
Di perjalanan Riana terus saja memikirkan perasaannya, entah kenapa, ia masih memiliki kekecewaan terhadap suaminya, tapi ia lagi-lagi menampik perasaan itu. Walaupun Riana akui, perasaan itu tidak bisa di bohongi
" Tidak, tidak mungkin aku mencintainya." batin Riana
Karena kesal dengan pikirannya, Riana sesekali memukul keningnya memakai tiga jarinya itu, ia sudah benar-benar tidak bisa mengontrol perasaannya, semakin suaminya perhatian, semakin ia tidak bisa mengontrol pikirannya. Walaupun ia sudah berpikir suaminya itu mungkin sudah tidak ingin mengantarnya karena ia hanya istri kontrak, tapi tetap saja pikirannya tidak bisa di rubah. Mila yang sedang menyetir, ia sesekali melihat ke arah nona mudanya dari kaca spion, yang sesekali menepuk keningnya sendiri, lalu ia langsung berpikir
" Apa yang sebenarnya terjadi dengan nona muda, apa nona muda ada masalah." batin Mila
Setelah menempuh perjalanan 30 menit Riana sampai di sekolah, ia langsung meminta turun di luar gerbang sekolah
" Mila, aku turun di sini saja."
" Tapi ini belum sampai nona muda."
Riana yang mendengar jawaban dari asistennya, ia tiba-tiba menjadi dingin
" Kalau kau tidak ingin di pecat oleh om, turuti perintahku!"
" Baik nona muda."
Mila langsung menghentikan mobilnya, ia tidak ingin di pecat, ia memang sangat membutuhkan pekerjaan. Riana langsung turun dari mobil, sebelum asistennya membukakan pintu mobil untuknya, lalu ia langsung mendekati pintu mobil asistennya
" Kau tunggu saja di parkiran."
" Baik nona muda."
Riana langsung masuk ke dalam sekolah itu, masih dengan suasana hati yang tidak enak. Susan yang melihat Riana, ia langsung mendekati Riana
" Pagi Riana."
" Iya pagi."
Riana dan Susan langsung duduk di kelas. Tidak lama bel masuk pun berbunyi
Taring.....
Angga langsung masuk ke dalam kelas, ia langsung menyapa murid-muridnya
" Selamat pagi anak-anak."
__ADS_1
" Pagi pak." jawab murid-murid itu berbarengan
" Baiklah kita mulai pelajarannya."
Angga langsung menjelaskan materi pelajaran, sambil sesekali ia melihat Riana yang wajahnya tidak ceriah, entah kenapa gadis itu muram, membuat ia bertanya-tanya di hatinya
" Apa yang terjadi pada Riana." batin Angga
Setelah1 jam Angga menjelaskan materinya. Tidak lama bel istirahat pun berbunyi
Taring....
" Baiklah anak-anak, materi pelajaran sampai di sini saja."
" Iya pak." jawab murid-murid itu berbarengan
Angga melihat Riana lagi, ia melihat Riana yang mengusap wajahnya dengan kasar, membuat ia menjadi penasaran, setelah membereskan buku materi, ia langsung berjalan mendekati Riana, hingga ia sampai di samping Riana, ia langsung bertanya pada Riana
" Riana, kau kenapa?"
Riana yang mendapat pertanyaan dari gurunya, ia memutuskan untuk berbohong, bahkan materi pelajaran yang di jelaskan oleh gurunya itu, ia tidak masuk ke dalam otak, karena pikirannya tidak karuan, untuk itu, ia memutuskan untuk meminta ijin pulang, lalu ia langsung menjawab pertanyaan dari gurunya
Angga yang mendengar ucapan dari Riana, ia langsung memegang kening Riana, setelah itu langsung menjawab ucapan Riana
" Kau tidak demam?, apa hanya pusing saja?"
" Iya pak."
" Baiklah, kalau begitu biar saya antar kau pulang saja, saya kuatir Jika kau naik taksi."
" Tidak perlu pak, saya membawa supir pribadi hari ini."
" Iya sudah, saya antar kau sampai di mobilmu."
Riana mendengar ucapan dari gurunya, ia tidak bisa menolok, kalau ia menolak, ia takut gurunya curiga, lalu ia langsung menjawab ucapan dari gurunya
" Baik pak."
Riana langsung berdiri, dengan badan yang berpura-pura lemas. Angga langsung merangkul bahu Riana, lalu mereka berjalan ke luar dari kelas itu. Semua murid yang melihat adegan itu sangat kesal, terutama Maya, ia benar-benar sangat emosi
__ADS_1
" Wanita sialan! Lagi-lagi kau membuat pak Angga selalu memperhatikanmu, awas saja, aku akan membuat pelajaran!"
Arumi yang mendengar ucapan dari sahabatnya, ia pun langsung menyetujuinya
" Benar Maya, kita tidak bisa terus biarkan wanita itu, selalu mencari perhatian pak Angga."
Arumi memang tidak menyukai pak Angga, karena hatinya hanya menyukai pemilik sekolah Wijaya, pria yang dingin, dan hanya bisa memandang dari sebuah majalah dan televisi, dulu dia memang pernah menyukai Rendi, tapi cintanya bertepuk sebelah tangan, karena Rendi hanya mencintai Riana, dari situlah Arumi membenci Riana, walaupun Riana menolak Rendi, tapi ia sangat membenci Riana, apa lagi Riana pintar dan cantik, membuat kebencian itu terus ada di dalam hidupnya. Riana sampai di gerbang sekolah, di samping mobilnya. Mila yang melihat nona mudanya ia langsung bertanya dengan perasaan yang kuatir
" Nona muda, kenpa?, apa nona muda baik-baik saja?"
" Aku baik-baik saja, pak, terimakasih sudah mengantar Riana sampai sini."
" Sama-sama Riana."
Riana yang masih di rangkul bahunya oleh gurunya, ia pun langsung berbicara lagi
" Pak, tangannya masih di bahu Riana."
Angga langsung menurunkan tangannya sambil minta maaf. " Oh maaf."
" Tidak apa-apa pak, Riana pulang dulu."
" Iya hati-hati."
" Iya pak."
Mila langsung membuka pintu mobil, untuk nona mudanya, lalu nona mudanya masuk, setelah nona mudanya masuk ia pun langsung masuk, setelah itu langsung melajukukan mobilnya untuk pulang. Angga menatap mobil Riana hingga menghilang dari pandangannya sambil terus bertanya-tanya tentang Riana
" Siapa sebenarnya Riana, dari data yang aku lihat, Riana adalah anak angkat keluarga Renata, bahkan orang tua angkatnya sudah meninggal, karena jatuh miskin, tapi kenapa sekarang Riana menjadi nona muda, lalu ada hubungan apa dengan pemilik sekolah ini, hingga Riana di rekomendasikan langsung oleh pemilik sekolah ini." Batin Angga
Angga langsung berjalan masuk ke sekolah lagi. Mila menyetir sambil sesekali melihat kaca spion, ini adalah pertama kalinya ia bekerja di buat sedikit bingung, bingung dengan nona mudanya yang selalu saja menepuk keningnya sendiri dengan tiga jarinya. Riana meminta asistennya untuk berhenti di Supermarket
" Mila kita berhenti di supermarket depan."
" Baik nona muda."
Setelah sekitar 3 menit mereka sampai di supermarket. Riana langsung turun, seperti tadi, sebelum asistennya membukakan pintu mobil, ia langsung masuk ke dalam supermarket untuk membeli cemilan kesukaannya dan beberapa air mineral, untuk nyemil di perjalanan, karena otaknya yang tidak bisa untuk bekerja. Setelah membeli beberapa cemilan, ia langsung keluar dari supermarket tersebut, tapi setelah di luar, ia tidak sengaja dompetnya jatuh. Namen ia sama sekali tidak menyadari itu, ia langsung berjalan hingga sampai di samping mobil, lalu langsung masuk ke dalam mobil itu. Setelah Riana masuk, asistennya langsung melajukan mobilnya lagi. Riana yang membeli beberapa cemilan, ia tidak jadi memakanya, ia hanya minum air mineral, setelah itu ia langsung memejamkan matanya. Mila semakin bingung dengan nona mudanya, kalau melihat dari raut wajahnya, nona mudanya bukan orang yang cuek, tapi dari tadi, nona mudanya tidak ada pembicaraan, membuat ia takut, ia takut kalau pekerjanya itu tidak cocok dengan nona mudanya
" Apa pekerjaanku tidak cocok, hingga nona muda tidak bertanya apa pun, atau nona muda memiliki masalah lain, bahkan tadi juga ke supermarket, nona muda tidak mengajakku untuk membawa barangnya." batin Mila
__ADS_1