
Gieno naik ke atas ranjang Mentari dan ikut berbaring di sana. Iblis gila itu menarik tubuh Mentari dan memeluknya hangat. 'Kenapa adikku bisa tahan berada didekatnya sekarang?' batin Gieno bingung.
Tring … tring … tring …
Baru saja Gieno akan menutup matanya, suara ponsel laki-laki itu menggema cukup nyaring. Dengan gerakan cepat laki-laki itu mengambil benda pintar itu, takut Mentari terbangun dari tidurnya. Kening Gieno berkerut saat melihat nama Naraya terpampang di layar ponsel laki-laki itu. Bukannya menjawab panggilan itu, Gieno malah menolaknya dan mematikan ponsel itu.
Sedangkan dilain tempat, Naraya menatap layar ponselnya kesal. "Kenapa dia menolak panggilanku? Sekarang nomornya juga sudah tidak aktif," gerutu Naraya.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Nayry.
"Ini, Ma. Aku kan sudah cukup dekat dengan Tuan De Larga, dia menolak panggilan teleponku. Sepertinya dia sedang sibuk," ucap Naraya jujur.
Nayry yang mendengar itu melotot terkejut. "Kamu benar-benar serius ingin mendekatinya? Apa tidak bisa kamu menghentikan semua rencana kamu itu? Perasaan Mama tidak tenang mengetahui kamu dekat dengannya, Ray," tutur Nayry khawatir.
"Aku tidak apa-apa sejauh ini, Ma. Dia tidak semengerikan itu, selama ini dia santai-santai saja. Meski masih begitu kaku dan datar, tapi kami sudah semakin dekat, Ma. Namanya memang terdengar mengerikan di telinga orang-orang. Tapi dia tidak kejam, kecuali bersama musuhnya," papar Naraya.
__ADS_1
'Masalahnya kita adalah musuh utamanya, Ray. Dia mengincarmu untuk balas dendam,' batin Nayry cemas.
"Sudahlah, Mama tidak perlu khawatir seperti itu. Aku baik-baik saja. Buktinya sampai sekarang, aku masih sehat kan." Naraya tersenyum sambil mengusap punggung tangan sang mama.
"Kamu belum tahu betul seluk-beluk permasalahan hidup ini, Ray. Mama takut kamu terjebak dari salah salah satu masalah fatal yang tidak kamu ketahui," kata Nayry mencoba membuka pikiran Naraya.
"Iya, aku tahu itu, Ma. Tapi aku kan ada Mama, Papa dan Kakek yang akan memberi aku jalan. Bukan begitu?" Naraya kembali tersenyum ke arah Nayry.
Nayry menghela napas berat. "Kami sudah memberimu jalan untuk tidak berurusan dengan Tuan De Larga. Jadi, ikutilah jalan itu, Sayang," papar Nayry.
Nayry menatap punggung kecil Naraya yang mulai menjauh. "Mama tidak ingin kamu masuk ke dalam limbah kesalahan yang pernah kami buat, Ray. Aku seharusnya dulu tidak ikut melalukan hal keji kepadanya, kenapa hatiku sebagai seorang ibu begitu tertutup kala itu?" Nayry bergumam dengan rasa bersalah di dalam hatinya.
...*****...
"Dia merencanakan sebuah perjalanan ke Irlandia," ucap seorang laki-laki berpakaian merah.
__ADS_1
"Apa dia mulai terpancing dengan umpan kita?" tanya seorang laki-laki berbaju hitam.
"Entahlah, tapi dia memang melakukan perjalan ke sana dengan alasan pembatalan jual beli rudal."
"Kalau memang begitu, kita bisa memulai rencana. Kali ini, kita harus bisa merebut setidaknya satu dari banyaknya daerah kekuasaannya."
"Iya, aku dengar dia juga memiliki seorang wanita kurungan yang saat ini sedang dirawat di rumah sakit. Januar hampir memakai wanita itu, aku penasaran dengan wanita itu sampai membuat iblis itu mengurungnya."
"Begitukah? Bagus, pantau terus dan amankan posisi mata-mata. Dia laki-laki dengan jiwa iblis yang tidak bisa kita tebak."
"Apa kita akan ikut ke Irlandia nanti? Aku dengar hanya iblis itu saja yang akan berangkat. Aku rasa mungkin kita bisa memanfaatkan ini," tanya laki-laki berbaju merah.
"Jangan terlalu meremehkan Gieno, Saka. Dia memang terlihat seperti manusia pada umumnya. Tapi, jiwanya sama sekali bukan mencerminkan sebagai manusia. Seperti julukannya, iblis gila bersarang di dalam tubuh laki-laki itu," ungkap laki-laki berbaju hitam.
"Meski begitu, tetap saja tanpa bantuan anggotanya, dia bukanlah apa-apa," dengus laki-laki bernama Saka.
__ADS_1
"Kau ternyata belum terlalu tahu siapa Gieno, bagaimana ganasnya dan gilanya dia. Jangan bertindak gegabah, kita perlu perencanaan yang matang. Meski dia sendiri, dia bukan lawan yanv ringan."