
Satu minggu berlalu, Mentari saat ini sudah kembali ke mansion Gieno. Gadis itu sedang menandangi tetesan hujan di balkon kamarnya. Hujan cukup deras dengan angin sepoi-sepoi yang cukup untuk menggilkan tubuh manusia. Namun, sepertinya tidak bagi Mentari yang masih saja bertahan di sana.
Mentari terlonjak kala sepasang tangan kekar melingkar sempurna di perutnya. Tanpa gadis itu berbalik badan, dia sudah tahu siapa pemilik tangan kekar itu. Pelukan hangan yang beberapa hari ini mampu menenangkan keterguncangan jiwanya. "Kenapa tidak masuk? Apa kau tidak kedinginan?" bisik Gieno.
"Aku hanya sedang menikmati kesejukan ini, Kak," sahut Mentari.
"Ayo masuk, hujannya semakin deras," ajak Gieno.
"Sebentar lagi, ya," pinta Mentari.
Gieno menatap bola mata bulat itu, setelahnya laki-laki itu mengecup singkat pipi berisi milik Mentari. "Aku akan pergi malam ini," tutur Gieno.
"Ke mana?" tanya Mentari.
"Irlandia."
Deg …. Jantung Mentari seakan berhenti berdetak saat mendengar kalimat itu. Gadis itu membalikkan badannya dan menatap Gieno yang jauh lebih tinggi dengannya. "Kenapa mendadak?" tanya Mentari.
"Tidak mendadak, aku sudah berencana dari satu minggu yang lalu," sahut Gieno.
__ADS_1
Mentari terdiam, dia salah selama ini berpikir kalau Gieno sudah mulai menatapnya dengan keseriusan. 'Kau terlalu berharap lebih, Mentari,' batin Mentari sedih.
"Berapa lama, Kak?" tanya Mentari mencoba terlihat biasa saja.
"Belum tahu pasti, jika urusanku cepat selesai, maka cepat kembali. Perkiraanku, paling lama sepuluh hari."
Deg …. Jantung Mentari kembali terkesiap di dalam sana. Bukan apa-apa, gadis itu sudah begitu terbiasa dengan keberadaan Gieno di sampingnya. Apa lagi setelah kejadian penculikan itu, Mentari hanya bisa tertidur nyenyak jika bersama Gieno. 'Bagaimana aku sekarang? Sepertinya aku memang hanya pajangannya, dia tidak memikirkan aku,' batin Mentari sendu.
"Selama aku pergi, pengawasan akan aku perketat untukmu. Kau tidak bisa pergi dari sini, jadi jangan coba-coba untuk kabur," peringat Gieno.
Mentari tersenyum kecut. 'Kabur? Berpisah saja sekarang aku seakan tidak bisa, apa yang harus aku lakukan sekarang? Kenapa aku tidak bisa menjaga hati ini, padahal dia adalah predator wanita.' Mentari kembali membatin.
"Kau paham?" Suara Gieno mengejutkan Mentri dari lamunannya.
Gieno mengernyit kala melihat pancaran kesedihan di mata bulat itu. Senyum tipis yang diberikan Mentari juga terasa berbeda. "Jam berapa Kakak berangkat?" tanya Mentari menyadarkan Gieno.
"Jam sepuluh malam," sahut Gieno.
Mentari mengangguk pelan mendengar jawaban Gieno. "Kakak pergi sendiri?" tanya Mentari lagi.
__ADS_1
"Ya."
"Kalau boleh tahu, untuk urusan apa? Apa bisnis Kakak?" tutur Mentari bertanya lagi.
"Urusan Zero," jawab Gieno jujur.
Mentari menunduk, ada perasaan khawatir menyelinap masuk ke dalam rongga hatinya. Mengetahui laki-laki itu pergi untuk urusan gengsternya, membuat perasaan Mentari tidak nyaman. "Kenapa Kakak hanya pergi sendiri, bukannya itu berbahaya?" ucap Mentari.
"Aku sudah biasa," balas Gieno santai. "Ayo masuk." Gieno menarik tangan Mentari dan membawa gadis itu masuk.
Gieno duduk di atas ranjang dan menarik Mentari untuk duduk di atas pangkuannya. Laki-laki itu memeluk tubuh Mentari dan membenamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu. Sedangkan Mentari hanya diam dengan posisi yang saat ini sudah begitu biasa dia hadapi bersama Gieno. 'Dia sudah menjadi candu bagiku, bagaimana kalau seandainya aku menginginkan hal seperti ini nanti? Apa bisa digantikan dengan wanita lain?' batin Gieno.
"Kak," panggil Mentari.
"Hem," deham Gieno.
"Apa boleh aku berbaring? Tubuhku cukup lelah."
Gieno mengangkat kepalanya, tanpa aba-aba laki-laki itu mengangkat tubuh Mentari dan membaringkan tubuh mungil itu di atas ranjang. Setelahnya laki-laki itu ikut berbaring di samping Mentari, dengan kedua tangan dilipat menahan kepalanya. "Kak," panggil Mentari.
__ADS_1
Gieno menoleh dan melihat Mentari sedang menatap ke arahnya dengan tubuh miring. Satu alis laki-laki itu terangkat seakan bertanya. "Tidak jadi," papar Mentari.
Kening Gieno berkerut saat melihat gadis itu mulai memejamkan matanya. Gieno menarik kedua tangannya yang sempat dia jadikan bantal. Setelahnya laki-laki itu mendekat ke arah Mentari dan memeluk tubuh gadis itu hangat.