Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
68. Toko Buku


__ADS_3

"Bapak tunggu di sini?" tanya Mentari.


"Iya, Nona. Lagi pula sudah ada mereka." Mentari menoleh ke arah tunjuk laki-laki paruh baya itu.


Mentari melotot saat melihat dua laki-laki sedang berdiri siaga di belakang tubuhnya. "Ini, kenapa kalian ikut? Sekarang kan Kak Gieno sudah pulang," ucap Mentari bingung.


"Sesuai perintah Ketua, kami akan terus mengikuti pergerakan Nona jika berada di luar mansion," balas seorang laki-laki.


Kening Mentari berkerut bingung mendengar perkataan itu. "Maksudnya aku masih akan terus diikuti seperti satu minggu yang lalu. Begitu?" tanya Mentari.


"Iya, Nona," sahut laki-laki itu lagi.


Mentari menghela napas panjang mendengar jawaban laki-laki itu. Ingin protes pun gadis itu tidak berani. Dia hanya bisa pasrah dengan apa yang diperintahkan Gieno. Dengan langkah malas Mentari berjalan ke dalam area Mall. Sepanjang perjalanan, Mentari merasa begitu risih karena semua tatapan mata sedang menoleh ke arahnya.


"Ck, ini pasti karena mereka. Mana label Zero di baju mereka begitu jelas lagi. Pasrahlah aku," gumam Mentari pasrah.


Beberapa toko buku sudah dikunjungi oleh Mentari. Namun, buku yang dicari gadis itu masih belum dia temukan. "Lelah sekali aku, kenapa tidak ada semua?" tutur Mentari.


Gadis itu menoleh ke belakang dan melihat dua laki-laki yang masih nampak santai mengikuti langkahnya. "Apa kalian lelah, silakan duduk dulu," ucap Mentari.


"Tidak, Nona. Apa Anda lelah? Apa perlu kami memberikan minuman?" tanya salah satu dari laki-laki itu.


"Ah, tidak usah. Aku ingin segera menemukan benda yang aku cari. Supaya aku bisa cepat pulang," balas Mentari.

__ADS_1


"Apa bisa kami membantu, Nona?" tutur satu laki-laki lagi.


Mentari menatap mereka dengan pandangan berbinar. "Wah, kalian mau membantuku? Boleh sekali, ayo. Masih ada satu toko buku lagi yang aku tahu," sahut Mentari antusias.


Mentari masuk ke dalam sebuah toko buku. Mentari membalikkan badannya dan menatap dua laki-laki di belakangnya. "Aku bagian ini, Kakak ini bagian yang di sana dan Kakak bagian di belakang ini," kata Mentari membagi tempat.


"Baik, Nona," sahut dua laki-laki itu patuh.


Mentari tersenyum senang melihat dua laki-laki itu langsung bergerak. "Senang juga ternyata, hihi." Mentari terkekeh kecil merasa begitu senang.


"Maaf, Nona." Mentari terlonjak saat suara seseorang mengejutkan dirinya. Gadis itu menoleh dan menatap seorang laki-laki yang sedang berdiri di sampingnya.


"Iya?" sahut Mentari.


"Aku ingin mengambil buku itu." Laki-laki itu menunjuk sebuah buku yang tepat berada di dekat Mentari.


...*****...


"Apa ini bagus?" Naraya memperlihatkan sebuah dress kepada Gieno.


"Bagus," sahut Gieno singkat.


"Yang benar? Dari tadi kamu menjawab bagus bagus terus, loh," tutur Naraya nampak kesal.

__ADS_1


"Memang bagus, kau bagus pakai apa saja," ucap Gieno santai.


Naraya tersenyum mendengar perkataan Gieno. Wanita itu nampak begitu senang mendengar Gieno secara tidak langsung sedang memuji dirinya. 'Dia secara tidak langsung mengatakan aku cantik, kan? Ah, ini benar-benar kemajuan pesat. Sepertinya sebentar lagi dia benar-benar bisa berada di dalam genggamanku,' batin Naraya.


"Ekhm … baiklah, aku ambil yang ini, Mbak." Naraya memberikan sebuah dress di tangannya kepada karyawan toko.


"Setelah ini kita mencari makan, ya," tutur Naraya.


"Iya," sahut Gieno.


'Yes, dia mulai menuruti semua keinginanku,' jerit Naraya di dalam hati.


.


.


.


Gieno sedang berjalan santai bersama Naraya yang terus memeluk lengan kekarnya. Langkah kaki laki-laki itu terhenti saat matanya menangkap sosok yang begitu dikenalinya. 'Mentari?' batin Gieno.


Naraya mendongak ke arah Gieno yang tiba-tiba menghentikan langkahnya. "Ada apa?" tanya Naraya.


Gieno tidak menghiraukan pertanyaan Naraya. Rahang laki-laki itu mengeras melihat Mentari sedang berbicara dengan seorang laki-laki. Tangan iblis gila itu mengepal kuat merasa begitu tidak suka. Dengan langkah lebar, Gieno meninggalkan Naraya dan berjalan masuk ke dalam toko buku itu.

__ADS_1


"Kak," panggil Naraya. Dengan langkah cepat wanita itu mengikuti langkah kaki Gieno.


"Astaga, dia ingin ke mana sih? Kenapa tiba-tiba masuk ke toko buku?" gerutu Naraya bingung.


__ADS_2