Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
96. Posesif Kumat


__ADS_3

"Tidak apa-apa, Kak. Aku mengerti kok, Kakak bisa datang menyempatkan waktu ke sini saja. Aku sudah merasa begitu senang," papar Naraya.


Gieno tersenyum miring mendengar kalimat Naraya. 'Jelas, karena sebentar lagi, aku akan segera memulai aksi. Maka puaskan kesenanganmu sekarang, bi**,' batin Gieno.


"Ekhm …." Naraya dan Gieno menoleh saat mendengar suara deham cukup keras. Abraham, Heiki dan Nayry nampak mendekat ke arah mereka.


Naraya tersenyum melihat kedatangan keluarganya itu. Sedangkan Gieno saat ini sudah memperlihatkan senyum miringnya kepada dua laki-laki yang saat ini tengah menatapnya waspada. "Selamat malam, para Tuan Barka," sapa Gieno nampak santai.


"Ekhm … selamat malam Tuan De Larga, kami tidak menyangka seorang pengusaha ternama dan sibuk seperti Anda masih menyempatkan waktu untuk menghadiri pesta kecil keturunan Barka ini. Sungguh suatu kehormatan bagi kami," balas Abraham mencoba nampak biasa-biasa saja dihadapan para tamu lainnya.


Gieno menyeringai tipis saat mendengar perkataan Abraham. "Tentu, acara ini termasuk ke dalam jadwal pentig di agendaku," sahut Gieno sambil menekan kata penting di dalam kalimatnya.

__ADS_1


Naraya yang mendengar itu merasa sangat senang. 'Dia mengatakan seperti ini, berarti secara tidak langsung dia menganggap aku penting di dalam kesehariannya, bukan?' batin Naraya bersorak senang.


Sedangkan Abraham, Heiki dan Nayry sudah terdiam sambil menatap wajah Gieno yang memperlihatkan tatapan penuh arti. "Terima kasih, Kak," ucap Naraya nampak malu-malu.


"Maaf, Ketua." Suara berat seseorang mengalihkan perhatian lima pasang mata itu.


Gieno menoleh dan melihat wajah sang asisten sudah berada di belakang tubuhnya. "Mana?" tanya Gieno.


"Ada di belakang, Tuan," ucap laki-laki itu lagi.


Mendengar itu Gieno mengangguk pelan, setelahnya laki-laki itu kembali menoleh ke arah Naraya yang sudah nampak tidak sabar. Gieno memberikan kotak besar itu kepada Naraya yang saat ini nampak tersenyum lebar. "Ini hadiahnya," tutur Gieno.

__ADS_1


"Wah, terima kasih, Kak. Padahal Kakak tidak perlu repot-repot," celetuk Naraya basa-basi.


"Kak Gieno." Suara lembut seseorang kembali mengalihkan perhatian mereka. Namun, kali ini kedatangan seorang gadis di belakang Gieno mampu membuat mata Naraya membola.


Sedangkan Gieno sudah membalikkan badannya dan tertegun sejenak melihat penampilan Mentari. 'Fu**! Ini Mentari? Kenapa aku malah tidak ingin dia berpenampilan seperti ini di depan banyak orang, apa lagi laki-laki,' batin Gieno kesal.


Sedangkan Naraya yang melihat mata terpana milik Gieno untuk Mentari, sudah mengepalkan tangannya marah. 'Kenapa perempuan ini ikut datang ke sini? Aku akui dia memang nampak lebih cantik dan berkelas, tapi tetap saja masih aku pemegangnya,' batin Naraya tidak terima.


Sedangkan semua mata saat ini nampak bingung menatap kedatangan Mentari. Termasuk Abraham, Heiki dan Nayry. 'Apa ini perempuan yang dimaksud Naraya waktu itu? Sepertinya dia gadis baik-baik dan nampak patuh,' batin Nayry.


Sedangkan Gieno dengan cepat menarik pinggang Mentari dan membawa tubuh gadis itu merapat ke tubuh kekarnya. Nampaknya jiwa posesif laki-laki itu sedang kumat saat ini. Lihat saja, mata Gieno nampak berkeliaran melihat sekitar dengan pandangan tajam.

__ADS_1


Laki-laki itu tidak menghiraukan tatapan terkejut dari seluruh pasang mata yang melihat aksinya itu. Termasuk Naraya yang saat ini sudah nampak begitu syok dengan perlakuan posesif Gieno kepada Mentari. 'Brengsek, seharusnya aku yang berada diposisi itu,' batin Naraya begitu marah.


__ADS_2