "Kamu sedang apa melamun di sini sendiri?" sambung Nayry.


"Tidak, Ma. Hanya sedang menyegarkan otak saja," balas Naraya.


"Kenapa, kemu ada masalah?" tanya Nayry.


"Tidak, hanya sedang malas melakukan apa pun saja rasanya," sahut Naraya. 'Kalau aku beri tahu masalah Gieno, Mama pasti berceramah lagi,' sambung Naraya di dalam hati.


"Kamu masih ingin santai, Sayang? Tidak ingin mencoba ke perusahaan? Kasihan Kakek dan Papa kewalahan," bujuk Nayry.


Naraya menghela napas panjang mendengar perkataan Nayry. "Tidak, Ma. Aku sekarang sedang berusaha membuat design baju. Mana tahu dengan ini nanti aku bisa segera membuka butik besar," ungkap Naraya.


Nayry yang mendengar perkataan Naraya hanya bisa mengangguk kecil. Sebagai seorang ibu, dia tidak bisa memaksa Naraya untuk mengikuti keinginan Kakek dan Papanya. Nayry paham jika Naraya juga butuh kebebasan untuk memilih. "Sayang, jika Papa menikah lagi … kamu mengizinkan?" celetuk Nayry tiba-tiba.


Jelas saja perkataan itu membuat Naraya terkejut. Naraya menoleh menatap Nayry terkejut. "Maksud Mama apa? Kenapa berbicara seperti itu?" tanya Naraya.

__ADS_1


Nayry tersenyum tipis menanggapi pertanyaan putrinya. "Mama sudah tidak bisa hamil lagi, Ray. Kakek kamu membutuhkan penerus untuk Barka, sedangkan kamu putri satu-satunya tidak tertarik dengan itu. Jadi … solusi satu-satunya adalah Papa menikah lagi," jelas Nayry. Mendengar itu jelas saja membuat Naraya terkejut. Naraya menatap wajah Nayry tidak setuju.


__ADS_2