
Riana masih tertidur pulas, karena semalam ia bahkan tidak bisa tidur, ia terus mengingat di dalam kamarnya ada seorang pria. Walaupun ia tau di perjanjian kontrak itu tidak ada kontak pisik, tapi tetap saja ia masih belum bisa percaya dengan pria yang sombong itu. Hadi bangun lebih dulu, ia bahkan sudah mandi karena lehernya merasakan sakit, lalu ia melihat istrinya yang masih tertidur pulas, setelah itu langsung berjalan mendekati istrinya hingga sampai di samping istrinya
"gadis kecil, bukan'kah aku sudah bilang, kita harus pulang pagi-pagi!"
Riana yang mendengar suara seseorang yang membangunkannya dengan nada setengah berteriak ia langsung terbangun, lalu langsung duduk. Riana melihat suaminya yang sudah berdiri tegak dan sudah rapi, lalu ia langsung minta maaf pada suaminya
"aku minta maaf Om, semalam aku tidak bisa tidur."
Hadi langsung tersenyum sinis saat mendengar jawaban istrinya yang bilang tidak bisa tidur, bahkan semalam jelas-jelas ia melihat istrinya tertidur pulas, tapi senyuman itu seketika hilang saat ia memandangi wajah istrinya yang memang sepertinya tidak bisa tidur, lalu ia memutuskan untuk bertanya
"kenapa semalam tidak bisa tidur, apa kau semalam juga mengikuti aku keluar dari kamar ini?"
Setelah mendengar pertanyaan suaminya, Riana sedikit takut, lalu ia langsung menjawab pertanyaan suaminya sambil menundukkan kepalanya
"tidak om, aku tidak kemana-mana om, om bisa cek cctv di luar kamar ini, aku tidak kemana-mana."
"baiklah, kau lebih baik mandi sekarang, aku tunggu di meja makan."
"apa aku tidak ganti baju om?"
"baju gantimu dan sepatumu sudah ada di kamar mandi, jangan lama-lama aku akan ada miteeng."
"baik om."
Riana langsung berdiri, lalu ia langsung berjalan ke kamar mandi. Hadi hanya melihat istrinya masuk ke dalam kamar mandi
"gadis aneh, kenapa dia selalu saja bilang baik om, apa pun yang aku katakan hanya menjawab dengan baik om."
Setelah berbicara sendiri, Hadi langsung berjalan ke meja makan, hingga ia sampai di meja makan, di samping meja makan sudah ada asistennya yang berdiri. Repan yang melihat tuan mudanya langsung menyapanya
"selamat pagi tuan muda."
"iya, pagi."
__ADS_1
Repan langsung menggeser kursi untuk tuan mudanya. Hadi langsung duduk, setelah duduk ia langsung menanyakan dokumen untuk miteeng
"Repan, dokumen untuk miteeng mana?"
Repan langsung mengambil dokumen yang ada di tasnya, lalu langsung memberikannya pada tuan mudanya
"ini tuan muda."
Hadi langsung mengambil dokumen yang di serahkan asistennya, lalu ia langsung sarapan sambil memeriksa dokumen. Tidak lama Riana datang dengan seorang pelayan yang mengantarnya, ia masih berdiri di pintu masuk ruang makan. Hadi yang sedang memeriksa dokumen ia tau ada istrinya di depan pintu, lalu langsung menyuruhnya makan, tanpa menengok sama sekali
"gadis kecil, cepat sarapan, kenapa kau masih saja berdiri di situ."
"baik om."
Riana langsung berjalan mendekati meja makan hingga ia sampai di meja makan. Repan langsung menggeser kursi untuk nona Riana. Riana langsung duduk lalu langsung mengambil makanan, tapi di sini makanan has Jepang membuat ia hanya makan dengan telur goreng. Hadi, lalu melirik ke arah istrinya, ia melihat istrinya hanya makan telur lalu langsung bertanya
"kenapa tidak makan yang lain?"
"aku tidak suka om."
"tidak perlu om."
"baiklah, lanjutkan sarapan."
"baik om."
Riana melanjutkan makan sambil sesekali melihat suaminya yang sarapan sambil memeriksa dokumen, entah kenapa yang awalnya tadi merasa takut saat bangun tidur, tapi kini bahkan ia merasakan sangat kasihan
"kasihan, bahkan untuk makan saja sambil memeriksa dokumen."
Repan masih setia berdiri, ia dari tadi ingin tertawa saat tuan mudanya di panggil om, tapi ia hanya bisa menahan tawanya, bahkan ini adalah pertama kalinya tuan mudanya tidak marah saat di panggil om, karena sebutan itu hanya kristiani yang boleh memanggilnya. Riana selesai sarapan, ia masih duduk diam di situ. Hadi yang melihat istrinya sudah selesai, lalu ia memutuskan untuk pulang
"gadis kecil, ayo kita pulang."
__ADS_1
"baik om."
Hadi dan Riana langsung berdiri, lalu berjalan keluar di ikuti oleh Repan. Hadi sangat kesal karena istrinya berjalan dengan langkah kaki yang lambat, lalu ia langsung menghentikan langkah kakinya, setelah itu langsung berbalik menunggu istrinya. Riana yang jalan sambil menunduk, kepalanya menabrak dada suaminya
"ah, sakit."
"kau bisa tidak jalanmu lebih cepat?"
"maaf om, sepatu yang om sediakan di kamar mandi kebesaran membuat aku susah untuk berjalan."
Setelah mendengar jawaban istrinya, Hadi langsung mengangkat tubuh istrinya, lalu langsung berjalan keluar dari hotel itu. Riana sangat malu apa yang suaminya lakukan, apa lagi suaminya juga mengatakan tidak akan ada kontak pisik, lalu ia langsung meminta suaminya untuk menurunkannya
"om, tolong turunkan aku, aku tidak enak di lihat orang."
"di hotel ini semuanya juga sudah tau kalau kita suami istri."
"tapi om."
"diam, atau aku akan menciummu."
Setelah mendengar jawaban suaminya, Riana langsung menutup mulutnya memakai tangan kanannya, Hadi hanya tersenyum melihat reaksi istrinya. Repan hanya tersenyum saat mendengar ucapan tuan mudanya, apa lagi saat melihat reaksi nona Riana, entah kenapa yang awalnya Repan takut kalau nona Riana adalah nona kristiani, takut tuan mudanya menjadi dilema dengan perasaannya, tapi kini ia menjadi biasa saja. Mereka sampai di parkiran. Hadi langsung menurunkan tubuh istrinya lalu langsung membuka pintu mobil untuk istrinya
"masuklah."
"terimakasih om."
Riana langsung masuk ke dalam mobil. Hadi yang melihat istrinya duduk di kursi samping, lalu ia langsung menyuruh istrinya untuk bergeser
"kau geser kesana."
"baik om."
Riana langsung menggeser posisi duduknya. Setelah istrinya bergeser Hadi langsung masuk ke dalam mobil dari pintu yang sama. Repan masih tersenyum, lalu langsung masuk ke dalam mobil, setelah itu langsung melajukukan mobilnya. Setelah menumpuh perjalanan 30 menit belum juga sampai, membuat Riana mengantuk, apa lagi aroma parfum suaminya, membuat ia sangat nyaman di sampingnya hingga tidak terasa Riana tertidur, lalu kepalanya akan mengenai pintu mobil. Hadi yang mengetahui istrinya tidur dan kepalanya akan mengenai pintu mobil, ia dengan sigap menahan kepala istrinya, lalu langsung menyadarkan kepala istrinya pada dada bidang miliknya sambil memeluk pinggang istrinya. Walaupun ia selalu bersikap dingin, tapi entah kenapa ia selalu saja merasakan nyaman dengan gadis kecil yang sekarang menjadi istrinya. Tidak lama Riana terbangun, saat membuka mata ia menyadari di dada bidang milik suaminya, ia langsung tersenyum masih sambil menyadarkan kepalanya di dada bidang milik suaminya
__ADS_1
"sangat nyaman, Riana kau tidak boleh menyukai pria yang sudah memiliki tunangan, apa lagi pria ini juga sangat sombong, tapi juga sangat perhatian, dasar pria dingin."
Riana memutuskan untuk tidur lagi, karena ia sangat nyaman dengan suaminya hingga ia terlelap lagi, tapi tiba-tiba ia mimpi, mimpi itu adalah saat ia mengutarakan isi hatinya pada seorang pria kecil, tapi pria kecil itu menolaknya, lalu ia langsung memutuskan untuk bunuh diri karena di tolak oleh pria kecilnya