Istriku Ternyata Cinta Pertamaku

Istriku Ternyata Cinta Pertamaku
BAB 79. Mengubur cita-cita


__ADS_3

Hadi yang mengetahui kalau istrinya adalah Gadis kecil yang selama ini ia cari, membuat ia tidak bisa mengeluarkan kata-kata, ia tidak pernah menyangka, kalau orang yang ia nikahi itu adalah Kristiani, ia tidak menyangka, janji di masa lalunya itu akan terwujud, walaupun di dasari dengan pernikahan kontrak. Riana yang melihat suaminya menangis, ia langsung mengusap air mata suaminya sambil berbicara


" Jangan menangis lagi om, kita tidak akan berpisah lagi, biarkan maut yang memisahkan kita."


Setelah mendengar ucapan dari istrinya, Hadi langsung memeluk istrinya dengan erat, rasanya ia tidak ingin lagi melepaskan istrinya, seandainya istrinya itu bukan Gadis kecil, ia ingin sekali langsung memangsanya, apa lagi dari tadi istrinya terus menggodanya. Riana juga membalas pelukan dari suaminya. Setelah sekitar 2 menit, mereka melepaskan pelukannya. Hadi langsung bertanya pada istrinya, karena usia ia dan istrinya berbeda sangat jauh, ia tidak ingin istrinya malu dengan usianya


" Gadis kecil, apa kau benar-benar tetap mencintaiku?, usia kita sangat berbeda jauh, usiamu baru saja 17 tahun."


" Om, cinta itu tidak memandang usia, yang penting kita sama-sama nyaman dan saling mencintai, itu sudah cukup, karena sampai kapanpun, aku akan tetap mencintaimu, aku sangat bahagia karena aku tidak salah mencintai seseorang, dan terimakasih, om masih tetap mengenaliku, walaupun kita sudah tidak bertemu 10 tahun lebih, tapi om masih mengenaliku dengan kata cinta."


Riana mengatakan kata cinta, karena suaminya tidak pernah peduli dengan wanita manapun, tapi suaminya mencintai ia, wanita yang baru suaminya kenal, dan itu adalah kekuatan cinta yang sangat besar, walaupun suaminya tidak bisa menebak ia siapa, tapi suaminya bisa merasakan cinta terhadap ia. Hadi yang mendengar jawaban dari istrinya, ia langsung tersenyum bahagia, memang saat ia akan menikahi Yulia, karena ia takut setelah bertemu nanti, Gadis yang ia cintai tidak bisa menerima ia, dengan alasan usia mereka yang berbeda sangat jauh, lalu Hadi langsung bertanya, kapan istrinya tau tentang keluarganya


" Gadis kecil, kapan kau tau bahwa Kristian adalah kokomu?"


" Saat aku bolos sekolah om, saat kita bertengkar, jujur saja, saat itu aku tidak bisa mencerna semua pelajaran di sekolah, aku terus saja memikirkanmu, lalu aku memutuskan untuk bolos sekolah, tiba-tiba saja dompetku jatuh. Aku terus mencari dompet itu, karena di situ ada foto masa kecilku bersama Koko dan bersama om, tapi ternyata yang menemukan dompet itu adalah Koko, dia membuka dompetku, dan mengenaliku, tapi aku ingin merahasiakan identitasku pada om, alasannya aku ingin tau, kenpa setiap bersama om, aku selalu memiliki bayang-bayang masa kecilku, bersama seorang pria kecil, tapi hari ini, Koko sudah menjelaskan semua tentang om padaku."


" Jadi kau belum bertemu dengan mamahmu?"


" Belum om, aku masih belum ingin bertemu dengan mamah maupun papah, tapi mereka akan ke Indonesia 10 hari lagi kata Koko."

__ADS_1


Hadi menjawab ucapan dari istrinya dengan mengganti panggilannya, dari Gadis kecil, dan sekarang menggantinya dengan panggilan sayang


" Baiklah, tidak apa-apa sayang, tapi jangan lama-lama, mereka juga merindukanmu, aku minta maaf sudah sering membuatmu menangis, aku sangat cemburu."


Riana yang mendengar panggilan sayang, ia semakin gemes dengan suaminya, seandainya tidak malu, ia sudah ingin mencium bibir suaminya dan langsung melahapnya seperti kue cake cokelat, panggil itu membuat ia seperti sedang di awan, rasanya panas dingin, panas seperti terkena sinar mata hari langsung, dan dingin seperti tertiup angin, hingga ia lupa menjawab ucapan dari suaminya, hanya menatap bibir tipis suaminya yang berwarna pink pucat


" Ternyata semakin dewasa, om semakin menggoda, ingin sekali aku melahap bibirnya hingga habis tidak tersisa, apa lagi saat memanggilku dengan panggilan sayang, sangat menggemaskan." batin Riana


Hadi yang tidak mendengar jawaban dari istrinya, ia langsung bertanya


" Sayang, kau sedang memikirkan apa?"


Hadi sadar kalau istrinya itu sedang menatap bibirnya, tapi ia juga tidak tau pikiran istrinya, kenpa istrinya menatap bibirnya, lalu ia langsung mengangkat tubuh istrinya, ia langsung memindahkan istrinya untuk duduk di samping ia. Riana yang di pindahkan ke samping suaminya, ia langsung menatap suaminya dan langsung berdecik kesal pada suaminya


" Kenapa aku suruh duduk di sofa om?, aku masih ingan duduk di pangkuanmu om."


Hadi yang mendengar ucapan dari istrinya, ia hanya tersenyum, tapi ia ingin membicarakan hal yang serius


" Sayang, aku mau berbicara sesuatu padamu, ini menyangkut hal yang berbau dewasa, aku tidak akan melakukan layaknya suami istri, sayang juga masih terlalu dini untuk melakukan hal itu, aku ingin kita melakukan itu setelah sayang wisuda, apa lagi sayang ingin menjadi dokter, aku akan menunggumu setelah kau wisuda."

__ADS_1


Hadi mengatakan itu, karena ia masih mengingat cita-cita sang istri, dulu cita-cita istrinya hanya ingin menjadi dokter, dan ia tidak ingin egois tentang masalah itu, apa lagi saat istrinya masih menerima ia dengan perbedaan usia, baginya sudah lebih dari cukup. Riana yang mendengar penjelasan dari suaminya, ia memutuskan untuk mengubur dalam-dalam impiannya, selama ia bisa di samping suaminya, baginya itu sudah lebih dari cukup, ia tidak ingin lagi berpisah dengan suaminya, sudah cukup ia dan suaminya berpisah terlalu lama, hingga membuat suaminya menjadi istana es, lalu Riana langsung menjawab ucapan dari suaminya


" Om, aku tidak ingin lagi menjadi dokter, aku hanya ingin bersamamu, dan tetap ingin bersamamu, itu sudah lebih dari cukup untukku, karena bersamamu adalah kebahagiaan terbesar untukku, aku hanya ingin menjadi istrimu yang baik, aku mencintaimu."


Hadi yang mendengar jawaban dari istrinya, ia tetap menasehati istrinya, ia tidak ingin cita-cita istrinya tidak bisa istrinya gapai, ia tidak ingin menjadi pria egois


" Sayang, aku juga mencintaimu, tapi aku tidak ingin sayang mengubur cita-citamu, aku akan tetap menunggumu, percayalah, jangan pernah mengorbankan masa depanmu hanya untuk cinta."


Riana yang mendengar nasehat dari suaminya, ia memutuskan untuk berbohong, walaupun ingatan ia belum sepenuhnya ingat, tapi cita-cita ingin menjadi dokter, selalu ia inginkan, tapi ia memutuskan untuk mengubur dalam-dalam cita-citanya, ia hanya ingin bersama suaminya


" Om, aku tidak ingin menjadi dokter, bukan karena berkorban untuk Cinta, tapi karena aku ingin menjadi guru SMP, semenjak aku hilang ingatan, cita-citaku hanya ingin menjadi guru SMP."


" Tapi sayang, dulu kau bercita-cita ingin menjadi dokter."


Riana hanya menjawab dengan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. Hadi yang mendapat jawaban dari istrinya hanya menghela napas berat, tapi iya sudahlah, kalau itu memang keputusan istrinya. Riana yang sudah ingin mencium bibir suaminya, ia langsung bertanya pada suaminya


" Om, bolehkah aku menciumu?"


Hadi hanya menjawab dengan anggukan kepala. Riana yang melihat jawaban dari suaminya sangat bahagia, entah kapan otak mesumnya itu mulai tumbuh, yang jelas ia merasakan suaminya sangat berbeda dari yang lain, bahkan ia belum pernah ada keinginan seperti itu saat dengan mantan kekasihnya, tapi dengan suaminya sangat menginginkannya

__ADS_1


__ADS_2