Istriku Ternyata Cinta Pertamaku

Istriku Ternyata Cinta Pertamaku
BAB 37. Kuatir


__ADS_3

Riana duduk di atas ranjang sambil terus menangis, ia sebenarnya menyesal telah menolaknya, tapi ia tidak ingin terus saja di rendahkan, apa lagi perbedaan derajat yang sangat jauh. Setelah terus saja menangis tiba-tiba ia melihat bayangan masa kecilnya, ia melihat seorang pria kecil yang menjukankan foto-foto rumah, rumah itu sama persis dengan rumah ini, tidak ada perbedaan sama sekali, hanya saja kamar ini yang berbeda di penglihatannya, kamar ini adalah berwarna hitam, tapi sekarang seluruh kamar ini berwarna putih, hanya ranjang dan lemari ia yang berwarna hitam, membuat kepala Riana menjadi sakit


"ah, sakit, sakit!"


Riana teriak-teriak sambil memegangi kepalanya, ia langsung turun ke lantai sambil menyadarkan tubuhnya di ranjang. Tiba-tiba seorang pelayan yang berjaga di depan mendengar teriakan nona mudanya, ia langsung mengetuk pintu kamar itu


Tok....tok...


"nona muda, apa kau baik-baik saja?"


Riana tidak mendengar teriakan dari seorang pelayan, ia terus saja memegangi kepalanya. Tidak lama Hadi sampai di rumah, ia langsung berjalan masuk ke dalam rumah itu, lalu langsung menaiki tangga, setelah sampai di depan kamar, ia melihat seorang pelayan yang berdiri seperti sedang kuatir, lalu langsung bertanya pada pelayanan itu


"ada apa bi?"


"tidak tau tuan muda, nona muda tadi teriak kesakitan, saya mencoba untuk memanggilnya, tapi tidak ada jawaban."


Hadi langsung membuka pintu itu, ia melihat istrinya yang bersandar di sisi ranjang, ia buru-buru mendapati istrinya hingga ia sampai di depan istrinya, ia langsung memegang kedua bahu istrinya, lalu langsung bertanya


"kau kenapa gadis kecil."


Walaupun Riana sedang merasakan sakit kepala, tapi ia tetap mengingat ia di pecat karena suaminya, ia langsung menghempaskan kedua tangan suaminya, ia langsung berdiri, tapi tiba-tiba ia melihat bayangan masa kecilnya lagi, pria kecil itu akan mengubah warna kamarnya menjadi warna putih, karena gadis kecil itu menyukai warna putih. Riana yang kesakitan hampir saja terjatuh, tapi suaminya dengan sigap menahan tubuh Riana. Hadi langsung mengangkat tubuh istrinya, lalu langsung berjalan ke arah ranjang miliknya, ia langsung meletakkan tubuh istrinya di atas ranjang, lalu langsung menarik selimut, ia langsung berjongkok di depan istrinya, setelah itu langsung bertanya pada istrinya


"apa perlu aku panggil dokter?, wajahmu juga sangat pucat."


"tidak perlu, kau tidak perlu pura-pura baik padaku."


"gadis kecil, apa maksudmu?"


Setelah mendengar pertanyaan suaminya, Riana langsung duduk, lalu ia langsung menjawab pertanyaan suaminya


"kau yang ingin aku di pecat?, bukan'kah kita sudah ada perjanjian kontrak tidak akan ikut campur masalah masing-masing, tapi kenapa kau ingin memecaptku?, aku benci pada orang yang tidak bisa menepati janji!"


Hadi langsung mematung setelah mendengar ucapan istrinya, ucapan itu sama persis seperti Kristiani, saat itu ia datang terlambat, Karena ia harus ada pelajaran tambahan, Kristiani mengatakan, aku benci pada orang yang tidak bisa menepati janji, membuat ia mengingatkan Kristiani lagi, entah kenapa setiap bersangkutan dengan istrinya, ia selalu melihat Kristiani di dalam diri Riana. Riana yang melihat suaminya hanya diam seperti sedih, ia merasa iba, tapi ia juga tidak tau kenapa suaminya menjadi sedih, harusnya ia yang sedih, karena kehilangan pekerjaan, lalu ia pun memutuskan untuk bertanya


"apa kau tidak apa-apa om?"


Hadi langsung memeluk Riana dengan erat sambil meneteskan air mata, ia menjadi sangat sedih, entah kenapa sekarang hidupnya menjadi lebih tersiksa setelah menikah kontrak, ia juga sering mimpi buruk, lalu nyaman pada istrinya, membuat ia bingung dengan keadaan itu. Riana juga membalas pelukan suaminya, ia tidak tau harus berbicara apa, dan salah ia di mana, hingga membuat suaminya menjadi sedih, tapi ia mengingat yang tidak ada kontrak pisik, ia langsung melepaskan pelukan suaminya, lalu langsung berbicara pada suaminya


"om, bukan'kah kita tidak boleh saling menyrntuh?"


Hadi yang mendengar ucapan istrinya, ia sadar kalau yang ia lakukan itu salah, lalu ia langsung minta maaf, pada istrinya


"aku minta maaf, aku tadi merindukan seorang gadis yang paling berharga dalam hidupku.


"iya tidak apa-apa om."

__ADS_1


"apa yakin kepalamu tidak apa-apa?"


"tidak apa-apa om, kenapa om ingin memecat aku, apa salahku om?, aku sedang butuh pekerjaan om, jadi tolong kau jangan membuat ulah lagi."


"apa pekerjaan itu sangat penting?"


"sangat penting om."


Hadi yang mendengar ucapan istrinya, ia merasa sangat kasihan, dan menyesali perbuatannya kemarin, ia juga berpikir mungkin istrinya merasa sakit karena perusstasi pada pekerjaannya, lalu ia berpikir tentang istrinya


"apa mungkin Riana ingin mencari pekerjaan itu agar dia bisa melanjutkan sekolah lagi, hingga dia menjadi seperti ini, lebih baik aku memasukkan dia ke sekolah SMA Wijaya."


Setelah berpikir cukup lama, Hadi memutuskan untuk menyuruh istrinya masuk ke dalam sekolah SMA Wijaya


"gadis kecil, aku besok akan menyuruh kau masuk ke dalam sekolah SMA Wijaya, mulai besok kau sudah bisa sekolah, tidak perlu lagi memikirkan pekerjaan."


Riana yang mendengar jawaban suaminya, harusnya ia senang karena bisa sekolah lagi, tapi ia sekarang sama sekali tidak senang, ia hanya ingin pekerjaan, ia hanya ingin mengumpulkan banyak untuk, agar tidak terus di rendahkan, ia lelah terus di katakan wanita murahan, lalu ia langsung menjawab ucapan suaminya


"om, saya tidak ingin melanjutkan sekolah, yang aku butuhkan bukan sekolah, aku hanya membutuhkan pekerjaan."


Hadi yang mendengar istrinya menolaknya lagi, ia hanya menghela nafas panjang, entah kenapa istrinya lagi-lagi menolak, saat itu istrinya menolak uang perjanjian kontrak, dan sekarang ia menolak untuk melanjutkan sekolah, tapi ia harus membuat istrinya masuk ke dalam sekolah itu, untuk itu yang bisa ia lakukan hanya mengancam istrinya


"jika kau tidak masuk sekolah, jangan berharap kau bisa mendapatkan pekerjaan."


"om, aku sedang butuh pekerjaan."


"aku tidak peduli! Jika kau masih tetap menolak, aku akan membuat kau sengsara!"


Riana yang mendengar ancaman suaminya, ia sangat takut, ia tidak habis pikir, pria dingin ini mulai mengusik hidupnya sekarang, bahkan dalam kontrak perjanjian saja, suaminya melanggarnya dengan mudah, pedahal mereka menikah baru saja 3 hari, tapi sudah mendapatkan masalah yang tidak masuk akal menurut ia, lalu ia langsung mengiyakan ucapan suaminya, ia tidak ingin bertengkar dengan suaminya, ia merasa kasihan dan takut pada suaminya


"baik om."


"iya sudah, kau yakin tidak ingin aku memanggil dokter untukmu?"


"iya yakin om."


Riana langsung turun dari ranjang suaminya, tapi suaminya dengan sigap menahan bahu Riana


"istirahat saja di ranjang ku, aku akan keluar dulu."


"baik om."


Riana langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang suaminya, aroma parfum dalam ranjang suaminya sangat nyaman, membuat ia ingin sekali tidur di atas ranjang suaminya, tapi ia hanya bisa tidur sementara. Hadi langsung keluar dari kamarnya, ia langsung menuruni tangga hingga ia sampai di ruang tamu, yang dari tadi di tunggu oleh asistennya, lalu ia langsung duduk, setelah itu ia langsung menyuruh asistennya untuk membatalkan miteeng sore ini


"Repan, kau batalkan miteeng untuk sore ini, lebih baik kau urus surat pindah sekolah Riana, Riana saya ajukan masuk ke dalam sekolah SMA Wijaya."

__ADS_1


Repan yang mendengar itu semua, ia sangat tidak Percaya bahwa tuan mudanya sekarang menyayangi istri kontraknya secara berlebihan, tapi ia juga tidak ingin mendapatkan omelan dari tuan mudanya, ia hanya mengiyakan ucapan tuan mudanya


"baik tuan muda."


Repan langsung membungkukan kepalanya, lalu langsung pergi untuk mengurus surat pindah Riana. Hadi langsung balik lagi ke dalam kamarnya, hingga ia sampai di kamar, tapi ia tidak melihat istrinya di atas ranjangnya, lalu langsung mengetuk pintu kamar mandi


Tok-tok


"gadis kecil, apa kau sedang di dalam kamar mandi?"


Tapi di dalam kamar mandi tidak ada sahutan, ia juga tidak mendengar suara apa-apa dari dalam kamar mandi, lalu ia langsung keluar lagi, ia langsung bertanya pada pelayannya dengan perasaan yang sangat kuatir karena tadi melihat istrinya yang sangat kesakitan


"bi, apa kau melihat nona muda?"


"nona muda ada di dekat kolam renang tuan muda."


Hadi langsung lari ke arah samping kamarnya, hingga ia sampai di pintu, ia melihat istrinya yang mondar-mandir di dekat kolam, ia hanya menatapnya dari kejauhan. Riana terus saja mondar-mandir di dekat kolam, ia ingin mengingat nama pria yang ada dalam fotonya, ia ingin tau siapa pria kecil itu, pria kecil yang selalu saja ada di bayang-bayangnya, bahkan pria itu bukan hanya muncul di mimpi, tapi saat menyentuh suaminya ia juga melihat gadis kecil yang tak lain ia sendiri yang begitu rela tertusuk oleh pisau, mungkin pria itu sangat berarti dalam hidupnya, hingga berani melakukan itu, tapi ia masih saja belum mengingat siapa pria yang beruntung ia selamatkan itu


"rumah ini sangat sama seperti yang ada di bayanganku tadi, tapi kenapa di sini tidak ada foto pria kecil itu, dan Kamar yang aku tempati semuanya sama persis seperti di foto itu, apa sebelumnya pria kecil itu pernah tinggal di kamar pria dingin, tapi di meja pria dingin itu, tidak ada satu foto masa kecilnya, apa jangan-jangan benar pria kecil itu pernah tinggal di sini, lalu setelah itu rumah ini di jual pada Tante Henny." batin Riana


Setelah mondar-mandir, Riana langsung mendekati kolam renang itu, hingga ia sampai di sisi kolam, ia menatap air kolam itu dengan tatapan yang pikiran kosong, ia berharap bisa menemukan siapa nama pria kecil yang menghantuinya. Tidak lama Repan datang, ia mencari keberadaan tuan mudanya, untuk melaporkan tentang kepindahan nona muda, ia terus mencari di setiap ruangan, hingga ia menemukan tuan mudanya, yang sedang memandangi nona muda, dari kejauhan, lalu langsung memanggilnya


"sore tuan muda."


Hadi hanya mengangkat jari telunjuk dan telapak tangannya, lalu telapak tangan kiri mengenai jari telunjuk kanan, yang artinya menyuruh asistennya untuk diam. Repan mengerti maksud tuan mudanya, ia hanya diam, lalu ikut memandangi nona muda. Riana yang tidak bisa mengingat apa-apa, tapi ia mengingat gadis kecil itu mengatakan janji nanti setelah dewasa kau menikahiku, hanya kalimat itu yang ia lihat saat memandang air kolam, tidak terasa air matanya langsung menetes, ternyata ia sudah memiliki janji dengan pria kecil yang belum tau siapa, tapi hatinya sekarang sudah di miliki oleh mantan kekasihnya, ia paling benci dengan janji yang tidak di tepati, tapi ternyata ia dulu pernah membuat janji. Badan Riana mulai gemetar, ia tidak percaya bahwa pria itu adalah pria yang membuat ia merelakan nyawanya, tapi sekarang hatinya sudah di miliki mantan kekasihnya, lalu ia langsung berpikir tentang pria kecil itu


"bagaimana kalau pria kecil itu masih menungguku?, bagaimana kalau pria kecil itu terus mencariku?, bagaimana kalau pria kecil itu, tersiksa karena aku menghilang dari kehidupannya?, aku harus bisa mengingat orang-orang yang ada dalam masa laluku, kalau tidak, aku akan mengecewakan setiap orang, untuk sementara aku tidak boleh memikirkan Koko, aku takut pria itu masih menungguku, tapi aku juga tidak bisa kehilangan Koko."


Riana terus berpikir, sampai kehilangan keseimbangan tubuhnya, hingga ia terjatuh ke dalam kolam renang


Byur.....


Riana yang tidak bisa berenang, tapi ia mencoba untuk menyelamatkan diri, ia juga tidak teriak minta tolong, tapi ia mulai pusing, ia melihat pria kecil yang menolongnya saat ia terjun dari lantai atas ke kolam renang Karena cintanya di tolak, pria kecil itu teriak-teriak memanggil nama Kristiani, lalu langsung menolongnya. Bayang-bayang itu sangat jelas hingga membuat Riana mulai hilang kesadaran. Hadi yang awalnya biasa saja, tapi lama-lama ia bukan melihat Riana, tapi ia melihat kristiani, gadis kecil yang ia cintai, ia lalu langsung lari sekencang-kencangnya, mendekati kolam di ikuti asistennya, setelah sampai Hadi langsung terjun ke kolom itu sambil memanggil nama Kristiani


"Kristiani!"


Hadi langsung merangkul tubuh istrinya sambil memanggil nama yang sama


"Kristiani, bertahan."


Hadi langsung mengangkat tubuh istrinya ke atas hingga ia sampai di sisi kolam, tapi Riana sudah tidak sadarkan diri, ia langsung memeluk tubuh istrinya sambil masih memanggil nama yang sama


"Kristiani bangun!, Kristiani aku mohon bangun! Tolong bangun Kristiani!"


Hadi terus saja memanggil nama gadis kecil itu sambil meneteskan air mata, yang ia lihat sekarang bukan Riana. Repan bingung dengan reaksi tuan mudanya, ia benar-benar tidak mengerti kenapa tuan mudanya memanggil nama gadis kecil itu, tapi bukan Riana. Hadi meletakkan tubuh istrinya, lalu ia langsung menekan dadanya berkali-kali, tapi istrinya masih saja belum sadar, kalu ia memutuskan untuk memberi nafas buatan. Hadi langsung mendekati wajah Riana, ia langsung memberi nafas buatan, hingga Riana pun mulai sadar, ia langsung memuntahkan air. Hadi dengan wajah panik ia langsung bertanya

__ADS_1


"Kristiani apa kau tidak apa-apa?"


Detak jantung Riana sangat kencang, setelah mendengar nama Kristiani dari mulut suaminya


__ADS_2