
Setelah beberapa menit Hadi diam, ia langsung mengangkat tubuh istrinya, lalu langsung berjalan keluar dari kamar mandi, hingga ia sampai di ruang ganti. Hadi langsung mendudukkan istrinya di atas meja laci, lalu ia langsung menghapus air mata istrinya sambil bertanya
" Sayang, kenapa pagi-pagi sudah melakukan hal gila?"
Menurut Hadi yang istrinya lakukan adalah hal yang paling gila, apa lagi istrinya duduk di bawah guyuran air shower sambil menangis. Riana yang mendengar pertanyaan dari suaminya, ia masih tidak ingin jujur, ia hanya menjawab dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Hadi yang melihat istrinya hanya menjawab dengan menggeleng-gelengkan kepala, ia langsung berpikir, kalau istrinya mungkin telah menyesalinya, apa lagi ia telah mencium istrinya berlebihan, lalu ia langsung minta maaf pada istrinya sambil memegang kedua tangan istrinya, ia tidak tega melihat istrinya terus menangis
" Sayang, aku minta maaf, aku tidak akan melakukan hal yang lebih, aku tidak akan pernah mencium lehermu lagi, jadi tolong jangan menangis lagi, aku tau kau belum siap untuk melakukan hubungan layaknya sepasang suami istri, itu kenapa aku juga menghentikan permainanku. Sayang, kau boleh marah, atau pun memukulku, tapi jangan pernah menangis lagi."
Riana yang mendengar permintaan maaf dari suaminya, ia pun langsung menghapus air matanya, karena ia sekarang sudah menemukan jawaban, kalau suaminya tidak melakukan hubungan layaknya suami istri, karena suaminya pikir ia belum siap untuk melakukan hal itu, bukan karena suaminya mencintai tunangan dari suaminya, tapi tetap saja, pikirannya masih belum sepenuhnya tenang, karena ia tau, suaminya memiliki hubungan dengan Yulia sudah bertahun-tahun lamanya, ia takut hati suaminya terbagi dengan Yulia. Setelah itu Riana hanya menjawab dengan anggukan kepala, ia masih tidak ingin bertanya tentang tunangan dari suaminya. Setelah melihat jawaban dari istrinya, Hadi langsung memeluk istrinya dengan erat, sambil merutuki kebodohannya sendiri di dalam hatinya
" Hadi, kau benar-benar bodoh, kenapa kau sampai melakukan hal itu, tapi kenapa Kristiani tidak ada penolakan, seharusnya kristiani menolaknya kalau belum siap, kenapa kristiani memejamkan mata, dan seolah-olah menikmatinya." batin Hadi
Riana juga membalas pelukan dari suaminya dengan erat. Setelah lama saling berpelukan mereka langsung melepaskan pelukannya. Hadi langsung menyuruh istrinya untuk mengganti pakaian
" Sayang, gantilah pakaianmu dulu, dan sekarang aku akan mandi, setelah itu kita sarapan, lalu aku akan mengantarmu ke sekolah."
" Iya hubby."
__ADS_1
Hadi langsung mencium kening istrinya sekilas, lalu ia langsung berjalan ke kamar mandi. Riana hanya menatap suaminya hingga suaminya menghilang di balik pintu. Setelah itu Riana langsung turun dari meja, ia langsung mengganti bajunya, setelah mengganti baju, Riana langsung menata rambutnya, tidak lupa menggunakan mekup tipis, dan mulai dari sekarang, ia akan selalu mencoba berpenampilan layaknya wanita dewasa, agar suaminya itu selalu di sininya, apa lagi tuangan dari suaminya sebentar lagi akan kembali, membuat ia harus bisa mengurus seluruh tubuhnya, agar tetap terlihat cantik di depan suaminya, setelah selesai ia langsung duduk di sofa, menunggu suaminya. Hadi yang sudah rapih dengan setelah jas nya, ia langsung berjalan mendekati istrinya hingga ia sampai di depan istrinya, lalu ia langsung bertanya pada istrinya sambil tersenyum
" Sudah selsai?"
" Sudah hubby."
Riana langsung berdiri, lalu langsung memegang tangan kiri suaminya, setelah itu mereka langsung berjalan keluar dari kamarnya, hingga ia sampai di depan meja makan, di meja makan sudah sepi, mungkin ibunya sudah pergi ke butik yang di belikan Kristian, sedangkan kakaknya, sudah pergi kuliah. Riana dan Hadi langsung duduk, mereka berdua langsung memulai sarapan. Tiba-tiba ponsel Hadi berdering, itu menandakan ada yang menelponnya
Ting....Ting...
" Hubby, angkat saja telponnya, kenapa hubby menatapku?"
Hadi yang mendengar ucapan dari istrinya, ia langsung menganggukkan kepalanya, lalu langsung sedikit menjauh dari istrinya. Entah apa yang di bicarakan oleh suaminya dengan tunangan dari suaminya, hingga suaminya bahkan mengangkat telpon menjauh dari Riana, hingga membuat nafsu sarapan Riana hilang, ia pun menghentikan sarapan, ia ingin sekali mendengar pembicaraan suaminya dan tunangan dari suaminya, tapi ia tidak bisa apa-apa, terutama suaminya yang berbicara di telepon dengan sesekali melihat ke arah ia, itu artinya suaminya berbicara dengan tunangannya tidak ingin di dengar oleh ia, ia langsung berbikir di dalam hatinya
" Bagaimana ini, Gadis itu akan kembali, dan kenapa hubby mengangkat telpon dari tunangannya langsung menjauh dariku, apa yang mereka bicarakan." batin Riana
Tidak bisa di bohongi, wajah Riana sekarang menjadi pucat, perasaan takut kehilangan suaminya sudah benar-benar datang lagi, tapi ia mencoba bersikap biasa-biasa saja. Setelah berbicara di telepon dengan Yulia, Hadi langsung mendekati meja makan lagi, ia melihat wajah istrinya yang sedikit pucat, lalu ia langsung berdiri di samping istrinya, ia langsung bertanya pada istrinya
__ADS_1
" Sayang, kenapa wajahmu sedikit pucat?, apa kau sakit?"
Riana hanya menjawab dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, ia berharap suaminya akan menjelaskan apa yang di bicarakan suaminya dengan tunangan dari suaminya. Hadi langsung bertanya lagi pada istrinya
" Sayang, apa kau yakin akan sekolah?, atau istirahat saja di rumah, dan ingat, jangan lakukan hal konyol seperti tadi, aku tidak suka sayang melakukan hal itu, lebih baik apapun yang sayang tidak suka, harus jujur, karena kejujuran adalah kunci rumah tangga agar tetap utuh."
Setelah mendengar ucapan dari suaminya, Riana tidak menjawab ucapan dari suaminya, melainkan ia langsung berdecik kesal di dalam hatinya
" Kau bilang kejujuran adalah kunci rumah tangga, lalu kenapa kau berbicara dengan tunanganmu menjauh dariku, dan kau juga tidak menceritakan habis berbicara apa dengan tunanganmu, apa itu sebuah kejujuran, andaikan saja aku tidak mencintaimu, rasanya aku ingin marah padamu, tapi kemarahan itu hanya bisa aku pendam, aku takut kehilanganmu, tapi kau masih mengatakan itu padaku, dasar pria aneh." batin Riana
Sekarang Riana merasakan kecewa, sedih, dan kesal menjadi satu, tapi rasa itu hanya bisa ia pendam di dalam hatinya, ia tidak ingin menjadi masalah atas perasanya, terlebih lagi ia sudah sangat mencintai suaminya. Hadi yang tidak mendengar jawaban dari istrinya, ia langsung bertanya pada istrinya
" Yakin sayang baik-baik saja?, aku sangat kuatir, apa sayang perlu aku panggilkan dokter?"
Setelah mendengar pertanyaan dari suaminya, Riana semakin kesal, tapi ia hanya bisa berbicara di dalam hatinya
" Aku tidak butuh dokter, aku hanya butuh kejujuranmu, kau tadi berbicara apa pada tunanganmu, hingga kau harus mengangkat telpon menjauh dariku, terlebih lagi, kau tidak menjelaskan apa-apa padaku, tentu saja aku sebagai istrimu tidak merasakan baik-baik saja, aku takut kau kembali lagi dengan tunanganmu." batin Riana
__ADS_1