
Riana masih memejamkan mata. Walaupun Riana tidak bisa tidur, tapi ia berusaha untuk tidur, ia tidak ingin semakin di buat gila oleh perasanya. Setelah sekitar 20 menit, ia sampai di pekarangan rumah. Mila langsung turun, lalu langsung membukakan pintu untuk nona mudanya, tapi non mudanya masih saja memejamkan mata, lalu Mila dengan suara lirih membangunkan nona mudanya
" Nona muda, kita sudah sampai."
Riana yang mendengar ucapan asistennya, ia tidak menjawab ucapan asistennya, ia langsung membuka mata, lalu langsung mengambil tasnya, setelah itu, ia mencari dompetnya di kantung plastik yang berisi cemilannya, tapi ia tidak menemukan dompet itu. Riana langsung melempar semua cemilannya di kursi sebelah sambil berbicara
" Gawat, gawat, bagaimana mungkin dompetku hilang. Mila kita puter balik ke arah supermarket tadi."
" Baik nona muda."
Mila langsung masuk lagi ke dalam mobil, lalu langsung melajukukan mobil itu. Wajah Riana mulai merah, ia sudah mulai menangis, bukan karena dompet itu banyak uang ataupun ada ATM milik suaminya, tapi karena dompet itu ada foto masa kecilnya, foto itu adalah bukti satu-satunya untuk bisa menemukan keluarganya, tapi kalau dompet itu sampai hilang, ia tidak bisa menemukan keluarganya. Riana merasa mobil itu lambat, ia langsung menyuruh asistennya untuk lebih cepat
" Mila, tolong lebih cepat sedikit."
" Baik nona muda."
Mila langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mereka sampai di supermarket tadi. Riana dan Mila langsung turun dari mobil, mereka langsung mencari dompet itu. Riana langsung masuk ke dalam, ia langsung mendekati kasir, lalu langsung berbicara dengan kasir
" Nona, apa saya bisa melihat cctv di sini?, dompet saya hilang, sedangkan dompet itu sangat berharga buat saya."
" Baik, mari silahkan."
Kasir itu langsung membawa Riana ke ruangan cctv, hingga mereka sampai. kasir itu langsung meminta Padli yang menjaga cctv, untuk mencari cctv sekitar 20 menit yang lalu
" Padli, coba kau putar rekaman cctv sekitar 20 menit yang lalu."
" Baik."
Padli langsung memutar rekaman cctv tersebut, ia memang menemukan rekaman yang di maksud, tapi hingga keluar dari supermarket, Riana masih memegang dompet tersebut. Wajah Riana mulai pucat, ia langsung gemetar
" Gawat, bagaimana ini." batin Riana
__ADS_1
Padli langsung berbicara pada Riana
" Sampai nona keluar dari supermarket ini, nona masih memegang dompet itu."
" Iya, terimakasih, karena sudah mengijinkan saya untuk melihat cctv, kalau begitu saya permisi dulu."
" Iya nona sama-sama."
Riana langsung berjalan keluar dari supermarket itu, ia langsung mendekati asistennya yang mencari di luar supermarket, hingga ia sampai
" Mila, sepertinya, saya bukan menjatuhkan dompetnya di sini, tadi saya sudah melihat cctv, tapi sama sekali tidak ada."
" Lalu harus bagaimana nona muda?"
" Kita terus saja berjalan ke arah parkiran lagi, siapa tau saya menjatuhkannya di sana."
" Baik nona muda."
Riana langsung berjalan mendekati parkiran hingga ia sampai, tapi ia masih tidak menemukan dompet itu. Riana langsung terduduk lemas di sisi jalan, sambil meneteskan air mata
Mila juga ikut jongkok di depan nona mudanya, lalu ia langsung bertanya pada nona mudanya
" Nona muda, kenapa nona muda menangis, apa dompet itu sangat berharga buat nona muda?"
" Iya, dompet itu ada foto masa kecil, dan itu satu-satunya bukti untuk mempertemukan saya dengan mereka, aku sudah susah payah untuk mengingatnya, hiks....hiks..."
Mila yang mendapat penjelasan dari nona mudanya, ia sama sekali tidak mengerti, maksud dari penjelasannya, ia hanya merasa kasihan terhadap nona mudanya, lalu ia langsung menenangkan nona mudanya
" Nona muda, tenanglah, kita pasti bisa menemukan dompet itu, lebih baik kita mencarinya lagi."
" Mila, badan saya sudah benar-benar lemas, saya sudah tidak mampu untuk berdiri, bisakah kau membawa saya ke sisi jalan situ." ucap Riana sambil menunjuk ke arah jalan
__ADS_1
" Baik nona muda."
Mila langsung membawa nona mudanya di sisi jalan yang lebih teduh, karena banyak pepohonan di situ, hingga ia sampai. Riana langsung duduk lagi di tanah, ia merutuki kebodohannya sendiri
" Seandainya aku tidak memikirkan suami kontrakku, aku tidak akan kehilangan itu, aku harus mencari di mana lagi. Adanya foto itu saja, aku sangat sulit untuk mencari tau keluargaku, apa lagi hilangnya foto itu, bagaimana aku bisa menemukan keluargaku, sedangkan ingatanku saja belum kembali, dan bahkan ingatanku hanya bersama pria kecil itu, tapi aku juga masih belum mengingat namanya. Riana, kau benar-benar bodoh." batin Riana
Mila bingung harus berbuat apa, ia pun langsung ijin untuk mencari dompet itu lagi, ia langsung bertanya pada nona mudanya
" Nona muda, saya akan mencari lagi dompetnya, apa boleh?, dan ciri-ciri dompetnya seperti apa?, agar aku mudah menemukannya."
" Dompet itu berwarna putih, dan ada namanya di gantung dompet itu, Riana Renata."
" Baik kalau begitu, saya akan mencari dompetnya dulu."
" Iya Mila."
Mila langsung berjalan lagi di sekitar situ, untuk mencari dompet nona mudanya. Setelah Mila pergi, Riana mencoba mengontrol kondisi badannya yang dari tadi gemetar
...****************...
Kristian sedang duduk di sofa hotel dekat dengan supermarket tempat Riana belanja tadi, Kristian terus saja memandangi dompet Riana yang ia letakkan di meja, tadi yang menemukannya memang asistennya, lalu asistennya langsung memberikannya pada ia, karena dompet tersebut ada namanya, sedangkan nama itu, nama yang di kenalinya, untuk itu, ia mengambil dompet itu, tapi ia tidak langsung mengantarkan dompet itu, karena tubuhnya memang sangat lelah, ia akan memberikannya besok pagi. Kristian langsung mengambil dompet tersebut, ia memutar-mutar dompet tersebut, rasanya ia sangat penasaran dengan isi dompetnya, entah kenapa rasanya ia sangat penasaran, dan ini baru pertama kalinya, ia penasaran pada dompet orang lain
" Apa aku buka saja iya dompet ini?, atau jangan, kalau aku buka, namanya tidak sopan, sudah jelas-jelas di situ sudah ada namanya, tapi masih di buka, benar-benar keterlaluan, tapi aku sangat penasaran dengan isi dompet ini, entah kenapa, rasanya ingin sekali melihat isi dompet ini." batin Kristian
Kristian langsung meletakkan lagi dompet itu. Walaupun ia sangat penasaran, tapi ia enggan untuk membukanya. Yuda melihat tuan mudanya yang memutar-mutar dompet itu lalu langsung meletakannya lagi, ia pun langsung bertanya pada tuan mudanya
" Tuan muda, kenpa terus memutar-mutar dompet nona Riana?"
" Yuda, jujur saja, saya sangat penasaran dengan isi dompet milik Riana, dan ini pertama kalinya, saya penasaran dengan isi dompet orang lain, tapi saya juga tidak enak hati, di situ sudah jelas tertera nama Riana Renata, jadi tidak mungkin saya membuka dompet tersebut, tapi saya sangat penasaran."
" Tuan muda. Jika penasaran, kenpa tidak tuan muda buka saja."
__ADS_1
Kristian yang mendengar ucapan dari asistennya, ia langsung berpikir sejenak
" Apa aku buka saja iya, dari pada aku terus penasaran dengan isi dompetnya. Tidak, aku tidak boleh membuka dompet milik orang lain." batin Kristian