
Yulia yang mendengar jawaban dari Repan, ia memutuskan untuk menjebak Repan, karena Repan sudah berani bermain-main dengan ia, lalu ia langsung duduk, setelah itu ia langsung menampar pipinya sendiri
Plak...
Repan yang melihat itu sedikit terkejut, ia langsung berdiri, lalu langsung mendekati Yulia
" Apa yang kau lakukan nona Yulia?"
Repan baru saja akan memegang wajah Yulia yang di tampar sendiri, tapi Yulia langsung menepis tangan Repan sangat kasar, lalu ia langsung menangis sekencang-kencangnya, layaknya seperti anak kecil sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya
Hiks... hiks...hiks...hiks...
" Nona Yulia, kenapa? Saya hanya becanda masalah ancaman itu, lagian nona Yulia ada-ada saja, bilang mau membunuh saya"
Jujur saja Repan bingung dengan kelakuan Yulia, ia tidak tau kenapa Yulia menampar pipinya sendiri, lalu menangis sekencang-kencangnya, membuat Repan kuatir pada Yulia. Tiba-tiba Hadi langsung membuka pintu ruangan itu, karena Hadi mendengar Yulia yang menangis saat itu sedang memeriksa dokumen
" Yulia kenapa?"
Hadi langsung mendekati Yulia, setelah di samping Yulia. Yulia langsung memeluk perut Hadi yang masih berdiri, karena ia dengan posisi duduk
" Hadi, Repan jahat, hiks...hiks... Repan bilang akan membunuhku, bahkan tadi Repan menamparku, aku takut. Aku tidak tau apa salahku pada Repan, aku tidak tau kenapa Repan sangat membenciku."
Repan yang mendengar ucapan dari Yulia, ia sangat terkejut, yang awalnya kuatir karena Yulia tiba-tiba menampar pipinya sendiri, tapi sekarang ia sangat emosi, ia tidak menyangka kalau Yulia akan menuduhnya
" Gadis gila, bisa-bisanya Yulia menuduhku, aku pikir Yulia tertekan dengan ucapanku yang akan membunuhnya, tapi bahkan Yulia membuat kebohongan yang luar biasa, dasar ular berbisa." batin Repan
Hadi juga membalas pelukan dari Yulia, setelah mendengar cerita dari Yulia, kini mata Hadi menatap asistennya dengan tatapan tajam, ia meminta jawaban, apa benar yang di katakan Yulia. Repan yang menyadari tatapan bertanya, ia langsung berbicara
__ADS_1
" Tuan muda, seumur hidup saya, saya tidak pernah menampar perempuan, apa lagi nona Yulia. Saya tau nona Yulia sedang sakit, jadi tidak mungkin saya melakukan hal bodoh, saya masih waras, walaupun saya tidak suka dengan keberadaan nona Yulia, tapi saya tidak akan melakukan hal bodoh."
Yulia yang mendengar ucapan dari Repan, ia langsung melepaskan pelukannya, lalu langsung menunjukkan pipinya yang merah bekas tamparan, tapi di pipinya tidak ada bekas jari-jari, hanya bekas merah saja
" Hadi, aku tidak mungkin membohongimu, seumur hidupku, aku belum pernah membohongimu, kau lihat ini, ini bekas tamparan Repan. Repan bilang aku pura-pura sakit, Repan bilang aku hanya cari perhatianmu, bahkan Repan benar-benar mengancam akan membunuhku."
Hadi langsung memegang pipi Yulia yang bekas tamparan
" Siapa yang bohong di sini. Aku tau, Repan tidak pernah melakukan kekerasan pada siapapun, tapi Yulia tidak pernah berbohong padaku, lalu siapa yang bohong di sini." batin Hadi
Jujur saja Hadi tidak tau dengan situasi sekarang, bagaimana pun juga ia sangat tau kalau Repan tidak pernah melakukan kekerasan, tapi di sisi lain, Yulia juga tidak pernah berbohong padanya, membuat ia bingung siapa yang bohong di sini
" Apa sakit? Apa perlu aku kompres?"
Yulia hanya menjawab dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, dengan mata yang sendu, membuat siapa saja akan kasihan melihatnya
" Awas saja, aku akan buat perhitungan, dasar ular berbisa." batin Repan
" Masih, bahkan tambahan pusing setelah di tampar Repan."
Repan yang terus di tuduh, ia benar-benar tidak terima
" Nona Yulia, saya tidak pernah berpikir kalau Anda sangat licik. Saya pikir anda Gadis baik-baik, tapi ternyata saya salah, anda adalah ular beribisa!"
" Repan! Kenapa kau masih mengelak, jelas-jelas sudah ada buktinya. Hadi, apa kau hanya diam saja? Setelah asistenmu menamparku?"
" Tuan muda, kau jangan percaya dengan ular berbisa. Saya juga tidak habis pikir, kenapa nona Yulia bisa menuduh saya, jelas-jelas saya tidak berbuat apa-apa. nona Yulia menampar sendiri, lalu dia langsung menangis."
__ADS_1
" Tidak mungkin aku melakukan itu, aku bukan Gadis gila."
Hadi yang mendengar perdebatan Yulia dan asistennya, ia menjadi pusing
" Cukup! Kenapa kalian saling menyalahkan seperti anak-anak? Yulia, aku tanya apa kau benar-benar di tampar oleh Repan?"
" Sudah aku katakan, aku benar-benar di tampar Repan, tapi kenapa kau tidak percaya padaku hiks...hiks... Kau berubah, kau bahkan bukan hanya tidak mau denganku, tapi kau juga tidak percaya padaku."
Yulia langsung menangis lagi sambil merangkul kedua kakinya, dan menyembunyikan wajahnya di lututnya, bahkan sandiwara Yulia sangat bagus, ia mengeluarkan air mata seperti terkena Bullyan. Hadi yang melihat Yulia benar-benar merasa kasihan, lalu ia langsung menyuruh Repan untuk keluar
" Repan, lebih baik kau keluar, seharusnya saya tidak mempercayakan Yulia padamu."
Repan yang di suruh kelur, ia benar-benar tambah kesal
" Bisa-bisanya tuan muda percaya dengan sandiwara Yulia. Aku tau Yulia tidak pernah berbohong, dan Yulia baru kali ini berbohong, tapi tetap saja, dia berbohong dengan membawa-bawa aku, aku yang di salahkan, dasar ular beribisa. Cepat atau lambat aku akan membuat perhitungan, tunggu saja pembalasanku. Gadis gila!" batin Repan
" Tuan muda, saya tidak bisa keluar dari sini, apa lagi sekarang sudah hampir jam 12."
" Bagus kalau sebentar lagi jam 12, kau bisa pergi untuk makan."
Hadi memang tidak sepenuhnya percaya dengan ucapan Yulia, tapi ia tidak ingin mendengarkan perdebatan mereka, untuk itu ia mengatakan itu. Repan yang mendengar jawaban dari tuan mudanya, ia benar-benar prustasi, ia takut istri tuan mudanya datang, lalu salah paham karena hanya ada mereka berdua, bahkan walaupun mereka bertiga pun, belum tentu nona mudanya tidak salah paham, bagaimana pun juga Yulia adalah mantan tunangan dari tuan mudanya
" Tuan muda, saya tidak bisa meninggalkan anda berdua di ruangan ini, apa lagi dengan kondisi nona Yulia menangis."
Hadi yang mendengar jawaban dari Repan, ia hanya bisa menghela nafas berat, ia lupa kalau istrinya akan datang ke kantor, lalu Hadi langsung mengelus pucuk kepala Yulia
" Yulia, jangan menangis lagi, aku percaya padamu, kau juga sedang sakit kepala, yang ada tambah sakit kalau terus menangis."
__ADS_1
Yulia tidak menjawab ucapan Hadi, ia langsung memeluk Hadi masih dengan posisi duduk. Hadi hanya mengelus rambut Yulia, ia bingung harus berbicara apa lagi, yang jelas ia takut kalau ucapanya menyinggung perasaan Yulia, apa lagi Yulia sedang sakit kepala, jadi ia hanya bisa diam. Repan yang melihat adegan itu, ia terus saja menarik nafas dalam-dalam, lalu langsung membuang nafasnya dengan kasar. Jujur saja ia tidak suka dengan sandiwara yang di mainkan Yulia, seandainya Hadi bukan bos nya, mungkin Repan sudah langsung menampar Yulia, karena sudah terlanjur bilang ia yang nampar, tapi karena Hadi bos nya, ia tidak bisa apa-apa, selain menghembuskan nafas kasar
" Gadis sialan, bisa-bisanya memeluk suami orang, awas saja tunggu pembalasanku." batin Repan