Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
83. Panas


__ADS_3

Gieno menghela napas panjang mencoba untuk menghilangkan keinginan biar nya saat ini. Laki-laki itu memejamkan matanya sejenak, sampai akhirnya mobil yang ditumpanginya kembali berada di jalan normal. Sedangkan Mentari menghela napas lega saat melihat mereka sudah kembali ke jalan raya. "Apa mereka masih mengejar kita, Kak?" tanya Mentari.


"Tidak," sahut Gieno.


"Syukurlah." Mentari kembali menghela napas lega saat mendengar perkataan Gieno.


"No." Suara rangga terdengar menggema di telinga Gieno.


"Apa?" sahut Geino.


"Kau sudah berada di mana?" tanya Rangga.


"Dua kilometer lagi aku sampai di sana," jawab Gieno.


"Apa luka Mentari parah? Apa perlu aku panggil Dokter?" tanya Rangga.


Mendengar perkataan Rangga, Gieno tersadar jika mentari sedang terluka saat ini. Laki-laki itu melirik singkat ke arah Mentari, yang saat ini sedang merubah kan kepalanya di bahu laki-laki itu. "Apa kepalamu masih sakit?" tanya Gieno.


Mentari tersadar saat mendengar kalimat Gieno. Gadis itu mengangkat kepalanya dari bahu laki-laki itu. "Masih, Kak," balas Mentari.

__ADS_1


"Panggilkan Dokter," tutur Gieno.


"Eh, tidak perlu memanggil Dokter, Kak. Ini hanya luka kecil," ucap Mentari.


"Luka ya tetap luka, harus diobati oleh ahlinya," ungkap Gieno.


Mentari yang mendengar kalimat Gieno, hanya bisa menghela napas pasrah. Untuk menyerah dan membantah iblis gila itu, Mentari sungguh tidak memiliki keberanian. Gadis itu hanya bisa menuruti semua perkataan Gieno. "Kalau kau mengantuk, tidurlah lagi. Semuanya sudah selesai," ucap Gieno.


Mendengar perkataan Gieno, Mentari kembali merebahkan kepalanya di bahu bidang laki-laki itu. Meski berada di dekat Gieno, terkadang membuat gadis itu merasa takut. Namun, dalam keadaan tertentu seperti ini. Mentari malah merasa begitu nyaman dan merasa aman di dekat Gieno.


Tanpa sadar, mentari melingkarkan kedua tangannya, di pinggang kekar laki-laki tampan itu. Sedangkan Gieno, yang mendapat perlakuan seperti itu, sempat terkejut. Namun, setelahnya laki-laki itu hanya diam tidak melarang perlakuan Mentari.


"Hem," deham Gieno.


"Kau sudah sampai di markas?" tanya Yezo.


"Sebentar lagi, kenapa?" balas Gieno balik bertanya.


"Tidak, apa kau akan ke sini?" tanya Yezo lagi.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan dari Yezo, Gieno kembali melirik ke arah Mentari. Nampak mata Mentari sudah tertutup, sepertinya gadis itu kembali ke alam mimpinya. "Lihat dulu, memangnya kenapa?" tanya Gieno lagi.


"Tidak, mana tahu kau ingin menghabisi langsung orang-orang yang berani menyentuh gadismu. Di sini lumayan menyenangkan," jelas Yezo.


"Yang pasti aku antarkan dulu Mentari ke markas. Setelahnya, lihat nanti dulu. Mentari takut berada di kamar sendiri," tutur Gieno.


Yezo yang mendengar kalimat Gieno, sudah tersenyum tipis di seberang sana. Laki-laki itu merasa senang saat mengetahui Gieno mulai pengertian dan perhatian kepada seorang wanita. "Baiklah, kalau kau ingin ke sini. Katakan saja kepadaku nanti, biar aku sisakan orang-orang penting untukmu," papar Yezo.


Gieno yang mendengar kalimat itu menyeringai iblis. "Akan aku usahakan untuk ke sana, aku juga sudah lama tidak bermain," ucap Gieno.


"Jika Mentari takut sendiri, mungkin kau bisa menyuruh Rangga atau Patrik untuk menemaninya. Jadi kau bisa ke sini," pancing Yezo.


Gieno terdiam sesaat mendengar perkataan Yezo. Entah kenapa, hati laki-laki itu merasa tidak terima jika Mentari ditemani oleh laki-laki lain di dalam kamar. "Tidak, jika dia tidak bisa ditinggal. Maka aku tidak akan ke sana," putus Gieno.


Mendengar perkataan Gieno, Yezo tertawa kecil. Laki-laki itu menembak, Gieno benar-benar sudah jatuh kepada Mentari. 'Aku yakin sebentar lagi, kau tidak akan bisa jauh dari gadis itu,' batin Yezo.


Beberapa menit melajukan mobilnya. Sekarang mobil itu sudah berada tepat di depan gerbang markas Zero. Gieno mengajukan mobilnya ke arah teras utama markas itu. Setelahnya laki-laki itu mematikan mesin mobil. Secara perlahan, laki-laki itu membuka pintu mobil dan membawa tubuh Mentari keluar dari mobil.


Namun, langkah kaki Gieno berhenti sangat merasakan suhu tubuh gadis yang berada di gendongan itu. Kulit wajah Mentari yang bersentuhan dengan lehernya, terasa begitu panas. Laki-laki itu mengernyit merasa ada yang tidak beres dengan Mentari. Laki-laki itu mengayunkan tangannya, mencoba menyentuh kening Mentari.

__ADS_1


"Panas." Gieno terkejut saat merasakan suhu tubuh mentari terasa begitu panas. Laki-laki itu dengan cepat melangkahkan kakinya ke dalam markas.


__ADS_2