Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
64. Malaikat Tampan


__ADS_3

Gieno meletakkan tubuh Mentari secara perlahan di atas ranjang. Laki-laki itu membuka kaos polosnya dan segera berlalu ke dalam kamar mandi. Tidak terlalu lama, Gieno kembali keluar dari kamar mandi setelah menyelesaikan ritual mandinya. Laki-laki itu melotot saat melihat paha putih Mentari terekspos jelas sebab dress yang dipakai gadis itu tersingkap ke atas. "Fu**," umpat Gieno menahan sesuatu.


Jika bertanya tentang terangsang, Mentari adalah wanita pusat nafsu menurut Gieno. Sebab hanya dengan melihat bibir Mentari saja, sudah mampu menaikkan nafsu seorang iblis gila itu. Namun, perasaan mengganjal di dalam hati dan benak Gieno menahan itu semua. "Dia benar-benar berhasil mengujiku," gumam Gieno.


Secara perlahan Gieno mendekat ke arah ranjang dengan mata menoleh ke segala arah. Laki-laki itu tidak ingin lepas kendali sampai berakhir memperkuda Mentari nantinya. Tepat saat Gieno berhasil menutup paha mulus itu, tangan mungil Mentari menarik tangan kekar Gieno yang masih terjulur. Bruk …. Gieno yang sedang berdiri tidak terlalu tepat, tidak bisa menahan tubuhnya sehingga jatuh ke atas ranjang. Namun, dengan gerakan cepat Gieno menahan tubuhnya dengan kedua tangan supaya tidak menimpa tubuh Mentari.


Saat ini posisi Gieno sedang mengungkung tubuh Mentari yang masih asik dengan tidurnya. Mata laki-laki itu kembali melotot saat kedua tangam lembut Mentari mulai meraba pinggang telanjangnya. Gieno memang masih menggunakan handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Tangan Mentari saat ini sudah melingkar sempurna di pinggang kekar Gieno. Bulu kuduk Gieno berdiri menahan sesuatu yang bahkan sudah menegang di bawah sana. "Aku terkam juga kau," gumam Gieno frustasi.

__ADS_1


"Kak." Suara serak Mentari menyadarkan Gieno, laki-laki itu menatap wajah Mentari yang masih memejamkan matanya.


Kening Gieno berkerut saat melihat keringat dingin mulai muncul di kening Mentari. Iblis gila itu menyeka keringat dingin itu dengan wajah tidak tertebak. "Dia masih sering seperti ini saat tidur?" gumam Gieno.


Wajah tidak tenang Mentari saat tertidur membuat Gieno merasa ikut tidak tenang. Laki-laki itu akhirnya memilih merebahkan tubuhnya di samping Mentari. Laki-laki itu mengusap lembut rambut Mentari mencoba memberikan rasa nyaman dan rasa aman kepada gadis itu. 'Entah benar atau tidak yang Rangga katakan, aku tidak tahu. Yang jelas saat melihat dia tidak tenang seperti ini, perasaanku juga ikut tidak tenang,' batin Gieno.


'Kau tenanglah di bawah sana. Malam ini tidak ada jatah, tidur saja.' Gieno membatin seakan sedang bernegosiasi dengan juniornya yang masih menegang di balik balutan handuk.

__ADS_1


"Shh…." Baru saja Gieno akan memejamkan matanya, pergerakan kaki Mentari membuat juniornya di bawah sana semakin mengeras dan meronta. Gieno meringis sambil menelan ludahnya kasar.


Bukannya berhenti, tubuh Mentari malah semakin menggeliat tidak santai di dalam pelukannya. Kaki Mentari saat ini sedang menggesek tidak jelas di bawah sana. "Astaga, tenanglah. Apa kau ingin aku makan?" desis Gieno merasa begitu frustasi.


Sret …. Mata Gieno melotot saat dengan tiba-tiba tubuh Mentari saat ini sudah berada di atas perutnya. Anehnya, mata gadis itu masih saja terpejam. "Hei, apa yang kau lakukan?" celoteh Gieno panik.


Mentari merebahkan tubuhnya di atas dada bidang Gieno yang sudah terdiam kaku. Mentari memeluk erat leher Gieno dan kembali diam di dalam tidurnya. Iblis gila itu masih diam, dia memikirkan nasib malang juniornya saat ini. Sarang burungnya sudah di tepat di atas, bahkan mereka sudah saling bergesekan. Namun, si burung malah tidak mampu masuk ke sana. Sungguh menyedihkan sekali nasib si burung.

__ADS_1


'Setelah ini mungkin julukanku akan segera berganti. Dari iblis gila menjadi malaikat penyabar,' celoteh Gieno di dalam hati.


__ADS_2