Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
55. Rokok


__ADS_3

Mentari yang mersakan tubuhnya dipeluk, membuka mata dan mendongak berniat menatap wajah Gieno. Namun, siapa sangka ternyata bibirnya malah menyentuh jakun laki-laki tampan itu. Gieno menggeram kala merasakan sesuatu yang lembut baru saja berdesekan dengan kulit lehernya.


Sedangkan Mentari yang sempat terkejut, sudah menelan salivanya kasar saat melihat tato De Larga di leher kekar nan menggoda itu. 'Astaga, apa yang aku pikirkan?' batin Mentari menjerit.


Gieno menunduk dan menatap wajah merah Mentari. Laki-laki itu tersenyum miring saat menangkap raut gugup di wajah manis itu. Gieno mendekat dan menyambar bibir lembut yang sempat menyapa jakunnya. Mentari hanya pasrah menerima lum***n lembut dari bibir Gieno.


Tanpa melepaskan pangutan bibir itu, Gieno mengangkat tubuh Mentari sehingga gadis itu saat ini sudah berada di atas tubuh kekar itu. Gieno terus melanjutkan aksi hangat itu sambil memeluk pinggang Mentari. Sedangkan Mentari menggenggam rambut Gieno saat gadis itu mulai terbawa suasana.


Gieno terkejut saat Mentari menarik rambutnya pelan. Laki-laki itu menghentikan pergulatan bibir itu dengan wajah merah menahan gairah. Gieno menatap wajah Mentari yang sedang menatapnya dengan mata berkabut.


"Sh**!" umpat Gieno. Tanpa banyak kata, Gieno meninggalkan Mentari di dalam kamar itu. Sedangkan dirinya jelas saja akan segera mencari pelampiasan.


...*****...


"Kau sudah cek semuanya?" tanya Gieno.


"Sudah, semuanya aman. Kau tinggal berangkat dengan nyaman," balas Yezo.


"Bagus, lakukan sesuai rencana. Orang yang ingin mengajak Zero bermain, tentu tidak akan kita hiraukan begitu saja bukan?" Gieno tersenyum miring.

__ADS_1


"Tentu, kami menunggu komando darimu," tutur Yezo.


"Aku serahkan keadaan di sini kepadamu. Akan aku usahakan dalam waktu empat hari paling lama, aku sudah kembali," tutur Gieno.


"Termasuk gadismu?" Yezo tersenyum miring ke arah Gieno yang sudah menatapnya tajam.


"Hanya pantau, jangan sentuh. Sentuh seujung kuku pun, mati kau," desis Gieno.


"Ternyata Ketua kita ini posesif juga, ya." Yezo berucap diakhiri tawa yang diikuti oleh empat laki-laki lainnya.


Sedangkan Gieno hanya menatap mereka datar. "Apa kau tega meninggalkannya sendiri? Aku rasa tidurnya tidak akan nyenyak satu minggu ke depan," papar Rangga.


"Ya, aku juga berpikir begitu," tambah Petrik.


"Sebelum itu aku sudah kembali," sahut Gieno yang semakin menjauh.


"Biarkan saja, aku tebak dia pasti menemui Mentari," cetus Rangga.


"Sepertinya dia memang sudah jatuh hati kepada gadis polos itu. Aku cukup senang mengetahuinya, sayangnya dia masih begitu egois dengan tidak menyadari dan mengakui perasaannya sendiri," papar Ferry.

__ADS_1


"Benar, itulah Gieno. Dengan segunung keegoisannya," balas Yezo.


...*****...


Gieno menatap tubuh Mentari yang sedari tadi nampak tidak tenang. Gieno sudah berdiri di tepian pintu kamar Mentari sekitar setengah jam lamanya. Namun, keberadaannya itu sama sekali tidak diketahui oleh gadis itu. Itu adalah salah satu keahlian Gieno, mengecoh lawan dengan keberadaannya.


Gieno sengaja berdiri tanpa melakukan apa-apa karena ingin membuktikan perkataan Rangga tadi. Sekarang itu semua terbukti, Mentari sudah sedari tadi mencoba memejamkan matanya, tetapi tetap tidak berhasil. Gieno yang melihat itu menghela napas berat. 'Apa benar dia akan kesulitan tidur tanpa aku?' batin Gieno.


'Susah sekali, sepertinya aku memang sudah sangat terbiasa dengan keberadaan Kak Gieno. Bagaimana nasibku setelah ini?' ucap Mentari di dalam hati.


"Kau tidak bisa tidur?" Suara Gieno mengejutkan gadis itu.


Mentari menoleh dan mendapati Gieno sedang berjalan mendekat ke arahnya. "Kak Gieno, sedari kapan sampai?" tanya Mentari.


"Tidurlah." Gieno tidak menyahut pertanyaan Mentari, laki-laki itu semakin mendekat ke arah ranjang luas itu.


Mentari terus memperhatikan pergerakan Gieno yang saat ini sudah naik ke atas ranjang. Kening gadis itu mengernyit saat mencium bau yang tidak disukainya menguar dari tubuh laki-laki tampan itu. "Kakak merokok?" Mentari menutup hidungnya sambil menatap Gieno.


Gieno mengendus bau tubuhnya sendiri. Dia memang baru saja selesai merokok. "Iya, kau tidak suka bau rokok?" jawab Gieno.

__ADS_1


Mentari menggeleng menjawab pertanyaan Gieno. "Dadaku sering sesak hanya dengan mencium baunya," tutur Mentari jujur.


"Aku mandi dulu." Setelah mengucapkan itu, Gieno berlalu ke arah kamar mandi di dalam kamar Mentari.


__ADS_2