Istriku Ternyata Cinta Pertamaku

Istriku Ternyata Cinta Pertamaku
BAB. 135


__ADS_3

Repan yang melihat reaksi dari tuan mudanya, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia tau kalau jawaban yang ia berikan tidak masuk akal. Setelah beberapa saat Hadi bertanya lagi pada Repan


" Sebenarnya kau mau pergi kemana?"


Repan yang mendapat pertanyan ke dua, akhirnya memutuskan untuk berbohong lagi


" Maaf, tuan muda jangan salah paham, tadi nona muda minta untuk di temani di taman, saya tidak enak untuk menolak, dan nona muda juga mengatakan, tidak ingin kalau terus menyusahkan tuan muda. Nona muda ingin tuan muda menyelesaikan pekerjannya yang sudah menumpuk."


Seketika senyuman di bibir Hadi mengambang, akhirnya istrinya itu mengerti dengan posisinya


" Baiklah, kalau begitu kau temani Kristiani, saya akan kembali ke kamar."


"Baik tuan muda."


Hadi langsung kembali lagi ke kamar, sementara Repan, ia memutuskan untuk pergi ke indomaret, sesuai yang di inginkan Riana. Riana duduk termenung di taman, masih dengan hati yang gelisa dan takut. Tidak lama Repan pun datang


" Nona muda, ini yang di minta nona muda."


Repan menyerahkan Plastik putih kecil pada Riana. Riana langsung mengambil plastik yang di serahkan Repan


" Terima kasih pak."


" Sama-sama nona muda."


" Kalau begitu saya permisi dulu pak."


Repan hanya menjawab dengan anggukan kepala, ia menatap punggung Riana yang mulai menjauh


" Semoga saja nona muda hamil, tapi kalau di lihat dari kelakuannya, aku yakin kalau nona muda hamil." batin Repan

__ADS_1


Repan yakin kalau Riana hamil, melihat kelakuan Riana akhir-akhir ini, ia bisa mengetahuinya. Riana langsung masuk ke dalam kamar mandi tamu. Setelah melakukan cara yang sesuai untuk test ke hamilan, ia menunggu hasilnya dengan harap-harap cemas, hanya saja ia beruntung kalau Repan membelikan 2 test kehamilan yang berbeda, jadi ia bisa menggunakannya dua duanya. Setelah satu menit, Riana mengangkat test kehamilan itu, ia memejamkan mata sesaat, lalu langsung melihat ke arah test kehamilan, ia melihat dua garis dua, dengan yang satu masih samar-samar. Riana menatap ke dua test kehamilan dengan mata yang berbinar


" Akhirnya, ke inginanku untuk punya anak bisa tercapai. Terima kasih tuhan, kau sudah memberikan aku sesuatu yang sangat berharga, yang pertama memberikan aku laki-laki yang dulu aku cintai, dan sekarang aku memiliki buah hati darinya, kumplit sudah hidupku sekarang." batin Riana


Riana langsung keluar dari kamar mandi, tidak lupa dengan menyembunyikan test kehamilanya di saku baju tidurnya. Henny yang duduk di sofa tamu, ia melihat Riana yang keluar dari kamar mandi


" Tumben sayang pakai kamar mandi tamu?"


" Iya mah, Riana hanya tidak ingin mengganggu Hubby, dia sedang mengerjakan pekerjannya di kamar, jadi Riana pipis di kamar mandi ini saja."


Henny bisa melihat kalau ada sesuatu yang berbeda dari menantunya, ia melihat senyuman yang lebar dengan mata yang berbinar, entahlah kenapa menantunya itu sangat bahagia, hanya saja ia memutuskan bertanya untuk perubahan sikap menantunya yang beberapa minggu ini


" Sayang, sini duduk dulu."


Henny menepuk sofa yang ada di sampingnya. Riana hanya menjawab dengan anggukan kepala, sambil masih terus tersenyum. Setelah menantunya duduk, Henny menatap mata menantunya


Bagai mana pun juga Henny pernah merasakan hal yang sama saat kehamilan Hadi


" Raiana lupa mah, tapi ada yang ingin Riana katakan pada mama."


Riana menghentikan ucapannya, ia langsung mengambil test kehamilan dari saku baju tidurnya, lalu memberikannya pada ibu mertuannya


" Sayang, kamu ham!"


Riana langsung memotong pembicaran ibu mertuanya


" Mama, jangan keras-keras, nanti di dengar hubby."


Henny menjawab ucapan menantunya dengan menganggukan kepalanya dan dengan mata yang berbinar. Henny tau kalau Riana mungkin ingin memberikan kejutan pada anaknya. Henny langsung memeluk Riana sambil meneteskan air mata bahagia

__ADS_1


" Selamat iya sayang, sebentar lagi kamu akan menjadi mama, dan terima kasih sudah memberikan mama cucu."


" Terima kasih ma, terima kasih karena telah mempercayakan Riana untuk jadi menantu mama. Terima kasih, karena telah memberikan anak mama untuku, dia laki-laki yang sangat baik, laki-laki yang sangat sempurna. Riana berharap kelak bayi yang di kandungan Riana seperti papa nya."


Henny hanya menjawab dengan anggukan kepala, ia sangat terharu dengan ucapan terima kasih dari menantunya, dan ia tidak salah pilih untuk menjadikan Riana menantunya. Mereka langsung melepaskan pelukannya. Riana yang melihat ibu mertuanya meneteskan air mata, ia langsung menghapus air matanya


" Mama kenapa menangis?"


" Ini air mata bahagia sayang."


Memang Henny sangat bahagia, bukan hanya karena ia akan mendapatkan cucu saja, tapi ia bahagia karena ke inginan anaknya telah terwujud, dan mungkin dengan ini Aldi bisa melupakan Riana sepenuhnya, karena Henny tau, putra ke duanya sangat mencintai Riana


" Mama, Riana ke kamar dulu iya."


" Iya sayang."


Henny langsung mencium kening Riana sekilas sambil tersenyum. Riana langsung mengambil test kemalin lagi, ia masukan ke dalam saku baju tidurnya lagi, lalu langsung menaiki tangga. Sementara Repan yang sedang di kamar, ia mendengar percakapan Nyonya nya dan Riana langsung tersenyum


" Ternyata dugaanku tidak salah, nona muda sedang hamil. Syukurlah, sebentar lagi aku akan di panggil om."


Repan tersenyum, ia juga merasakan bahagia seperti yang di rasakan oleh mereka. Riana masuk ke dalam kamarnya, ia melihat suaminya duduk di sofa sambil tangannya sibuk mengetik sesuatu do laptopnya. Riana langsung duduk di ranjang kamarnya sambil bersandar, karena tidak ingin mengganggu suaminya, lalu ia menatap wajah serius suaminya sambil tersenyum


" Hubby, sebentar lagi kau akan menjadi papa. Ke inginanmu telah terwujud, terima kasih karena kau selalu mencintaiku, terima kasih karena selalu menjaga komitmen yang pernah kita ucapkan, dan maaf, telah membuatmu terpuruk bertahun-tahun karena aku telah menghilang dan melupakan memori tentang kita." bagin Riana


Hingga tidak terasa, Riana meneteskan air mata Hadi yang terlalu fokus ke pekerjanya, ia tidak menyadari kalau istrinya sudah masuk ke kamar, tapi ia merasa sedang di perhatikan oleh sesaorang, namen ia mengingat istrinya sedang di taman, jadi tidak mungkin kalau ada istrinya di kamar. Setelah beberapa menit, akhirnya Hadi melihat ke arah ranjang, ternyata benar, kalau istrinya sedang menatapnya sambil meneteskan air mata. Hadi langsung menghela nafas berat, saat melihat istrinya menangis, ia yakin kalau istrinya menangis karena ia terlalu fokus pada pekerjaannya, hingga ia tidak menyadari ada istrinya. Hadi langsung menyimpan file yang telah ia ketik, lalu ia langsung menutup laptopnya. Setelah itu ia langsung mendekati istrinya, setelah di depan istrinya, ia langsung minta maaf, ia tidak ingin kalau istrinya marah


" Maaf sayang, aku tadi terlalu fokus pada pekerjaanku, hingga tidak menyadari kalau ada kau di kamar."


Riana hanya menjawab dengan menggeleng- gelengkan kepalanya, lalu langsung memeluk suaminya sangat erat sambil dengan masih posisi duduk di atas ranjang, dan di sanalah tangisannya pecah. Hadi juga membalas pelukan dari istrinya sambil membelai rambut istrinya, ia tidak tau kenapa istrinya menangis, ia hanya mencoba untuk menenangkan istrinya

__ADS_1


__ADS_2