
Susan terus saja berpikir tentang sahabat barunya sambil menyantap bakso, ia benar-benar penasaran siapa sebenarnya Riana, tapi ia enggan untuk bertanya, karena ia dan Riana baru saja kenal. Riana yang fokus menyantap bakso, ia sama sekali tidak menyadari kalau sahabatnya itu melihat suaminya. Hadi masih tetap diam, ia hanya memandangi wajah istrinya, yang semakin hari, rasa sayangnya semakin bersar. Riana selsai memakan bakso, lalu ia langsung minum, setelah itu langsung menatap ke layar ponselnya. Hadi yang melihat istrinya sudah selesai, ia langsung membuka pembicaraan
" Gadis kecil, apa sudah kenyang?"
" Sudah Om."
" Setelah pulang sekolah jangan kemana-mana, kau langsung saja ke kantor, aku akan mengirim alamat kantorku."
Riana yang mendengar ucapan suaminya, ia sangat kesal, lalu ia langsung menjawab ucapan suaminya
" Om, aku harus."
Hadi langsung memotong pembicaraannya
" Tidak boleh membantah, kau harus pergi ke kantor. Jika tidak, aku akan menciummu, iya sudah aku akan ada miteeng."
Riana belum juga menjawab ucapan suaminya, tapi suaminya sudah memutuskan sambungan telponnya, ia langsung berdecik kesal
" Dasar pria gila, kemarin dia mengancamku, kalau tidak masuk sekolah jangan berharap kau bisa mendapatkan pekerjaan, dan sekarang aku sudah sekolah, dia menyuruh aku untuk ke kantor, kalau tidak ke kantor dia akan menciumku, lalu aku mencari pekerjaan kapan?" batin Riana
Riana masih diam sambil berpikir tentang suaminya yang semakin hari semakin semena-mena, bahkan sepertinya suaminya itu sudah mengetahui tentang kelemahan Riana, dengan mengancam Riana. Susan hanya menatap wajah Riana dengan tatapan yang berbeda, ia menatap sahabat barunya dengan tatapan bingung, karena memanggil pemilik sekolah Wijaya dengan panggilan Om, sedangkan kalau dari nama, nama itu adalah dari Rendra Renata, keluarganya sudah bangkrut beberapa bulan yang lalu, bahkan Susan tidak mendengar pembicaraan Hadi yang mengancam akan mencium Riana, karena ia terus saja berpikir tentang sahabat barunya. Tidak lama ada Arumi, dan dengan dua sahabatnya, bernama Bella dan Maya, ia langsung mendekati meja Riana hingga ia sampai di samping Riana. Arumi langsung berbicara dengan suara lantang
" Aku pikir setelah ayahnya bangkrut tidak bisa lagi sekolah, tapi kenapa sekarang bisa sekolah di Wijaya?, apa jangan-jangan sekarang menjadi simpanan om-om? hingga bisa masuk ke sekolah meweh, dengan biaya perbulan 10 juta."
Riana yang mendengar ucapan Arumi, ia hanya menghela nafas berat, ia memang tidak ingin berurusan dengan Arumi, ia juga sudah menduganya, akan ada masalah karena satu kelas dengan Arumi, ini bukan pertama kalinya, bahkan hingga Arumi di pindahkan sekolah oleh orang tuanya, karena sering berantem. Susan yang mendengar ucapan dari Arumi, ia sedikit tidak percaya kalau Riana adalah anak dari orang biasa, walaupun ia sudah tau dari namanya, lalu Susan langsung menjawab ucapan Arumi
" Arumi, jangan seperti itu, kasihan dia, kenapa kau selalu saja menindas anak baru yang cantik, apa takut tersaingi olehnya?"
Ini memang bukan pertama kalinya, kalau Arumi sering mencari masalah dengan gadis yang cantik. Arumi yang mendengar itu, ia langsung membentak Susan
" Diam! Aku tidak ada urusan denganmu!"
Setelah mendengar bentakan dari Arumi, semua orang hanya diam, suara dentingan sendok itu menjadi sepi. Susan juga menjadi takut. Riana masih tetap diam, hingga meja Riana di gebrak oleh Arumi
Bruk...
" Jawab, kenpa hanya diam?, kenapa kau bisa masuk ke dalam sekolah Wijaya?"
Riana yang mendapat gebrakkan oleh Arumi, ia langsung menjawab pertanyaan itu
" Aku memang anak dari orang tidak punya, tapi aku di rekomendasikan langsung oleh pemilik sekolah ini. Jika kau tidak percaya, tanyakan saja dengan pak Angga. Susan ayo kita masuk ke kelas."
" Iya Riana."
Riana dan Susan langsung pergi ke kelas. Arumi hanya diam setelah mendengar jawaban dari Riana. Maya yang melihat Arumi hanya diam, ia langsung memanggil Arumi
" Arumi, kau tidak apa-apa?"
" Aku baik-baik saja, hanya saja aku tidak menyangka, kalau Riana di rekomendasikan langsung oleh pemilik sekolah ini, memangnya Riana siapa?, sampai bisa di rekomendasikan oleh pemilik sekolah?"
" Arumi, bisa saja dia berbohong pada kita, karena setau kita, yang memegang kendali sekolah ini adalah tuan muda Wijaya, bukan orang tuanya, jadi tidak mungkin kalau tuan muda dingin itu merekomendasikan Riana, memangnya kenapa kau benci sekali pada Riana?"
" Bella, kau bodoh, lihat saja semua pria di kelas kita, mereka bilang cantik, hanya saja mereka tidak ada yang berani padaku, untuk itu mereka tidak ada yang mendekati Riana, dan kau lihat saja pak Angga, dia juga menatap Riana seperti bukan tatapan guru pada murid, tapi tetapan suka."
Maya yang mendengar ucapan sahabatnya, ia seketika terkejut saat mendengar pak Angga
" Pak Angga?"
" Iya, Maya, pria yang kau sukai itu, sepertinya tidak bisa kau miliki."
Maya yang mendengar ucapan dari sahabatnya, ia semakin marah
" Gadis sialan! Awas saja kalau benar-benar merebut pak Angga dariku!"
Bella yang mendengar ucapan Maya, ia langsung menyuruh Maya untuk sabar
" Sabar Maya, tidak mungkin pak Angga mencintai Riana, walaupun pak Angga terkenal ramah, tidak mungkin pak Angga mencintai Riana dalam satu kali bertemu, kau juga tau, pak Angga tidak pernah tertarik dengan wanita mana pun."
" Iya juga Bella, pak Angga tidak mungkin mencintai Riana."
" Sudah lebih baik kita masuk ke dalam kelas."
" Iya Bella." jawab Maya dan Arumi
Arumi, Bella, dan Maya langsung masuk ke dalam kelas. Setelah masuk ke dalam kelas, tidak lama materi pelajaran itu di mulai. Angga langsung memberikan beberapa tugas untuk muridnya, sambil menunggu murid-muridnya menyelesaikan tugasnya. Angga duduk sambil menatap wajah Riana yang fokus pada materi yang ia berikan, ia langsung tersenyum
" Riana, kau sangat menggemaskan, lebih menggemaskan dari foto data yang aku periksa kemarin, kau juga sangat pintar, benar-benar gadis yang sempurna." batin Angga
__ADS_1
Setelah 1 jam murid-murid itu sudah menyelesaikan tugas yang di berikan oleh Angga. Meri yang tidak lain adalah ketua kelas di situ, ia langsung mengumpulkan tugas tadi, lalu bel itu langsung berbunyi
Taring...
Angga langsung mengahiri kelasnya
" Baiklah anak-anak, materi pelajaran kita sampai di sini dulu, Meri kau bawa buku itu ke dalam ruangan saya."
" Baik pak." jawab mereka berbarengan
" Iya pak." jawab Meri
Angga seperti tadi pagi, ia langsung merapihkan buku materinya, lalu langsung melihat Riana yang merapihkan alat tulisnya, setelah itu ia langsung keluar dengan senyuman di bibirnya. Maya yang memperhatikan pak Angga dari tadi, ia langsung berdecik kesal
" Sial, ternyata pak Angga benar-benar mencintai Riana dalam pandangan pertama, terlihat jelas dalam tatapan pak Angga, aku tidak bisa gadis sialan itu mendapatkan pak Angga." batin Maya
Riana dan Susan sudah beres memasukkan alat tulisnya ke dalam tasnya. Susan langsung bertanya pada Riana, siapa yang akan menjemput Riana
" Riana, kau di jemput siapa?"
" Aku tidak di jemput."
" Bagaimana kalau pulang denganku saja?, kebetulan aku di jemput pakai supir."
" Tidak perlu."
Riana langsung mengambil ponselnya, ia langsung membuka pesan untuk melihat alamat kantor Wijaya Grup, setelah melihat alamatnya, ia langsung berdecik kesal
" Pria gila, jauh sekali kantornya, uangku bisa habis kalau dia menyuruhku setiap hari ke kantor, apa lagi sekarang aku tidak bekerja, benar-benar membuat kesel saja." batin Riana
Susan yang melihat sahabatnya seperti sedikit kesal, ia langsung bertanya
" Riana, kau tidak apa-apa?"
" Aku baik-baik saja, aku duluan."
" Iya Riana."
Riana langsung berjalan keluar dari kelas, ia langsung mencari taksi, untuk pergi ke kantor suaminya. Angga yang melihat Riana berdiri di sisi jalan, ia langsung menghentikan mobilnya, lalu langsung membuka kaca mobilnya
Riana langsung tersenyum saat melihat gurunya, lalu ia langsung menolak ajakan gurunya
" Tidak perlu pak, terimakasih."
Setelah mengatakan itu, Riana langsung menghentikan taksi
" Taksi."
Taksi itu berhenti, Riana langsung masuk ke dalam mobil, lalu taksi itu langsung melaju. Angga masih diam sambil melihat taksi itu yang mulai menghilang dari pandangannya, setelah itu ia langsung berpikir tentang Riana sambil tersenyum
" Angga, apa yang salah padamu?, dari gadis kecil, hingga tante-tante semua menyukai ketampanmu, tapi kali ini Riana benar-benar berbeda, dan sangat menarik, dari Riana masuk kelas, hatiku terus berdetak lebih kencang. Riana, aku pasti mendapatkan hatimu, dan aku juga tidak peduli kalau kau adalah murudku, yang jelas kau adalah gadis yang sempurna." batin Angga
Sementara di parkiran sekolah, Maya semakin emosi, saat melihat gurunya yang ia cintai mengajak gadis lain
" Sial, ternyata Riana benar-benar bukan gadis biasa, dia bisa mendapatkan hati pak Angga dalam hitungan detik." batin Maya
Riana yang duduk di mobil, ia langsung mengambil ponselnya, lalu langsung melihat foto suaminya yang tersenyum ceriah di layar ponselnya, ia pun langsung tersenyum
" Ternyata kalau di pandang-pandang kau tampan juga, aku pikir kau bukan pria yang suka berfoto, karena melihat sikap dinginmu." batin Riana
Setelah menempuh perjalanan 47 menit, Riana sampai di kantor, ia langsung turun, lalu langsung membayar ongkos taksi itu
" Terimakasih pak."
" Iya sama-sama nona."
Riana langsung berjalan masuk ke dalam kantor itu hingga ia sampai di Resepsionis, lalu ia langsung bertanya pada Resepsionis yang bernama Mita
" Permisi mbak, apa pak Hadi ada?"
Mita yang melihat gadis kecil masih memakai seragam sekolah, ia langsung bertanya dengan sedikit ketus
" Nona siapa?, dan kesini ada perlu apa?"
" Saya, ingin bertemu dengan pak Hadi."
" Apa sudah membuat janji?"
__ADS_1
" Sudah."
" Tunggu sebentar, saya akan menelpon sekretaris dulu."
" Iya."
Mita langsung menghubungi sekretaris CEO yang bernama Sella. Setelah di angkat ia langsung berbicara lebih dulu
" Nona Sella , apa pak CEO akan ada tamu seorang gadis kecil?"
" Tidak, biasanya pak CEO akan berbicara terlebih dahulu. Jika akan ada tamu."
" Baiklah."
Mita langsung mematikan sambungan telponnya, lalu ia langsung berbicara pada gadis kecil yang di hadapannya
" Nona, pak CEO tidak mengatakan akan ada tamu, tadi saya sudah menghubungi sekretarisnya, lebih baik nona pulang saja."
Riana yang mendengar ucapan resepsionis itu, ia sangat kesal
" Apa om niat mengerjaiku, setelah jauh-jauh datang, tapi tidak di temui, dasar pria gila." batin Riana
Riana langsung menelpon suaminya, tapi ternyata sudah 4 kali tidak di angkat
" Kemana dia?" batin Riana
Mita yang melihat gadis kecil itu sibuk memainkan ponselnya, ia langsung menyuruh pulang lagi
" Nona, lebih baik kau pulang, untuk apa kau berdiri di situ, jangan sampai saya memanggil satpam untuk mengusirmu!"
Riana yang mendengar ucapan Resepsionis itu, ia sangat kesal, ia tidak menjawab ucapannya
" Dasar sombong." batin Riana
Ada karyawan wanita yang habis makan siang yang mendekati Riana, hingga ia sampai di depan Riana
" Nona, kau mencari siapa?"
" Saya mencari pak Hadi."
Wanita itu menatap Riana dari atas hingga bawah, lalu ia langsung bertanya lagi
" Ada perlu apa?"
" Saya di suruh ke sini."
Seketika wanita itu langsung tertawa terbahak-bahak
" Hahaha... hahaha.. Gadis kecil, tidak mungkin pak CEO menyuruh seorang gadis kecil kemari, lihatlah kau saja masih memakai seragam sekolah, kau siapa pak CEO?"
Riana yang mendapat ejekan dan mendapatkan pertanyaan, ia sangat bingung harus menjawab apa, kalau ia mengaku istrinya, ia takut suaminya tidak mengakuinya, dan kalau ia mengatakan keluarganya, pasti tidak masuk akal, untuk apa keluarganya datang ke kantor, membuat ia hanya bisa diam. Mita yang mendengar percakapan karyawan itu ia juga ikut tertawa
" Haha, entahlah, kenpa gadis kecil itu kemari dengan menggunakan seragam sekolah."
Riana tidak peduli, dengan ejekan mereka, ia langsung menghubungi suaminya lagi, tapi tetap saja suaminya itu tidak mengangkatnya, hingga Resepsionis itu langsung memanggil satpam
" Pak satpam, tolong suruh gadis kecil itu keluar dari kantor ini!"
" Baik nona."
Pak satpam itu langsung mendekati Riana,ia langsung memberi tahu Riana
" Nona, mari keluar, sebelum saya melakukan kekerasan."
" Tapi pak."
Pak satpam itu langsung menarik paksa tangan Riana, lalu langsung menghempaskan tangan Riana dengan kasar, hingga Riana hampir saja terjatuh, pria itu dengan sigap menahan tubuh Riana dengan tangan kirinya, ia langsung menatap wajah Riana sambil tersenyum, siapa lagi kalau bukan suaminya yang baru saja datang ke kantor, karena tadi ia sedang ada miteeng di luar kantor. Hadi langsung bertanya pada istrinya
" Apa kau baik-baik saja?"
" Om."
Riana langsung bangun dari tangan kiri suaminya. Hadi langsung melihat tangan kanan istrinya yang sedikit merah, ia langsung minta maaf pada istrinya
" Aku minta maaf, tadi aku lupa mengabari orang kantor, bahwa kau akan datang, apa tanganmu sakit?"
Riana hanya menjawab dengan menggeleng-gelengkan kepala. Seketika pak satpam, Mita, dan karyawan wanita itu menatapnya dengan sangat terkejut, saat seorang CEO yang terkenal dingin dan tidak pernah peduli, tapi minta maaf pada seorang gadis kecil, bukan hanya itu Repan saja yang melihat tuan mudanya minta maaf pada istri kontraknya, ia sangat tidak percaya, dengan ucapan yang baru saja ia dengar dari mulut tuan mudanya
__ADS_1