
"Ingin pergi hari ini?" tanya Yezo.
"Hemm," deham Gieno malas.
Lima laki-laki yang berada di sana saling pandang bingung. Tidak biasanya Gieno terlihat tidak bersemangat seperti itu. "Kau kenapa?" tanya Rangga.
Gieno menoleh dan menggeleng pelan. Hal itu tentu saja membuat tanda tanya di benak lima temannya semakin membesar. "Bukankah kau seharusnya semangat akan menemui keluarga Barka hari ini?" tutur Petrik.
Gieno menghela napasnya berat. "Entahlah," sahut Gieno.
"Kau kenapa sebenarnya? Ada masalah?" tanya Yezo.
"Saat seorang laki-laki sudah menegang dan begitu bernafsu kepada seorang wanita, tetapi tiba-tiba malah tidak bisa melakukan hal itu kepadanya. Menurut kalian itu kenapa?" tanya Gieno.
Lima laki-laki itu mengernyit tidak mengerti. "Nafsu bercintamu menghilang?" tanya Fery.
"Tidak," sahut Gieno.
"Terus?" tanya Petrik bingung.
"Ck … seperti yang aku katakan tadi, sudah menegang tapi tidak bisa melakukannya," ucap Gieno bingung ingin menjelaskan seperti apa.
__ADS_1
"Apa kau melampiaskannya kepada wanita lain?" tebak Rangga.
Gieno menoleh cepat ke arah Rangga. "Kau memang pintar," sahut Gieno cepat.
Rangga mengangguk singkat sedangkan empat laki-laki lain masih terlihat dalam kebingungan. "Kau menginginkan wanita itu, bahkan pedangmu sudah menegang dan siap bertempur. Tapi, kau malah tidak bisa melakukan hal itu karena sesuatu di dalam hatimu menahannya. Hasilnya kau melampiaskan itu semua kepada wanita lain," terang Rangga.
Gieno menatap Rangga serius, sedangkan empat laki-laki lainnya mulai mengerti maksud perkataan Gieno tadi. "Jadi, itu kenapa?" tanya Gieno tidak sabar.
"Dia masih perawan?" tanya Rangga lagi.
"Yah," balas Gieno cepat.
Rangga menghela napas sebelum kembali bersuara. "Itu karena kau tidak ingin merusaknya," tutur Rangga.
Gieno masih diam dengan wajah datarnya. 'Apa iya seperti itu?' batin Gieno.
"Apa dia wanita yang waktu itu?" tanya Yezo.
"Wanita yang kau culik di kampus itu?" tambah Fery.
"Sudahlah, mungkin karena dia tidak bersedia melakukannya denganku. Jadi aku juga tidak ingin memaksanya," papar Gieno mencoba membohongi perasaannya sendiri.
__ADS_1
Rangga menghela napas pelan, itulah kenapa wajah laki-laki itu terlihat biasa saja saat mengatakan hal itu kepada Gieno. Sebab sifat egois dan arogan yang dimiliki Gieno membuat laki-laki itu memilih tidak percaya dengan perasaannya sendiri. Sedangkan empat teman lainnya sudah mendengus malas mendengar perkataan Gieno.
Gieno berdiri dari duduknya. "Ayo." Setelahnya laki-laki itu berjalan mendahului teman-temannya yang masih menatap malas ke arah Gieno.
"Ck … sudah mulai tertarik kepada wanita, tapi malah tidak mengakui," tutur Petrik.
"Aku sudah menebaknya," ucap Rangga.
"Sudahlah, sekarang ayo kita susul dia. Setelah ini baru kita bahas itu lagi," sela Yezo.
...*****...
"Ada apa ini? Kenapa kalian membuat kekacauan di perusahaan kami?" teriak Abraham.
Kondisi perusahaan Barka sudah sangat berantakan. Sekitar seratus anggota Zero datang dan membuat kekacauan di sana. Abraham dan Heiki sudah menghubungi polisi, tetapi semuanya berakhir sia-sia. Laporan mereka yang menyeret nama Zero tidak ditanggapi oleh pihak kepolisian.
Brak …. "Hentikan! Apa-apaan kalian," teriak Heiki marah.
Namun, teriakan itu hanya menjadi angin lalu di telinga anggota Zero. Mereka masih saja meneruskan aktifitas mereka merusak properti dan segalanya. "Brengsek! Siapa yang menyuruh kalian melakukan ini kepada perusahaan kami, hah? Apakah kalian salah alamat?" murka Heiki.
"Bagaimana ini Pa, semuanya semakin kacau," ucap Heiki frustasi.
__ADS_1
Abraham mengepalkan tangannya sambil menatap tajam sekumpulan laki-laki yang terus bertindak anarkis. "Polisi saja tidak menghiraukan," sambung Heiki.