
Hadi masih tetap diam, walau pun ia merasakan pegal di kakinya, tapi apa boleh buat, kalau sang istri masih tertidur pulas
" Tidurnya sangat nyenyak. Kristiani, ada apa sebenarnya dengan perubahan sikapmu, apa mungkin dia hamil?" batin Hadi
Setelah bertanya-tanya di hatinya, Hadi memutuskan untuk mencari tau tentang tanda-tanda wanita hamil lewat google, hingga akhirnya ia menemukannya, dan kemungkinan besar kalau istrinya sedang hamil. Senyuman merekah di bibir Hadi terpancar, hingga ia tidak mengetahui kalau istrinya sudah bangun. Riana membuka mata perlahan, ia melihat suaminya yang tersenyum sambil menatap ponsel, membuat ia marah. Riana langsung duduk, lalu langsung menatap mata suaminya yang menatapnya dengan tatapan tetkejut
" Kenapa hubby menatapku seperti terkejut? Apa hubby sekarang mencoba untuk berpaling dariku? Apa hubby mencintai wanita lain selain aku? Apa hubby sudah bosan padaku?"
Hadi menghela nafas berat saat mendapat banyak pertanyaan dari istrinya, jujur ia memang sangat terkejut karena istrinya bangun langsung menatapnya dengan tatapan tajam, tapi ia tidak habis pikir kalau istrinya menuduhnya tanpa bukti
" Sayang, kau jangan salah paham, aku sama sekali tidak bermaksud untuk berpaling darimu, hanya kau lah wanita yang aku cintai."
" Bohong! Buktinya hubby tersenyum pada ponsel itu, aku tau sikap aku akhir-akhir ini sangat menjengkelkan, tapi aku juga tidak ingin seperti ini sama hubby sebenarnya, aku tidak tau kenapa sikapku menjadi seperti ini!"
Mata Riana sudah merah, hingga ia meneteskan air mata, ia juga tidak tau kenapa ia menjadi wanita manja dan cengeng, yang ia tau dari dulu, hanya sikap curiganya yang terlalu berlebihan. Hadi menghela nafas berat, saat melihat istrinya menangis, bagi istrinya yang ia lakukan selalu saja salah di mata istrinya. Hadi langsung meletakan ponselnya di atas meja dekat ranjang, lalu ia langsung menarik istrinya dalam pelukannya
" Maaf, aku tidak bermaksud untuk membuatmu menangis, tapi jujur saja tidak ada pikiran untuk aku berpaling darimu. Sayang, kau adalah satu-satunya wanita yang aku cintai dari saat kau masih kecil, jadi mana mungkin aku menghianati pernikahan kita."
Riana hanya menjawab dengan anggukan kepala, ia pun mulai menghentikan tangisanya. Setelah itu ia melepaskan pelukan dari suaminya, ia menatap mata suaminya, ia bisa melihat kalau suaminya sangat sedih melihat dirinya menangis, ia pun langsung menghapus air matanya sendiri sebelum suaminya menghapus air matanya
" Maaf, aku menuduh hubby berlebihan, tapi apa boleh aku melihat ponsel hubby?"
Hadi mengangguk saat mendengar pertanyaan dari istrinya, ia memberikan ponselnya yang belum ia keluarkan dari Google. Riana langsung mengambil ponsel yang di serahkan suaminya, lalu langsung melihat ke arah layar ponsel suaminya, betapa terkejutnya Riana saat membaca tanda-tanda wanita hamil
" Riana, kenapa kau menuduh suamimu sebarangan sebelum kau melihat langsung kebenaranya." batin Riana
Riana langsung melihat ke arah suaminya yang sedang tersersenyum ke arahnya, lalu ia melihat layar ponselnya lagi sambil terus bertanya-tanya di hatinya
" Jadi hubby tersenyum gara-gara membaca tanda-tanda hamil, aku bisa melihat kalau hubby terlihat bahagia, lalu bagai mana kalau sikapku ini hanyalah perubahan sikap, bukan karena aku hamil, bagai mana kalau aku tidak hamil, pasti hubby sangat kecewa." batin Riana
Riana menghela nafas berat, ia takut kalau ia tidak hamil, ia takut mengecewakan laki-laki yang sedang tersenyum lebar ke arahnya. Riana langsung meletakan ponselnya di atas meja, lalu ia langsung menatap ke mata suaminya
__ADS_1
" Hubby, sekali lagi aku minta maaf, karena menuduh hubby yang tidak-tidak, tapi."
Riana menjeda kalimatnya, ia bingung. Hadi masih tersenyum ke arah istrinya
" Tidak apa-apa sayang, aku mengerti kalau kau cemburu, tapi apa? Kenapa tidak di lanjutkan ucapanmu?"
Riana memejamkan mata sesaat, lalu ia pun melanjutkan kata-kata yang belum ia ucapkan
" Bagai mana kalau aku tidak hamil by? Apa kau akan marah atas sikapku akhir-akhir ini, atau kau akan sangat kecewa?"
Hadi menggelengkan kepalanya pelan sebelum ia menjawab pertanyan dari istrinya
" Aku tidak akan marah padamu sayang, kalau pun kau tidak hamil, kita bisa berusaha lagi, yang penting kita tidak pernah menyerah, aku yakin suatu saat akan mendapatkan momongan."
Riana tersenyum lega saat mendengar jawaban dari suaminya
" Sayang, lebih baik aku panggil dokter iya, untuk memastikan kalau kau hamil atau tidak."
" Hubby, aku mau ke bawah dulu, kalau hubby mau bekerja dari laptop silahkan saja."
Sebelum Hadi menjawab pertanyaan dari istrinya, istrinya sudah lebih dulu melangkahkan kaki, akhirnya ia hanya menjawab dengan anggukan kepala. Riana langsung mengetuk pintu kamar Repan
" Tok-tok."
Repan langsung membuka pintu itu, ia melihat Riana di depan pintu
" Ada apa nona? Apa memerlukan sesuatu?."
" Boleh saya masuk pak?"
Repan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia bingung harus menjawab apa, kalau ia memperbolehkan Riana masuk, ia takut tuan mudanya salah paham, tapi kalau melarangnya masuk, bagai mana pun juga Riana adalah istri dari tuan mudannya, dan pada akhirnya ia pun memperbolehkan untuk masuk
__ADS_1
" Silahkan nona."
Riana langsung masuk mengikuti Repan, lalu mereka langsung duduk di sofa samping ranjang
" Begini pak, boleh saya minta tolong untuk membelikan saya test kehamilan di indomaret depan?"
" Tentu dengan senang hati nona."
" Tapi saya minta bapak membeli test kehamilan jangan ada orang yang tau, termasuk suami saya, saya takut kalau saya tidak hamil."
Wajah Riana yang awalnya biasa saja, ia berubah menjadi gelisa. Repan tau kalau tuan mudanya sangat menginginkan memiliki momongan, untuk itu ia juga tau kalau Riana gelisah karena takut tidak hamil
" Nona, tenang saja, saya akan membelikannya dan tidak akan ada orang yang tau, sekarang lebih baik nona tunggu saya di taman depan rumah, agar tidak ada orang yang melihat, dan saya akan pergi ke indomaret."
" Baik pak, terima kasih."
" Sama-sama nona."
Riana langsung keluar dari kamar Repan dengan cara mengendap-mendap, ia takut kalau ketahuan oleh orang rumah, lalu ia langsung berjalan ke arah taman, ia duduk di bangku taman. Setelah Riana keluar Repan langsung keluar dari kamar. Hadi langsung menuruni tangga, lalu ia melihat Repan, ia langsung bertanya keberadaan istrinya
" Repan, Kristiani kemana?"
" Saya lihat nona muda pergi ke arah taman tuan muda, mungkin nona sekarang sedang duduk di taman."
" Oh, kalau kau mau kemana?"
Repan yang di tanya oleh tuan mudanya, ia menjawab dengan repleks
" Saya mau beli permen ke indomaret tuan muda."
Hadi mengerutkan dahinya, saat mendengar jawaban konyol dari asisten pribadinya
__ADS_1