
Setelah suaminya pergi, Riana juga ikut pergi, ia pergi ke rumah ibunya, sekarang Riana duduk sambil menyadarkan kepalanya di kursi luar, karena orang rumah tidak ada, mungkin ibunya dan BI Katmi pergi untuk membeli sayuran dan buah untuk jualan, sedangkan kakanya belum pulang kuliah. Riana yang bersedar di kursi, ia sesekali memikirkan tentang kejadian tadi, kejadian yang memeluk suaminya, ia juga tidak tau, kenpa bisa melihat bayang-bayang yang sangat mengerikan
"apa itu benar-benar masa laluku, apa dulu punggungku pernah tertusuk pisau hanya untuk seorang pria kecil, siapa pria itu, dan kenpa pria kecil itu sama seperti di foto yang aku punya, apa pria kecil itu sangat berharga buatku, hingga aku tidak memperdulikan nyawaku sendiri, atau itu hanya sebuah mimpi burukku, tapi tidak mungkin sebuah mimpi, jelas-jelas tadi aku tidak tidur, lalu apa kaitannya dengan pria dingin itu, kenpa aku bisa melihat itu semua dengan jelas saat di pelukan pria dingin."
Riana terus saja berpikir tentang pria kecil itu, bahkan hingga sekarang, ia tidak bisa mengingat siapa nama pria kecil itu, tapi ia juga tidak tau, kenapa bisa melihat itu semua saat di pelukan suaminya, yang di anggap olehnya pria dingin. Tidak lama ibunya Riana dan BI Katmi datang, ia membawa sayuran dan buah. Marina yang melihat anaknya, ia langsung meletakkan buah itu. Riana juga yang melihat ibunya, ia langsung berdiri, lalu mereka saling berpelukan. Walaupun Riana pergi dari rumah itu baru dua hari, tapi mereka berdua saling merindukan. Setelah sekitar 1 menit mereka berpelukan, lalu mereka langsung melepaskan pelukan itu. Marina langsung menatap mata anaknya dengan perasaan kuatir, karena ia tau, Hadi adalah pria yang sangat dingin, ia takut anaknya menderita, lalu ia memutuskan untuk bertanya pada anaknya
"sayang, apa suamimu tidak kasar?"
Riana yang mendengar pertanyaan ibunya yang sangat kuatir, ia langsung tersenyum, lalu langsung menjawab pertanyaan ibunya
"tidak mah, om Hadi sangat baik."
Marina yang mendengar jawaban anaknya, ia langsung mengerutkan keningnya, karena menurutnya sangat aneh, bagaimana mungkin anaknya memanggil suaminya dengan sebutan om. Walaupun usia mereka memang berbeda jauh, tapi baginya, ini sangat aneh, lalu ia memutuskan untuk bertanya pada anaknya
"sayang, kau memanggilnya dengan sebutan om?"
"iya mah, Riana bingung harus memanggil om Hadi dengan sebutan apa, jadi aku hanya memanggilnya dengan sebutan om."
"sayang, bukan'kah Hadi tidak menyukai di panggil om?"
"Riana tidak tau tentang itu mah, tapi om Hadi tidak marah saat di panggil om."
"baiklah, ayo masuk."
"baik mah."
Mereka langsung masuk ke dalam rumah sederhana itu. Riana langsung merebahkan tubuhnya di kursi, karena ia tadi bahkan datang kesini dengan berjalan kaki, membua kakinya pegal, ia lakukan semua itu hanya untuk menghemat, ia tidak ingin menghambur-hamburkan uang hasil kerjanya, ia ingin menggunakan uang itu untuk keperluan keluarga, kalau pun masih tersisa, ia menyimpanya di dalam tabungan, agar suatu saat ia bisa membuka usaha, dan bisa membalaskan dendam ayah angkatnya. Marina masih berdiri, ia melihat anaknya langsung berbaring, ia langsung bertanya, apa anaknya jalan kaki, karena itu kebiasaan anaknya, ia selalu bilang ingin menghemat
"sayang, apa kau dari rumah mertuamu berjalan kaki?"
"iya mah."
"sayang, jarak rumah kita dengan rumah ibu mertuamu itu sangat jauh, kenapa tidak naik taksi atau naik ojek saja."
"tidak apa-apa mah, itung-itung sambil olahraga."
"apa kau tidak akan menceritakan sesuatu pada mamah?"
"tidak mah, tidak ada yang mau Riana ceritakan, semuanya sangat baik pada Riana, jadi mamah tidak perlu kuatir."
"baiklah, boleh mamah tinggal ke dapur untuk mencuci buah-buahan?"
"tentu saja boleh mah."
"iya sudah, oh iya, apa sayang mau jus?"
"tidak mah."
"baiklah sayang."
Marina langsung melangkahkan kakinya ke dapur. Riana hanya masih rebahan sambil menunggu kakanya pulang. Sekitar 30 menit Riana rebaha sambil memejamkan mata. Akhirnya Rina pun pulang, ia langsung masuk ke dalam rumah sederhana itu, hingga ia sampai di depan adiknya
"adek."
Riana yang mendengar suara Kakanya, ia langsung terbangun, lalu langsung berdiri, ia langsung memeluk kakaknya dengan erat. Rina juga membalas pelukan adiknya dengan erat. Setelah sekitar 1 menit, Rina dan Riana melepaskan pelukannya. Rina memutuskan untuk mengajaknya ke dalam kamar, ia yakin adik kesayangannya akan menceritakan sesuatu padanya
"dek, ayo ke kamar."
"iya Ci."
Riana memegang tangan kanan adiknya, lalu ia langsung berjalan masuk ke dalam kamarnya, hingga ia sampai di kamar. Rina langsung meletakkan tasnya, lalu langsung duduk bersama adiknya di atas ranjang, setelah itu, ia langsung bertanya pada adiknya tentang Hadi, apa lagi ia sangat kuatir kalau Hadi adalah Kaka kandungnya, karena aroma parfum yang sama seperti Riana kecil, tapi ia juga, enggan untuk menceritakan tentang aroma parfum itu pada adiknya
"dek, apa pria itu tidak melakukan apa-apa padamu?"
__ADS_1
"tidak Ci, om Hadi juga memberikan sebuah perjanjian kontrak padaku, di dalam pernikahan kita, tidak ada kontak pisik, tapi Ci."
Riana tidak bisa lagi melanjutkan ucapannya, ia bingung, haruskah ia menceritakan tentang Aldi, atau hanya memendamnya di hatinya, tapi hanya kakanya, orang yang bisa untuk ia bersandar, tapi ia juga, tidak ingin melihat kakaknya sedih. Rina yang melihat adiknya murung, dan memberhentikan pembicaraan itu, ia memutuskan untuk bertanya pada adiknya
"kenapa dek?, apa yang sebenarnya terjadi?, ceritakan semuanya padaku."
Riana yang mendengar pertanyaan dari Kakanya, ia langsung menangis
Hiks...hiks....hiks....
Rina yang melihat adiknya menangis, ia langsung memeluk adiknya dengan erat, lalu langsung minta maaf pada adiknya, ia takut kalau adiknya, tertekan atas pernikahan kontrak yang di alaminya
"dek, aku minta maaf, tidak seharusnya kau yang terikat dalam pernikahan kontrak itu, aku tau pasti sangat tidak mudah, apa lagi Hadi orang yang sangat dingin, dia adalah orang yang sulit untuk berbicara dengan orang lain, selain dengan keluarganya dan rekan bisnisnya, aku juga minta maaf karena tidak bisa menjadi Kaka yang baik untukmu, pasti selama 2 hari ini, kau menderita karena pernikahan kontrak itu."
Riana yang mendengar permintaan maaf dari Kakanya, ia hanya menjawab dengan menggeleng-gelengkan kepala, sambil masih menangis tersedu-sedu, karena ia mengingat semua kata yang di ucapkan oleh mantan kekasihnya, ia mencoba tegar, dalam semua itu saat berjalan menuju ke rumah untuk menemui kakanya, ia ingin menceritakan semua yang ada di hatinya pada kakanya, tapi sekarang ia belum bisa menceritakan semuanya, ia merasakan dadanya sangat sesak. Rina sangat kuatir, ia tidak tau apa yang adik kesayangannya alami, hingga tangisan itu begitu pecah, tapi ia enggan untuk bertanya, ia hanya diam dan menunggu adiknya menceritakan apa yang di alaminya. Setelah 4 menit Riana menangis, ia mulai tenang, setelah itu ia memutuskan untuk menceritakan semua yang di alaminya
"Cici, Koko Aldi adalah adik kandung dari pria sombong dan dingin itu."
"iya dek, memang adalah anak kedua dari Tante Henny, kenpa kau memanggil Hadi sangat kumplit, pria sombong dan dingin?"
"iya, pria itu sangat sombong, dia bilang aku tidak boleh menyentuhnya, bukan'kah itu sangat sombong?, dia juga orang yang tidak peduli dengan perasaan orang lain, bukan'kah itu namanya dingin?"
"iya dek."
"Cici, aku tidak menyangka, kalau Koko Aldi adalah adik dari pria sombong itu. Koko Aldi adalah orang yang sangat baik dan ramah, sangat tidak mirip kalau adik kandungnya, tapi sekarang aku tau sikap Koko Aldi, dia sangat mirip dengan kakanya. Koko Aldi mengatakan aku adalah wanita murahan, yang menerima pernikahan kontrak hanya untuk uang, dia bahkan mengatakan kalau aku tidak lebih dari sampah, dia sangat membenciku, aku awalnya akan mengejarnya kembali, tapi sepertinya aku sudah tidak memiliki kesempatan untuk itu, dia seperti sangat jijik padaku, ci, aku harus melakukan apa?"
Rina langsung meneteskan air mata, setelah mendengar penjelasan dari adik kesayangannya, ia sangat tidak tega pada adik kesayangannya, tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur, andaikan saja dulu ia tau yang akan menikah kontrak bersamanya itu adalah kuarga dari Wijaya Grup, semuanya tidak akan terjadi, adiknya pasti masih bisa mengejar cinta pertamanya, tapi sekarang ia juga tidak memiliki keyakinan, kalau Aldi masih mencintai adiknya
"aku minta maaf dek, harus membuatmu menderita di masa muda, bahkan kau harus di anggap sebagai sampah oleh orang yang kau cintai, dan mungkin juga kau sangat sulit menghadapi sikap Hadi, dia adalah pria sombong, tapi aku tetap bersyukur, karena Hadi tidak menyentuhmu, setidaknya aku bisa lega, karena aku takut kalau Hadi adalah Kaka ksndungmu, tapi untuk membuktikan itu semua sangat sulit, apa lagi tidak memiliki bukti apa-apa, bukti satu-satunya hanya aroma parfum yang sangat jelas, untuk itu aku tidak bisa menceritakan semua ini padamu, aku takut dugaanku salah."
Rina terus saja berpikir sambil meteskan air mata, ia bahkan tidak merespon penjelasan adik kesayangannya. Riana yang melihat kakaknya menangis, ia langsung bertanya pada kakanya
"Cici, kenapa?"
"aku tidak apa-apa, dek, aku minta maaf, karena membuatmu sedih."
"tidak apa Cici."
"harusnya, aku tidak melibatkanmu dalam pernikahan kontrak, seharusnya aku yang menerima pernikahan kontrak itu, pasti semuanya tidak akan terjadi, aku benar-benar menyesal, sekali lagi aku minta maaf dek."
"sudahlah ci, tidak perlu minta maaf, mungkin aku dan Koko Aldi memang tidak bisa bersama, tapi aku memiliki keanehan setelah bersama pria dingin itu ci."
"keanehan apa dek?"
"setelah aku menikah dengannya, aku bisa memimpin pria kecil yang ada di fotoku lagi, dan yang terakhir, saat aku memeluk pria dingin itu, aku melihat bayang-bayang seperti masa laluku, pria itu akan di tusuk oleh pisau, tapi aku langsung menghalanginya, hingga akhirnya aku yang tertusuk pisau, apa itu benar-benar nyata ci?, atau itu hanya sebuah mimpi burukku?, tapi aku benar-benar tidak tidur Ci, bukan'kah itu sangat aneh?"
"iya dek, itu memang aneh, tapi kau tidak perlu terlalu memikirkan hal itu."
"ci, mungkin saja, ini adalah petunjuk agar aku bisa mengingat masa laluku, apa mungkinkah, pria dingin itu ada di masa laluku?"
Rina yang mendengar pertanyaan dari adik kesayangannya, wajahnya mulai pucat, ia takut kalau dugaannya benar, lalu ia langsung menjawab pertanyaan adiknya
"tidak mungkin dek, mungkin saja itu hanya sebuah kebetulan."
"tapi ci, hanya dengan pria dingin itu, aku bisa mimpi buruk lagi, Cici juga tau, mimpi itu sudah lama hilang, tapi tiba-tiba saja sekarang muncul kembali, bukan'kah itu seharusnya ada kaitannya dengan pria dingin itu?"
"sudahlah dek, tidak perlu di pikiran."
"baik ci."
Riana langsung melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 14.21 WIB, ia lalu memutuskan untuk pulang
"Cici, aku pulang dulu."
__ADS_1
"cepat sekali dek, aku masih sangat merindukanmu."
"Ci, walaupun status aku hanya istri kontrak, tapi aku harus pulang tepat waktu, kalau tidak pria dingin itu akan mengatakan badanku banyak keringat."
"baiklah, dek."
Rina dan Riana, lalu langsung keluar dari kamarnya, ia langsung menuju ke dapur untuk menemui ibunya, hingga ia sampai di dapur. Marina yang sedang menyusun buah-buahan yang sudah di cuci, ia menghentikan pekerjaannya, lalu langsung bertanya pada anaknya
"sayang, apa kau mau pulang?"
"iya mah, aku harus pulang."
"baiklah sayang, mari mamah antara sampai depan rumah, apa kau tidak naik kendaraan saja?"
"tidak mah."
"sayang, kalau naik kendaraan umum saja, agar tubuhmu tidak terlalu lelah."
Riana yang mendengar ucapan ibunya, ia hanya mengiyakan, walaupun menurutnya sama saja seperti jalan kaki, karena naik kendaraan umum harus menunggu dulu
"baiklah mah."
Mereka langsung berjalan ke luar rumahnya, setelah di luar. Marina langsung memeluk anaknya dengan erat. Riana juga membalas pelukan itu
"sayang, jaga dirimu baik-baik."
"iya mah, mamah tidak perlu kuatir, aku akan selalu menjaga diriku dengan baik."
Setelah sekitar 30 detik, Riana dan Marina lalu melepaskan pelukan. Setelah itu Rina langsung memeluk adiknya dengan erat. Riana juga membalas pelukan kakanya dengan erat
"dek, ingat, jangan terlalu memikirkan tentang masa lalumu."
"baik Ci."
Setelah 30 detik, Rina dan Riana melepaskan pelukannya
"hati-hati dek."
"iya kak."
"hati-hati sayang."
"iya mah."
Riana langsung berjalan ke jalan raya, hingga ia sampai di tempat tunggu angkutan umum, ia duduk di tempat penunggu itu. Hadi baru saja pulang dari kantor, ia melihat istrinya dari dalam mobil, yang sedang menunggu angkutan umum, lalu ia langsung menyuruh asistennya untuk berhenti
"Repan, berhenti."
"baik tuan muda."
Hadi langsung membuka kaca mobilnya, lalu langsung memanggil istrinya
"gadis kecil, masuklah."
Riana yang mendengar teriakkan suaminya, ia langsung menjawab ucapan suaminya
"tidak perlu om."
"masuklah sebelum aku paksa."
"baik om."
Riana langsung mendekati mobil, lalu ia langsung masuk kedalam mobil
__ADS_1