Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
28. Berlibur


__ADS_3

"Maksud aku, jangan ciumlah, Kak," tawar Mentari.


"Ya sudah, aku yang menciummu." Gieno mendekat ke arah Mantari. Namun, entah dapat keberanian dari mana, gadis itu dengan cepat membekap mulut laki-laki tampan itu.


Mentari membola kala baru menyadari aksi spontannya itu. "Maaf, Kak. Biar aku saja," cicit Mentari.


Gadis itu takut, jika Gieno yang memandu aksi mereka, jelas saja nanti bukan hanya sekedar ciuman biasa. Membayangkan hal itu, Mentari menjadi ngeri sendiri. "Tapi … Kakak jangan curang seperti kemarin, ya," sambung Mentari.


Gieno menaikkan sebelah alisnya, setelahnya laki-laki itu tersenyum begitu tipis. "Cepatlah," papar Gieno.


Laki-laki itu berusaha menahan tawa saat melihat Mentari menghirup napas panjang dan mengeluarkannya perlahan. 'Dia pikir ingin melakukan apa? Sampai menghirup napas segala,' batin Gieno tidak habis pikir.


Tring … tring … tring …


Ponsel Gieno berdering mengalihkan perhatian sepasang manusia itu. Mentari menghela napas lega kala melihat Gieno mendekati ponsel pintar itu. Gadis itu mengernyit saat melihat wajah Gieno tampak begitu serius. "Baik, aku berangkat," tutup Gieno.


Setelah menutup sambungan telepon, laki-laki itu mengambil bajunya yang berada di atas ranjang. Mentari terus memperhatikan gerakan laki-laki dingin itu. Setidaknya di dalam hati, Mentari bersyukur karena dirinya tidak jadi mencium Gieno.


Gieno kembali menoleh ke arah ponselnya dan menghibungi seseorang. "Kau sudah sampai di mana?" tanya Gieno.

__ADS_1


"Bagus." Setelah mengatakan itu, Gieno kembali mematikan sambungan telepon. Gieno memasukkan telepon genggamnya ke dalam saku celana.


Saat akan memasang pakaian, Gieno baru menyadari jika dirinya sedang bersama Mentari. Sedangkan Mentari yang sempat melamun, terkejut saat mata tajam Gieno menatap dirinya. Gieno mendekat dan menyambir bibir Mentari tanpa aba-aba. Mentari yang sempat terkejut sekarang hanya dia saat laki-laki datar itu mencium bibirnya sekilas.


"Nanti malam, aku tagih." Setelah mengatakan itu, Gieno pergi begitu saja sambil memasang bajunya keluar kamar.


Mentari menatap kepergian Gieno dengan jantung yang masih berdisko di dalam sana. "Kenapa denganku?" gumam Mentari.


...*****...


"Sudah kau pantau?" tanya Gieno kepada Melvin.


"Sudah, sepertinya mereka salah jalur," jawab Melvin.


Gieno menatap layar laptop dihadapan Melvin yang terus mengotak-atik benda itu. Pergerakan sesuatu yang berwarna merah membuat Gieno mengernyit. "Apa itu pergerakan kapal kita?" tanya Gieno.


"Benar, tanda hijau adalah jalur utama. Sedangkan kita sudah keluar jalur," ucap Melvin.


Gieno mengangguk pelan sambil memicing. "Siapa yang memimpin di sana?" tanya Gieno.

__ADS_1


"Luda, leader Beta Zero empat," sahut Yezo.


"Sudah dihubungi?" tanya Gieno.


"Sudah, tapi di area itu terdapat tanda kuning yang mengartikan jaringan buruk. Sebentar lagi, sekitar dua puluh menit lagi, mereka akan keluar dari sana. Kita bisa menghubungi Luda," jelas Yezo.


"Kapal satu lagi aman?" tanya Gieno.


"Aman, hanya saja sepertinya ada sedikit kesalahan," ucap Yezo.


"Apa?" tanya Gieno.


"Kemarin kepala jenderal Abimayu mengatakan, Irlandia ingin menunda pengiriman dua puluh rudal platinum. Tetapi mereka terlambat memberi kabar, kapal sudah berada disepertiga jalan. Untuk kembali, jelas kita akan rugi besar," terang Yezo.


"Alasan?" tanya Gieno.


"Mereka ingin memastikan barang aman atau tidak, padahal sebelumnya sudah melakukan percobaan bersama kepala jenderal Abimayu. Sepertinya mereka hanya ingin mencari alasan untuk tidak jadi memesan, kita tidak tahu apa alasannya," jelas Yezo.


Gieno mengangguk singkat. "Pemimpinnya?" tanya Gieno lagi.

__ADS_1


"Tuan Laksa Jordi," balas Yezo.


"Sesekali berlibur ke Irlandia, tidak masalah bukan?" Gieno bersuara sambil tersenyum miring.


__ADS_2