
Gieno dengan cepat mengalihkan pandangannya dari Mentari. Laki-laki itu berjalan cepat ke arah ranjang tanpa menoleh lagi ke belakang. "Cepat pakai bajumu," ucap Gieno.
Buk …. "Akh." Gieno menoleh ke belakang dan melihat Mentari sedang mengusap keningnya yang baru saja terbentur punggung keras Gieno.
"Kenapa kau berjalan di belakangku?" tanya Gieno.
"Aku tidak punya baju ganti," jawab Mentari.
Gieno terdiam dan beru menyadari itu. Laki-laki itu menghela napas berat. 'Ck, ribet sekali,' batin Gieno kesal.
"Ya sudah, aku pesankan baju untukmu dulu. Sembari menunggu kau pakai bajuku dulu," ucap Gieno.
Mentari menoleh dan mengikuti langkah kaki Gieno ke arah lemari. "Pakai ini." Gieno memberikan baju kaos polos miliknya kepada Mentari.
Tok … Tok … Tok …
Suara pintu kamar mengalihkan sepasang insan itu. "Kau pakailah pakaian itu, aku ke depan dulu," tutur Gieno.
"Tapi jangan tinggalkan aku ya, Kak," sahut Mentari.
"Tidak, pakai saja." Setelah mengucapkan itu, Gieno pergi dari sana menuju ke arah pintu kamar.
Cklek …. Tiga sosok laki-laki berdiri di depan pintu kamar iblis gila itu. "Ada apa?" tanya Gieno.
__ADS_1
"Kau jadi pergi atau tidak? Yezo baru saja bertanya," ucap Rangga.
Gieno melirik ke belakang sebelum bersuara. "Mentari bangun," tutur Gieno.
"Terus?" tanya Petrik.
"Dia tidak ingin ditinggal," balas Gieno.
Tiga laki-laki dihadapan Gieno saling tatap. Setelahnya mereka tersenyum penuh arti. "Baiklah, jadi kau tidak jadi pergi ke sana?" tanya Rangga memastikan.
"Apa mereka sudah hampir selesai?" tanya Gieno.
"Belum, bahkan mereka baru saja mulai," jawab Rangga.
"Aku lihat dulu, nanti aku beri tahu ka …."
"Uhuk … uhuk …." Petrik terbatuk, jelas saja suara itu mengejutkan Gieno yang masih nampak tertegun. Laki-laki itu menoleh cepat ke arah tiga sahabatnya dan melotot tajam.
"Jaga mata kalian, bedebah," desis Gieno. "Masuk!" sambung Gieno kepada Mentari.
"Aku takut sendiri di dalam, ini saja aku sudah cepat-cepa memasang baju," ungkap Mentari.
"Ck, kalian pergilah. Nanti aku hubungi."
__ADS_1
Brak …. Gieno menutup pintu kamarnya begitu kasar sehingga mengejutkan tiga laki-laki yang masih berada di depan kamar itu. "Dia cemburu, itu menandakan kalau dia benar-benar suka kepada gadis itu kan?" celetuk Petrik.
"Kita lihat ke depannya," balas Rangga.
"Ayo." Melvin berucap sambil berjalan menjauh dari depan pintu sang ketua.
Sedangkan di dalam sana, Gieno sudah menatap Mentari dengan pandangan frustasi. 'Kenapa dia malah terlihat semakin seksi dan menggoda memakai baju kaosku?' batin Gieno.
"Kak." Suara lembut Mentari menyadarkan Gieno. Laki-laki itu menoleh dan menatap Mentari sejenak. Setelahnya Gieno menarik tangan Mentari menuju ke atas ranjang.
"Duduk di sini, biar aku obati dulu luka kepalamu. Aku setelah ini ingin pergi, kau tunggu di sini," ungkap Gieno.
"Kakak ingin ke mana? Kalau Kakak pergi, aku ingin ikut saja. Aku tidak berani menunggu di sini sendirian," balas Mentari.
"Aku akan ke tempat pertempuran, jika bukan karena kau, aku sudah dari tadi berada di sana," cetus Gieno. Laki-laki itu mulai sibuk dengan obat di tangannya.
Sedangkan Mentari sudah terdiam mendengar kalimat Gieno. Gadis itu merasa dirinya saat ini menjadi penghalang bagi Gieno. Merasa Mentari terdiam, Gieno menunduk menatap wajah gadis itu. Kening Gieno berkerut saat melihat raut sendu gadis itu. "Di sini banyak orang, tidak ada yang perlu kau takutkan," papar Gieno menyadarkan Mentari.
"Shh …." Mentari meringis kala obat merah itu mulai memasuki lukanya.
"Tahan sebentar," tutur Gieno. Laki-laki itu secara perlahan menarik kepala Mentari yang sedang duduk di atas ranjang. Gieno mengobati gadis itu sambil berdiri supaya terlihat lebih jelas, karena luka Mentari berada sedikit di puncak kepala.
Mentari yang menahan perih, berpegangan pada kedua sisi paha Gieno. Saat terasa perih dan sakit, gadis itu meremas paha Gieno. Sehingga dengan itu, Gieno bisa tahu jika Mentari menahan sakit. Laki-laki itu sudah bergerak begitu pelan. "Sudah, nanti akan tidur diganti. Sekarang aku harus pergi, kau tidurlah," titah Gieno.
__ADS_1
Laki-laki itu mengambil jaketnya dan berniat pergi dari sana. Namun, langkah laki-laki itu terhenti saat Mentari menyentuh celananya. "Aku tunggu di tempat ramai saja, Kak. Anggota lain ada di sini kan? Aku menunggu dekat mereka saja. Aku takut di sini, di sini gelap," cicit Mentari.
Gieno menghela napas berat mendengar kalimat Mentari. "Ck, ayo," balas Gieno mengalah.