
“Apa?” Heiki berteriak sambil berdiri dari duduknya. Laki-laki paruh baya itu menatap tajam sseorang bawahan di seberang meja kerjanya.
“Jangan bercanda! Kau ingin mati?” sambung Heiki.
“Saya tidak bercanda, Tuan. Memang seperti ini adanya, harga saham Barka tiba-tiba turun drastis. Jika sampai nanti malam kita tidak bisa menangani ini. Maka bisa dipastikan pengamat bisnis akan menyatakan perusahaan ini bangkrut,” ucap laki-laki itu.
“Mana bisa begitu, bangsat! Perusahaan Barka dibangun dan diperjuangan selama berpuluh tahun untuk bisa mencapai tahap ini. Mana mungkin akan bangkrut hanya dalam hitungan jam?” balas Heiki tidak terima.
“Tapi itulah kebenarannya, Tuan. Kita tidak bisa mengelak dengan kenyataan ini. Sekarang bagian investor mulai menarik diri dari Barka. Dengan demikian mereka tidak ingin ikut terseret dalam permasalahan ini,” papar laki-laki itu.
“Bangsat, kenapa bisa jadi seperti ini?” umpat Heiki.
“Saya juga sepertinya sudah tidak bisa bertahan, Tuan. Saya juga ingin langsung mengundurkan diri saaat ini,” tutur laki-laki itu lagi.
“Apa? Jadi sekarang kau ingin kabur setelah semua hal yang diberikan Barka untukmu?” murka Heiki.
“Saya juga butuh uang untuk menghidupi keluarga saya. Lagi pula sebenarnya sudah sedari lama saya ingin keluar dari perusahaan pelit ini. Apa Anda tidak sadar jika selama ini banyak pegawai yang protes masalah gaji? Anda hanya tahu hasil saja, tanpa tahu keluhan para karyawan,” ujar laki-laki itu.
“Apa sekarang kau sudah berani kepadaku?” murka Heiki.
__ADS_1
“Anda bukan lagi atasan saya. Saya hanya ingin mengatakan dan menekankan ini kepada Anda. Semua ini terjadi saya rasa karena doa dan umpatan para karyawan yang selama ini tertindas oleh Barka. Kalian hanya memikirkan kekayaan kalian tanpa memikirkan bagaimana sulitnya para bawahan untuk menyesuaikan pekerjaan dengan gaji yang tidak seberapa. Inilah hasilnya sekarang, perusahaan kalian hancur dalam hitungan jam,” ejek laki-laki itu berani.
“Laki-laki kurang ajar kau! Apa kau ingin mati? Lihat saja, setelah perusahaan Barka membaik, aku pastikan kau adalah orang pertama yang akan aku buat sengsara,” bentak Heiki.
Laki-laki itu tertawa mengejek mendengar kalimat Heiki. “Membaik? Ternyata Anda benar-benar bodoh. Pantas saja Tuan besar Barka tidak percaya melepas perusahaan kepada Anda selama ini,” kata laki-laki itu sinis.
“Brengsek! Apa maksudmu, hah? Kau mengataiku?” berang Heiki.
“Memang begitu adanya, kau tidak tahu jika perusahaanmu ini sudah tidak bisa lagi diselamatkan. Karyawan kecil saja tahu bagaimana hidup perusahaan Barka saat ini. Tidak ada lagi cela untuk kalian berkilah dari kata bangkrut. Aku jamin, tidak sampai tiga jam lagi … siaran televisi akan segera mengumumkan kebangkrutan kalian,” cibir laki-laki itu.
“Bangsat! Menyingkir kau dari hadapanku,” pekik Heiki nampak begitu marah.
“Kau ….”
Brak …
Kalimat Heiki terhenti karena dengan tiba-tiba pintu ruangan kerjanya itu dibuka secara kasar. Heiki dapat melihat keberadaan Abraham yang saat ini nampak begitu panik. “Pa ….”
“Cepat ke atas, bodoh!” bentak Abraham cepat.
__ADS_1
Kening Heiki berkerut mendengar kalimat Abraham. Laki-laki paruh baya itu nampak tidak paham dengan maksud dari papanya itu. “Maksud Papa apa? Ke atas mana lagi? Ini kan sudah lantai teratas,” ujar Heiki bingung.
“Naraya.”
“Ada apa dengan Naraya?” tanya Heiki.
“Dia ingin bunuh diri, dia ingin melompat dari gedung ini.”
Deg …
“Apa?” teriak Heiki.
“Ternyata keluarga kalian sudah benar-benar kacau, ya. Tidak heran karena kalian memang orang-orang sombong, angkuh dan arogan,” cibir laki-laki yang sedari tadi masih berada di sana.
“Kau!”
“Tidak usah hiraukan dia, Heiki. Naraya lebih penting sekarang, bagaiamana kalau dia benar-benar nekat?” sela Abraham.
“Anak itu kenapa sebenarnya, kenapa dia sampai berpikiran untuk bunuh diri?” celoteh Heiki nampak cemas dan khawatir.
__ADS_1