Istriku Ternyata Cinta Pertamaku

Istriku Ternyata Cinta Pertamaku
BAB 9. Dapat kerjaan


__ADS_3

Repan dan Yuda merasa iba dengan kedua tuan mudanya. Hadi menjadi pria tidak pernah tertawa, tersenyum saja hanya sekilas sedangkan Kristian mejadi pria yang tidak pernah dekat dengan wanita, walaupun usia Kristian sudah 26 tahun dirinya belum pernah memiliki pacar, semenjak tragedi 11 tahun yang lalu membuat Kristian menjadi pria yang tidak pernah peduli dengan seorang wanita, karena yang ada di pikiran Kristian hanya adiknya dan adiknya


"tuan muda, sampai kapan terus mengingat nona kristiani." batin Yuda


"sampai kapan tuan muda memikirkan nona kristiani, jelas-jelas sudah ada nona Yulia yang sudah 4 tahun lamanya bersama, tapi ternyata nona Yulia belum bisa sepenuhnya mengganti posisi nona kristiani." batin Repan


Repan asisten pribadi dan sekaligus sahabat Hadi karena ibunya Repan sudah meninggal dunia saat melahirkan Repan, sedang Ayahnya sudah meninggal saat usia Repan 2 tahun. Repan di besarkan di keluarga Wijaya, tentu dirinya tau tentang tuan mudanya, tapi dirinya tidak pernah tau, kalau tuan mudanya hingga saat ini masih saja mengingat nona Kristiani. Perasaan Hadi dan Kristian menjadi hambar setiap bertemu setelah membahas tentang Kristiani menjadi murung.Namen Kristian tidak ingin sahabatnya mengambil langkah yang salah dirinya memutuskan menasehati Hadi lagi


"Hadi, kau 100% yakin terhadap Yulia, atau karena usiamu yang sudah 28 tahun, terlebih lagi kau adalah anak pertama, apa yakin?


Hadi diam sebentar dirinya juga tidak tau, tapi bagaimana pun juga Yulia adalah tunangan dirinya, terlebih lagi betapa susahnya dirinya meminta restu pada kedua orang tuanya untuk bertunangan dengan Yulia, apa lagi usia Yuli dan dirinya sudah cukup untuk menikah


"aku yakin."


"baiklah, kalau kau memang yakin dengan Gadis itu, tapi kalau tidak yakin lebih baik kau mundur, jangan pernah menyakiti hati seorang wanita."


"aku mengerti maksudmu, tapi keputusan aku sudah bulat."


"baiklah, kalau begitu aku pulang dulu."


"iya, terimakasih kau sudah mau datang ke kantorku."


"sama-sama Hadi."


Kristian dan Hadi berdiri lalu mereka saling berpelukan lagi, walaupun sebenarnya dulu Hadi dan Kristian tidak pernah akrab sama-sama tidak peduli, tapi semenjak Hadi mengenal Kristiani, semenjak itu juga Hadi dan Kristian mulai akrab. Setelah hampir 1 menit Hadi dan Kristian melepaskan pelukannya


"hati-hati, jangan lupa kau harus mencoba membuka hatimu untuk seorang Gadis, usiamu sudah tidak muda lagi, aku tau kau memiliki rasa bersalah, tapi jangan terus terpuruk."


"iya, terimakasih, sudah mau menasehatiku, tapi aku tetap akan dalam pendirianku, selama Kristiani belum kembali, aku tidak akan pernah memiliki pacar."


"Baiklah."


Kristian bersama asistennya berjalan keluar kantor itu di ikuti oleh Repan yang mengantar mereka sampai di depan kantor. Hadi yang melihat sahabatnya pergi dirinya merasa bersalah, bagaimana mungkin dirinya akan menikah sedangkan tentang Aprilia belum ada titik terang

__ADS_1


...****************...


Riana pulang dengan langkah kaki yang lemas dirinya masuk ke dalam rumah sederhana itu, tapi Rian tidak sia-sia setelah muter-muter mencari kerja akhirnya dirinya di terima di rumah makan. Walaupun hanya rumah makan setidaknya dirinya memiliki penghasilan dan yang penting bagi Riana kerjaan apa pun akan ia lakukan selama tidak mengotori tubuhnya


"sore mah."


"sore juga sayang, pasti sangat lelah iya sayang?"


"tidak mah, Riana bersyukur sudah di terima kerja, walaupun Riana hanya bekerja di rumah makan, tapi tidak apa-apa."


Marina langsung menghentikan pekerjaannya dirinya langsung berbalik badan menghadap pada anaknya. Mirna memegang kedua tangan anaknya


"sayang, maafkan mamah, dengan usiamu yang harusnya masih sekolah, tapi sekarang kau harus bekerja."


"tidak apa-apa mah, Riana mengerti, mamah tidak perlu minta maaf pada Riana. Riana bersyukur mamah menganggap Riana seperti anak kandung mamah sendiri."


Marina langsung meneteskan air mata lalu dirinya langsung memeluk anaknya. Marina tidak menyangka Gadis kecil seperti Riana berpikir seperti orang dewasa


Marina memang tidak pernah menganggap Riana sebagai anak angkat, dan dirinya juga tau Riana tidak bisa mengingat siapapun keluarga Riana termasuk nama lengkap dirinya


"mamah, sampai kapan pun kau adalah orang tuaku, walaupun nanti aku bisa menemukan orang tuaku, tapi aku tidak akan pernah melupakan mamah, terlebih lagi om Rehan, aku janji akan membalas semua yang om Rehan lakukan." batin Riana


Setelah sekitar 1 menit Marina dan Riana melepaskan pelukannya


"mamah, kenapa menangis?"


"mamah, tidak apa-apa sayang, mamah hanya terharu, Gadis seusiamu bisa mengerti kondisi kita sekarang yang sangat sulit, membuat mamah tidak terasa telah meneteskan air mata."


"mah, Riana bersyukur karena mamah sudah mengajari Riana menjadi Gadis dewasa, Riana bersyukur punya mamah yang selalu ada buat Riana, karena tanpa mamah Riana mungkin sudah tidur di jalanan."


Rina yang baru saja datang kuliah dirinya mendengar perkataan ibu dan adiknya, dirinya langsung meneteskan air mata, dirinya terlalu ingin tetap kuliah sedangkan adiknya yang masih duduk di bangku SMA itu harus berhenti sekolah karena kekurangan biaya


"maafkan aku dek, aku yang terlalu ingin melanjutkan kuliah membuatmu menjadi menderita, aku juga tidak pernah menyangka akan membuat kau menderita." batin Rina

__ADS_1


Rina langsung menghapus air mata dirinya, lalu berjalan mendekati mamah dan adiknya hingga dirinya sampai di hadapan mereka


"sore mah, sore dek."


"sore juga Ci."


"sore juga sayang."


Rina menatap wajah adiknya yang sangat pucat dan lelah membuat dirinya kuatir


"dek, apa kau sakit?"


"tidak Ci, aku hanya lelah saja."


Rina tau kalau adiknya pasti sakit, tapi adiknya tetap menyembunyikan rasa sakitnya membuat hati Rina semakin sakit karena adik yang dirinya manjakan itu, namen sekarang tumbuh seperti Gadis dewasa, tapi dirinya juga tidak ingin menanyakan lagi karena adiknya mencoba untuk berbohong


"dek, lebih baik kau mandi, lalu istirahat."


"tapi Ci."


"sudah nanti Cici yang masak kalau bi Katmi belum pulang jualan."


"baiklah, Terimakasih Ci, mamah, Cici, Rian masuk ke kamar dulu."


"iya sayang."


"sama-sama, iya dek."


Lalu Riana langsung berjalan pergi ke kamarnya setelah di kamar Riana tidak langsung mandi. Riana membaringkan tubuhnya di atas ranjang, lalu dirinya mengingat pria yang menolong dirinya tadi


"kenapa pria itu sangat tidak asing buatku, atau perasaan aku saja, atau kita pernah bertemu sebelumnya kenapa sangat nyaman saat dekat dengan pria tadi, siapa dia sebenarnya, kenapa nama pria itu juga sangat tidak asing buatku, siapa dia sebenarnya?" batin Riana


Entah kenapa Riana merasa pria yang menolong dirinya sangat tidak asing, tapi dirinya juga tidak tau pernah bertemu atau tidak dengan pria tadi yang jelas dirinya merasakan sangat nyaman, apa lagi nama pria itu juga menurut Riana tidak asing karena nama pria itu Kristian sedangkan nama dirinya kristiani. Riana terus saja memikirkan hal itu membuat dirinya benar-benar lelah, lalu Riana pun memutuskan untuk tidur sebentar setelah itu baru mandi karena dirinya sudah mengantuk

__ADS_1


__ADS_2