Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
30. Jatuh


__ADS_3

"Naraya," panggil Abraham.


Naraya menoleh dan menatap laki-laki tua yang merupakan kakeknya itu. "Iya, Kek?" sahut Naraya.


"Kamu benar-benar tidak sengaja bertemu dengannya?" tanya Abraham.


"Tuan De Larga, maksud Kakek?" tanya Naraya.


"Iya," balas Abraham.


"Iya, aku sudah menunggu kendaraan lewat hampir satu jam di sana. Kebetulan sekali Tuan De Larga lewat, aku merasa beruntung mobilku mati tadi." Naraya menjelaskan sambil tersenyum senang.


"Jauhi dia Naraya," peringat Abraham.


Naraya menoleh cepat ke arah kakeknya. "Kenapa? Aku menyukainya," ujar Naraya.


"Dia bukan orang sembarangan, Naraya. Kamu tahu betul bagaimana berbahayanya dia. Belum lagi dengan sifat pemain wanitanya itu. Papa tidak mau kalau kamu hancur nantinya," tutur Hieki menjelaskan.

__ADS_1


"Aku tahu, tapi aku percaya diri dengan wajah cantikku Pa. Bukankah kalian sendiri yang mengatakan kalau aku adalah wanita cantik yang tidak akan bisa ditolak pria mana pun," kata Naraya.


Heiki menghela napas panjang mendengar penuturan Naraya. "Itu memang benar, tapi Tuan De Larga bukan laki-laki biasa, Naraya. Intinya kamu jauhi dia," ucap Heiki.


"Tidak, Pa. Aku bahkan baru memulainya, ini adalah kesempatan bagus untukku. Selama ini aku tidak pernah tertarik kepada laki-laki. Sekarang aku menginginkannya. Bukankah Papa dan Kakek yang mengajarkan aku, apa pun yang aku inginkan … harus aku dapatkan," papar Naraya.


Abraham dan Heiki terdiam mendengar kalimat Naraya. Untuk pertama kalinya mereka merutuki dan menyesali pengajaran keras itu kepada Naraya. "Sudahlah, aku lelah sekali. Aku masuk terlebih dahulu." Setelah mengatakan itu, Naraya pergi dari sana meninggalkan tiga manusia yang masih terdiam.


Heiki mengusap wajahnya kasar. "Bagaimana ini, Pa? Naraya keras kepala, dia tidak akan mau mendengarkan perkataan kita. Aku tidak mau kalau sampai laki-laki brengsek itu menyentuh putriku," tutur Heiki khawatir.


"Tidak bisa, Sayang. Naraya tetap tidak akan percaya, kamu tahu bagaimana sifat putri kita," pungkas Heiki.


"Terus kita harus apa?" tanya Nayry.


"Kita pantau pergerakan Naraya," cetus Abraham.


"Tapi … aku kurang yakin dengan ini, Pa. Papa lupa dengan keberadaan Zero?" ujar Heiki.

__ADS_1


Abraham terdiam. "Kalau mengingat itu, aku malah berpikir, gerak-gerik kita saat ini bahkan sedang dipantau oleh Gieno," sambung Heiki.


"Tidak salah mencoba dan berusaha dulu, lakukan saja," tutur Abraham.


...*****...


Entah kenapa mata Mentari terasa begitu ringan malam ini. Gadis itu sama sekali tidak merasa mengantuk. "Ck, kenapa mataku masih tidak ingin diajak tidur," gumam Mentari.


Suara mobil yang begitu dikenalinya mengalihkan perhatian Mentari. Entah kenapa mengetahui itu membuat hati Mentari terasa lain. Ada perasaan senang menyelinap di antara perasaan was-was. "Aku kenapa sebenarnya?" Mentari kembali bergumam sambil memegang dadanya.


Baru saja gadis itu ingin membuka pintu kamarnya, pergerakannya terhenti kala mendengar suara aneh yang pernah didengarnya di mansion ini. Perasaan bercampur di dalam hati Mentari tadi, tiba-tiba berubah menjadi sebuah perasaan sakit yang mampu membuat hati Mentari berdenyut nyeri. "Aku kenapa?" lirih Mentari pelan.


Tes …. Lama mendengarkan, satu tetes air mata jatuh dari pelupuk mata bulat Mentari. Gadis yang sudah terkulai lemah di atas lantai itu menangis dalam diam. 'Aku sudah jatuh kepada laki-laki itu, kenapa? Padahal kamu tahu dia adalah laki-laki brengsek,' batin Mentari sakit.


Sedangkan di lantai utama, Gieno saat ini sedang bertempur panas dengan seorang wanita seksi. Kegiatannya itu disudahi saat laki-laki itu sudah mencapai puncak kenikmatannya. "Pergi," ucap Gieno dingin.


'Aku bahkan tidak diizinkan untuk menyentuhnya. Dia hanya memerlukan lubangku? Tapi nikmat sekali permainannya,' batin wanita seksi itu.

__ADS_1


__ADS_2