
Riana duduk di atas ranjang dengan menyandarkan kepalanya di kepala ranjang sambil memperhatikan suaminya yang sedang sibuk bekerja. Hadi yang merasa terus di pandang oleh istrinya, ia menatap ke arah istrinya sambil tersenyum.
" Sayang butuh sesuatu?"
Riana hanya menggeleng pelan. Hadi langsung menutup laptopnya, ia langsung mendekati istrinya, ia duduk di samping istrinya, lalu mengelus lembut perut buncit istrinya.
" Apa anak kita tidak nakal hari ini?"
" Tidak Bi, dia hanya nendang-nendang sedikit saja."
Hadi langsung menatap wajah istrinya, ia mengelus lembut kepala istrinya.
" Apa ada sesuatu yang kamu pikirkan?"
" Iya Bi, pak Repan dari kemarin belum pulang, apa pak Repan baik-baik saja? Atau Hubby sedang memberikan tugas pada pak Repan?"
" Repan sedang ada urusan pribadi, tadi pagi aku sudah menelponnya, katanya lupa saking bahagianya."
" Memangnya bahagia kenapa Bi?"
" Repan kemarin baru saja di terima oleh Gadis yang di cintainya, bahkan Gadis itu menyuruh Repan untuk melamar, katanya dia tidak ingin pacaraan."
" Memangnya Gadis mana yang di sukai pak Repan?"
" Yulia, mantan kekasihku."
Riana sangat terkejut saat mendengar jawaban dari suaminya.
" Jadi pak Repan selama ini mencintai Yulia?"
" Iya sayang, perasaan itu bisa kapan saja berubah, seperti Repan yang berubah tidak mencintai Mega lagi."
Riana menganguk pelan, lalu ia sandarkan kepalanya di dada bidang milik suaminya.
" Bi, aku boleh minta sesuatu tidak?"
" Iya sayang, kamu mau minta apa?"
" Aku hanya minta tolong pada pa Repan, suruh mencari tau keberadaan om Rehan, aku ingin tau keadaannya."
" Baiklah sayang nanti suruh Repan untuk mencari tau keberadaan Rehan."
" Terima kasih hubby."
Riana lngsung memeluk suaminya dengan erat.
" Memangnya apa yang ingin kau lakukan sayang?"
__ADS_1
" Aku ingin melihat mereka menderita seperti keluargaku yang saat itu menderita, aku sudah lama ingin membalaskan dendamku padanya, aku benci om Rehan, om Rehan jahat telah membuat papa meninggal karena membawa kabur semua uang perusahaan, bukan hanya itu, om Rehan juga meminjam uang pada bank dan menggadaikan sertipikat rumah."
Riana berbicara dengan nafas yang memburu, ia marah saat mengingat kejadian itu, kejadian yang membuatnya menjadi sengsara dengan keluarganya, ia harus banting tulang demi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hadi yang mendengar suara nafas marah dari istrinya, ia mengelus kepala istrinya dengan lembut.
" Ingat jangan marah sayang, kasihan bayi yang ada di perutmu, ia akan kecewa dan sedih kalau melihat mamanya sedang marah."
" Iya Bu, aku lupa."
Riana langsung melepaskan pelukannya, ia mengelus pelan perut buncit yang sudah memasuki usia 7 bulan itu. Hadi yang melihat itu, ia hanya tersenyum, lalu langsung mencium kening istrinya sekilas.
" Aku pasti akan membuat Rehan membayar semua yang kamu rasakan sayang."
" Iya bi."
" Aku keluar dulu iya sayang, aku mau lihat Repan sudah pulang atau belum."
" Iya hubby."
Hadi langsung keluar dari kamarnya, ia menuruni tangga untuk ke kamar Repan. Hadi langsung mengetuk pintu di depan kamar Repan.
Tok-tok.
Tidak lama Repan membuka pintu kamarnya.
" Sore tuan muda."
" Silahkan tuan muda."
Hadi langsung masuk ke dalam, lalu ia langsung duduk di sofa bersama Repan.
" Bagai mana hasilnya?"
Repan yang di tanya seperti itu, ia tersenyum lebar, ia tau maksud pertanyaan dari tuan mudanya.
" Semuanya lancar tuan muda, tinggal mencari tanggal untuk melamarnya."
" Sebenarnya aku tidak ingin memberikan pekerjaan, tapi istriku yang ingin memintamu untuk mencari sesaorang."
Hadi menghela nafas berat, ia memang tidak ingin memberikan pekerjaan pada Repan, karena Repan harus menyiapkan lamarannya, tapi ini adalah permintaan istrinya.
" Saya di gajih oleh tuan muda untuk bekerja, bukan untuk menganggur, siapa yang tuan muda cari?"
" Iya, tapi bagai mana pun juga kau sudah saya anggap sebagai sodara sendiri. Rehan Renata, adik tiri dari almarhum Rendra Renata."
Repan menggeleng-gelengkan kepalanya, karena di suruh mencari Rehan Renata, bukan'kah Wasington Grup adalah milik Rehan Renata, yang di beli langsung dari pak Irwan, bahkan Wasington Grup di bawah naungan Wijaya Grup.
" Tuan muda tidak salah untuk mencari Rehan Renata?"
__ADS_1
" Memangnya kenapa?"
Hadi bertanya sambil mengerutkan keningnya bingung, melihat ekspresi dari Repan.
" Wasington Grup adalah milik pak Rehan Renata, perusahaan itu di beli dari pak Irwan sebelum keluarga Renata hancur berantakan karena ulahnya."
" Jadi dia?"
Hadi memang tau kalau Wasington Grup masih di bawah naungannya, tapi ia tidak pernah tau pemiliknya, persisnya ia tidak pernah peduli dengan pemiliknya.
" Iya tuan muda, jadi mau bagai mana?"
" Cari tau dulu bukti penggelapan dana perusahaan milik Renata Grup, dan baru kita buat bangkrut Wasington Grup, satu lagi, cari tau pemilik Renata Grup."
Repan mengerutkan keningnya bingung, karena di suruh mencari tau pemilik Renata Grup.
" Memangnya untuk apa tuan muda mau mencari tau pemilik Renata Grup?"
" Saya ingin membelinya untuk kado ulang tahun istriku."
" Baik tuan muda, saya secepatnya akan kerjakan semuanya."
" Baik, dan masalah lamaran saya minta maaf karena kau harus menundanya sementara."
" Tidak apa-apa tuan muda, nanti saya telpon Yulia untuk menyelsaikan pekerjaanku dulu."
" Kalau masalah Gedung dan semua perlengkapannya biar saya yang membereskan Repan, kau tenang saja, kau hanya tau beres setelah tanggal pernikahannya di tentukan."
" Baik tuan muda, terima kasih."
" Sama-sama Repan, aku keluar dulu."
" Iya tuan muda."
Hadi langsung keluar dari kamar Repan sambil menghela nafas berat, karena ia memang tidak enak hati pada Repan, tapi ia juga akan memberikan Repan untuk berlibur 1 bulan setelah menikah, tentu saja ia tidak tau kapan Repan bisa bekerja, jadi lebih baik sekarang ia memberikan pekerjaan untuk Repan. Repan tersenyum, ia tau kalau tuan mudanya tidak enak hati, tapi ia juga tidak keberatan karena memang itu sudah pekerjaannya, di tambah lagi ia juga tidak bisa menolak kalau di suruh tuan mudanya, karena yang membesarkan ia adalah ke dua orang tua tuan mudanya, jadi ia anggap saja sebagai membalas kebaikan mereka yang terus saja bersikap baik padanya, bahkan walau pun seperti itu, bagi ia kebaikan mereka tidak akan sebanding dengan apa pun. Repan langsung mengambil ponselnya, ia langsung menghubungi Yulia, setelah di angkat ia berbicara lebih dulu.
" Yulia, aku minta maaf, aku tidak bisa melamarmu minggu depan, karena aku harus menyelsaikan pekerjaanku, tapi masalah lamaran, tuan muda sudah tau."
" Kenapa Hadi itu pengen menang sendiri saja? Bukan'kah harusnya memberi kau cuti?"
Repan bisa mendengar helangan nafas kecewa dari balik telponnya.
" Sebenarnya tuan muda juga tidak enak hati Yulia, tapi bagai mana pun juga kau tau sendiri kalau aku di besarkan oleh ke dua orang tua tuan muda, mereka itu sangat baik padaku, kau tidak apa-apa kan?"
" Baiklah, aku tidak apa-apa, aku juga harus pergi ke Jerman besok, untuk menanda tangani kontrak, mungkin 4 hari aku baru kembali ke Indonesia."
" Baiklah, kau harus hati-hati, aku cinta kau."
__ADS_1
" Iya aku juga."