
Gieno menunggu Mentari di atas kasur king-size di dalam kamar Mentari. Laki-laki itu baru saja masuk dan tidak menemukan gadis manis itu. Suara gemericik air dari dalam kamar mandi membuat Gieno tahu jika Mentari sedang berada di kamar mandi.
"Kenapa dia mandi malam-malam seperti ini? Dia ingin masuk angin?" celoteh Gieno.
Laki-laki itu menunggu Mentari sambil menyibukkan diri dengan benda pipih di tangannya. Kening Gieno berkerut saat melihat sebuah pesan yang ternyata belum dibacanya. Nama Naraya terpampang sebagai pengirim pesan itu.
Naraya
[Kak, malam ini jadi kan menemani aku ke pesta itu?]
Gieno menatap layar telepon genggam miliknya itu dengan tatapan datar. Jujur saja laki-laki itu sudah merasa sangat malas harus berurusan dengan Naraya. "Kau beruntung malam ini aku ada urusan yang lebih penting," gumam Gieno.
Cklek …. Suara pintu dibuka mengalihkan perhatian iblis gila itu. Naraya keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah begitu terkejut. "Kak Eno, eh … maksud aku, Kakak kapan sampai?"
Gieno diam, laki-laki itu menatap Mentari yang saat ini hanya memakai handuk untuk membalut tubuh putihnya itu. Jakun laki-laki itu naik turun merasa jika gelora kejantanannya sedang diuji. Mentari bergerak sedikit demi sedikit menuju pintu walk in closet. Gadis itu mulai was-was saat melihat tatapan mata Gieno.
'Kalau aku tahu dia ada di sini, aku pasti membawa baju ganti tadi,' batin Mentari.
Pergerakan Mentari terus diperhatikan oleh Gieno. Sepertinya laki-laki itu masih belum sadar dengan maksud Mentari yang ingin segera menghindar dari dirinya. Mentari yang tahu Gieno masih belum sadar, dengan cepat mendekat ke arah pintu yang hanya tinggal beberapa langkah lagi.
__ADS_1
'Ayo Mentari, sedikit lagi. Semoga Kak Gieno masih terdiam seperti itu,' ucap Mentari kembali membatin.
Namun, siapa sangka, Gieno ternyata sadar lebih cepat dari keinginan Mentari. Laki-laki itu berdiri sehingga membuat Mentari melotot terkejut. "Astaga," ucap Mentari karena terkejut dengan pergerakan tiba-tiba iblis gila itu.
Gieno berjalan mendekat ke arah Mentari sehingga membuat Mentari semakin melotot. Merasa masih berpikiran waras, Mentari memacu langkah untuk meraih pintu walk ini closet itu. Sekarang giliran Gieno yang melotot melihat aksi Mentari.
"Hei." Gieno ikut mempercepat langkahnya, tetapi kalah cepat dari Mentari yang memang sudah meraih gagang pintu.
Brak …. Gieno terlonjak saat Mentari tanpa sengaja membantin pintu walk in closet itu. "Maaf, Kak. Kelepasan!"
Gieno tersadar saat mendengar suara teriakan Mentari dari balik pintu itu. Laki-laki itu terkekeh merasa gemas dengan tingkah Mentari. "Ternyata dia sudah pintar melarikan diri ya sekarang," gumam Mentari.
Gieno memilih menunggu Mentari tepat di depan pintu walk in closet. Pikiran laki-laki itu melayang dengan lekuk tubuh Mentari yang baru saja dilihatnya. Merasa tersadar, Gieno menggelengkan kepalanya cepat. "Apa yang kau pikirkan, Gieno?" gumam Gieno.
"Menunggumu," sahut Gieno jujur.
"Hah?" Mentari mendongak menatap bingung ke arah Gieno. Secara perlahan, Gieno menarik tangan Mentari membawa gadis itu ke arah ranjang.
Mentari menurut tanpa bersuara. Gieno duduk di atas ranjang dan menarik tangan Mentari. Setelahnya laki-laki itu membawa tubuh Mentari untuk duduk di atas pangkuannya. Entah kenapa, akhir-akhir ini posisi itu menjadi posisi favorit oleh iblis gila itu.
__ADS_1
Saat Gieno merasa kehilangan akal, lelah karena perkerjaan, ataupun frustasi karena hal apapun. Laki-laki itu akan mencari Mentari, cukup dengan posisi itu, secara perlahan beban Gieno seakan terangkat. Seperti saat ini, Gieno sudah memeluk Mentari dan menenggalamkan wajahnya di ceruk leher Mentari.
"Kakak ada masalah?" tanya Mentari bingung.
"Tidak." Suara Gieno teredam oleh leher Mentari. Gadis itu tiba-tiba merasa merinding saat hembusan napas hangat laki-laki itu menerpa kulit lehernya.
"Te-terus, kenapa? Kakak juga rapi sekali, ingin ke mana?" tanya Mentari lagi.
Gieno terdiam mendengar pertanyaan Mentari. Laki-laki itu bahkan dalam beberapa menit ini bisa melupakan tujuannya yang akan menemani Naraya ke klub malam. 'Ck, kenapa aku jadi malas pergi sekarang? Ini begitu nyaman sehingga aku rasanya tidak ingin melepasnya,' batin Gieno.
Mentari menunduk menatap wajah Gieno. Mata tajam laki-laki itu terbuka nampak sedang memikirkan sesuatu. "Kak," panggil Mentari.
Gieno tersadar dari lamunannya. Laki-laki itu mendongak, setelahnya dia menarik kepalanya dari ceruk leher gadis itu. "Aku ada urusan sebentar, kau ingin tidur dulu? Ayo aku temani," ujar Gieno.
Mentari terdiam mendengar kalimat, Gieno. Ada perasaan kecewa saat tahu Gieno akan pergi di tengah malam seperti ini. Bukan apa-apa, iblis gila itu sudah berhasil membuat Mentari merasa ketergantungan kepada dia. Tanpa Mentari tahu pula, Gieno juga sudah mulai ketergantungan kepada Mentari.
"Hei, ingin tidur sekarang?" Kini giliran Mentari yang disadarkan suara berat Gieno. Gadis itu menunduk dan tersenyum manis ke arah Gieno.
"Iya, Kak. Aku takut nanti aku akan kesulitan tidur kalau tidak ada Kakak," sahut Mentari jujur.
__ADS_1
Gieno sempat tertegun sejenak melihat wajah manis Mentari, ditambah dengan kalimat gadis itu yang terlalu jujur. Iblis gila itu merasa senang, saat Mentari berkata jujur. "Baiklah, ayo tidur."
Gieno menarik tubuh Mentari dan membawa gadis itu ke tengah hamparan empuk itu. Entah ke mana perginya jiwa dingin laki-laki itu, sampai bisa berbuat begitu hanya kepada Mentari. Meski kesan datar dan dingin itu masih ada, tetapi sekarang Gieno sudah jauh lebih hangat.