
Yulia hanya mengangguk saja saat Repan ingin di luar, tapi setelah ia tiduran, dan hari semakin larut, ia tidak mungkin membiarkan Repan di luar terus. Yulia membuka tendanya, ia melihat Repan yang melihat ke arah pantai. Yulia langsung keluar, ia duduk di samping Repan.
" Kenapa kau tidak tidur?"
Walau pun Repan tidak menatap ke arah Yulia, tapi ia menyadari ke beradaan Yulia.
" Repan, ayo kita tidur bersama?"
" Hah?!"
Repan menatap ke arah wajah Yulia dengan perasaan terkejut.
" Kita cuma tidur, tidak melakukan apa pun, hari semakin gelap dan semakin dingin, aku tidak bisa melihat orang yang aku cintai sakit, kalau kau sakit, lalu kapan melamar aku?"
Repan hanya menganggukan kepalanya, lalu langsung berdiri di ikuti dengan Yulia. Repan dan Yulia membaringkan tubuhnya di dalam tenda, ke duanya saling menatap mata sambil memegang tangan.
" Rep, jujur aku tidak pernah menyangka kalau aku akan mencintai kau. Aku tau mungkin ini adalah takdir kita, terima kasih sudah menjadi teman curhatku saat aku mengeluh karena sikap Hadi, terima kasih sekarang kau mau menikahiku. Aku juga tidak tau kapan mulai mencintaimu, yang jelas aku sekarang memang sangat mencintaimu."
" Yulia, seharunya aku yang berterima kasih, karena kau mau menerimaku, menerima keadaanku, menerima kekuaranganku, aku juga tidak tau kapan mulai mencintaimu, yang jelas saat tidak lagi bertemu denganmu, rasa rinduku semakin menggebu, akhirnya aku sadar kalau aku mencintaimu."
" Lalu bagai mana perasanmu dengan Mega? Aku tau kalau Mega sudah meninggal, tapi jujur aku tidak ingin membagi perasaanmu pada orang lain, aku hanya ingin perasaan kau seutuhnya milikku."
" Aku sudah melupakannya dan mengikhlaskannya Yulia. Kau adalah Gadis satu-satunya yang aku cintai."
Yulia tersenyum saat mendengar jawaban dari Repan, ia berpikir, andaikan ia memiliki perasaan pada Repan dari dulu, mungkin waktunya tidak akan terbuang sia-sia untuk mendapatkan cinta dari Hadi yang tidak pernah terbalaskan. Bahkan Yulia juga tau saat Hadi melamarnya, Hadi tidak memiliki perasaan cinta, melainkan rasa kasihan padanya. Repan langsung memeluk Yulia dengan posisi tiduran, ia menyalurkan rasa bahagianya di sana.
" Repan, kenapa kau memeluku seperti ini?"
" Kenapa memangnya tidak boleh?"
" Kalau milikmu ada yang berdiri, aku tidak akan bertanggung jawab."
Setelah mengatakan itu Yulia tertawa terbahak-bahak, sedangkan Repan hanya tersenyum malu-mulu, tapi memang miliknya itu tidak berdiri, karena ia hanya menyalurkan rasa bahagianya, bukan rasa nafsu yang di awali dengan merayu Yulia.
" Kau tentu harus bertanggung jawab, tapi setelah aku melamar kau dan mejadi istriku."
" Kalau itu tentu saja Rep, oh iya gima kabarnya Hadi dan istrinya?"
" Alhamdulilah, mereka baik-baik saja, sebentar lagi aku akan mejadi om."
" Maksudnya?"
Yulia tidak mengerti apa maksud ucapan dari Repan.
" Nona Riana, Eh nona Kristiani sudah hamil."
__ADS_1
" Hahaha, susah iya untuk biasain diri, sudah terbiasa memanggil nona Riana."
" Iya begitulah."
" Jadi sekarang Kristiani sedang mengandung?"
" Iya Yul."
" Hebat juga tuh Hadi, bisa memiliki bibit unggul, jadi langsung cepat jadi."
" Kau itu mesum sekali Yul, pakai ngomong bibit unggul segala."
" Hahaha... Aku bukannya mesum, lagian usiaku ini sudah dewasa, jadi tau dikit-dikit tentang seperti itu."
Sedangkan Repan hanya tersenyum menatap wajah Yulia yang mengatakannya tanpa rasa malu
" Ayo kita tidur, aku mau melihat mata hari yang akan muncul besok."
" Baiklah."
Repan mengecup kening Yulia sekilas, lalu mengecup bibir Yulia sekilas. Setelah itu mereka memejamkan mata dengan hati yang berbunga-bunga. Setelah jam menujukan pukul 05.00WIB, mereka sudah bangun. Yulia dan Repan langsung keluar dari tenda. Repan langsung melipat kembali tenda itu untuk di kembalikan pada pemiliknya. Setelah selsai Repan duduk di samping Yulia, dengan tangan yang melingkar di pinggang Yulia. Yulia menyadarkan kepalanya di dada bidang milik Repan.
"Repan, seandainya dulu aku cintamu lebih dulu, mungkin perjuanganku tidak akan sia-sia, kau pasti akan membuka hatimu untukku, tapi aku juga sangat senang, karena kita saling mencintai sekarang, setidaknya aku tidak seperti dulu yang hanya berjuang seorang diri untuk mendapatkan cintanya."
Mereka berdua jadi berandai-andai sambil menatap ke arah mata hari yang akan segera muncul.
" Wah, liat Rep, itu mata harinya akan muncul, benar-benar indah kan?"
" Iya, memang mata hari itu sangat indah, tapi kau lebih indah dari mata hari itu."
Yulia menatap ke arah Repan yang sedang menatapnya sambil tersenyum.
" Sejak kapan kau bisa gombal Rep?"
" Sejak mejadi kekasih Yulia."
" Kau itu ada-ada saja."
" Serius sayang."
" Hah?!"
" Iya sayang."
" Geli tau Repan, kita itu sudah dewasa, mana ada sayang-sayang."
__ADS_1
" Iya biarkan saja walau pun dewasa, aku memang sayang dan cinta Yulia."
Kini Yulia kembali fokus menatap ke arah mata hari yang sudah mulai keluar dengan sedikit demi sedikit. Jam sudah menujukan pukul 07.00WIB, Repan memutuskan untuk membalikan tenda.
" Yulia, aku mau membalikan tenda dulu."
" Iya Rep."
Repan langsung berdiri, ia langsung membawa tenda itu. Lalu Repan langsung pergi menuju orang yang ia pinjam tendanya. Setelah sampai Repan langsung memberikan tenda itu.
" Ini tendanya, saya ucapkan terima kasih karena sudah di bolehin untuk memijam tenda kalian."
" Sama-sama kak."
" Iya sudah aku mau pamit dulu."
"Iya kak."
Repan langsung pergi lagi, ia berjalan ke arah Yulia yang masih fokus menatap mata hari. Repan yang menatap Yulia, ia tersenyum lebar, ke inginan Yulia tidak begitu aneh menurutnya, Yulia seperti Gadis pada umumnya yang menyukai ke indahan alam.
" Nona Kristiani, terima kasih sudah memberikan aku semangat untuk memperjuangkan Yulia, akhirnya aku mendapatkan Yulia. Kalau saja aku tidak menurut karena di nasehati nona Kristiani, mungkin cepat atau lambat, hanya akan mendapatka penyesalan, bukan mendapatkan kebahagiaan seperti sekarang." batin Repan
Repan duduk lagi di samping Yulia
" Mau pulang apa mau sarapan dulu?"
Yulia melihat jam tangannya, ia tidak ke buru untuk pulang.
" Tidak Repan, aku harus langsung ke tempat kerja saja, tapi aku belum mandi juga, haduh mana sudah telat lagi."
Repan hanya tersenyum melihat kepanikan Yulia yang baru menyadari kalau Yulia memang sudah telat, karena hari ini akan ada kedatangan orang jepang yang akan membeli lukisannya.
" Iya sudah ayo aku antar kau ke kantor, tidak mandi juga kau tetap cantik."
" Mulai deh gombalnya."
Yulia mengambil air mineral di tasnya, langsung cuci muka. Setelah itu langsung mengajak Repan.
"Ayo."
Mereka langsung berjalan ke arah mobil, lalu langsung masuk ke dalam mobil. Setelah mobilnya melaju, Yulia mulai memakai make up. Sementara Repan menyetir sambil tersenyum, saat melihat Yulia yang sibuk memakai make up.
" Yul, jangan terlalu cantik dong dandannya, nanti kalau ada brondong yang suka sama kau aku jadi terasingkan."
" Kau jauh lebih tampan dari siapa pun Repan, ketampananmu adalah ciptaan yang paling sempurna."
__ADS_1