Istriku Ternyata Cinta Pertamaku

Istriku Ternyata Cinta Pertamaku
BAB 39. Perhatian


__ADS_3

Riana masih diam di bawah shower, tapi matanya mulai ngantuk, hingga ia tertidur di bawah shower, ia hampir saja terjatuh, tapi dengan sigap suaminya menahan tubuhnya, lalu ia pun terbangun dengan mata yang sayu, ia melihat wajah suaminya, lalu langsung berbicara pada suaminya


"om, aku ngantuk."


"iya, aku minta maaf, tidurlah."


Setelah mendengar jawaban dari suaminya, Riana mulai terlelap. Hadi langsung mengangkat tubuh istrinya, lalu langsung berjalan ke arah sofa, ia langsung meletakkan tubuh istrinya di sofa, lalu langsung menghubungi pelayan kepercayaannya, yaitu BI Ida. Setelah BI Ida mengangkat telpon, Hadi langsung berbicara lebih dulu


"BI Ida, kau sekarang juga ke kamar saya."


Setelah mengatakan itu, Hadi langsung menutup telponnya, sebelum mendengar jawaban BI Ida. Hadi menatap istrinya yang tertidur dengan baju basah kuyup, lalu ia langsung berjongkok, ia membelai wajah istrinya dengan lembut, sambil minta maaf pada istrinya


"aku minta maaf gadis kecil, aku hampir saja melukai hatimu lagi, tapi aku bersyukur karena aku tidak meminum wine itu, seandainya aku meminumnya, aku tidak tau apa yang akan terjadi."


Tidak lama BI Ida sampai di luar pintu kamar tuan mudanya, lalu ia langsung mengetuk pintu kamar tuan mudanya


Tok-tok


Hadi yang mendengar suara ketukan pintu, ia langsung menyuruhnya untuk masuk


"masuk."


BI Ida langsung membuka pintu dengan perlahan, lalu langsung masuk ke dalam hingga ia sampai di depan tuan mudanya, ia melihat nona mudanya yang tertidur dengan baju basah kuyup, entah apa yang terjadi, yang jelas bi Ida sangat kasihan melihatnya, lalu bi Ida langsung menyapa tuan mudanya


"malam tuan muda."


"iya bi malam."


Hadi langsung berdiri, lalu langsung berjalan ke arah lemari istrinya, ia mengambil baju ganti istrinya, lalu langsung berjalan lagi ke arah sofa, hingga ia sampai di samping sofa, Setelah itu ia langsung menyuruh BI Ida untuk mengganti pakaian istrinya


"BI, tolong gantikan pakaian nona muda."


BI Ida yang di suruh, ia diam seketika sambil berpikir


"apa yang ada di dalam pikiran tuan muda, bagaimana mungkin, dia menyuruh pelayan untuk mengganti baju istrinya, bukan'kah harusnya dia, apa jangan-jangan nona muda habis di siksa oleh tuan muda, lihat saja wajahnya sangat merah, dan baju yang basah kuyup."


Setelah berpikir, BI Ida memberanikan diri untuk bertanya pada tuan mudanya


"tuan muda, apa tidak apa-apa saya yang menggantikan baju nona muda?, bukan'kah sangat tidak sopan?"


Hadi yang mendengar pertanyaan dari pelayannya, ia paham maksud pelayannya, lalu ia langsung menjawab pertanyaannya


"tidak bi, kasihan nona muda kalau tertidur dengan baju yang basah, setelah ganti baju nona muda, tolong bersihkan pecahan gelas yang ada di balkon."


"baik tuan muda."


"satu lagi, kejadian ini jangan sampai ada yang tau, termasuk nyonya dan nona muda sendiri."


"baik tuan muda."


BI Ida langsung mengambil baju yang di serahkan oleh tuan mudanya, lalu ia mulai melepaskan baju nona mudanya. Hadi langsung masuk ke dalam ruangan kerja, hingga ia sampai di ruang kerja, ia langsung merebahkan tubuhnya di sofa, ia memang sangat lelah hari ini, dari istrinya masuk ke dalam kolom renang, hingga istrinya terpengaruh obat perangsang membuat ia benar-benar lelah, ia juga tidak mengerti, kenapa ibunya hampir saja membuat ia hilang kesadaran, walaupun tidak meminum wine, ia memang terangsang dengan permainan istrinya, tapi ia terus mencoba untuk tidak melakukan hal itu pada istrinya


"apa maksud mamah, apa jangan-jangan mamah menjodohkan aku, bukan karena orang tua gadis itu banyak hutang, tapi karena memang ingin aku melupakan Kristiani dan Yulia, mungkin saja karena kebetulan ibu gadis itu memang memiliki hutang, untuk itu mamah bersandiwara agar aku menerima pernikahan, Hadi, kau memang sangat bodoh, bagaimana mungkin kau dengan mudah menerima permainan mamah, tapi sekarang aku juga seperti mulai memiliki perasaan pada gadis itu, dan aku juga tidak bisa melepaskan gadis itu, apa lagi sepertinya Kristian juga mencintainya, melihat dari Kristian tidak ada jarak saja, sudah terlihat jelas kalau Kristian mencintainya."


Hadi terus saja berpikir, ia sangat bingung karena tidak bisa untuk melepaskan istri kontraknya, hingga ia terlelap. BI Ida selsai menggantikan baju nona mudanya dan ia juga sudah memungut pecahan gelas yang di balkon, ia bingung dengan tuan mudanya, yang seperti menghindari istrinya, bahkan mengganti baju saja hingga menyuruh pelayan, tapi kalau di lihat di luar, tuan muda dan nona mudanya, terlihat seperti pasangan suami istri, tidak ada jarak di antara mereka. BI Ida keluar dari kamar tuan mudanya. Jam sudah menunjukkan pukul 01.22 WIB, Hadi terbangun dari tidurnya, ia lupa kalau belum memindahkan istrinya ke ranjang, dengan kepala sedikit pusing, ia langsung berjalan mendekati sofa yang ada istrinya, lalu langsung mengangkat tubuh istrinya, setelah itu langsung menyelimuti tubuh istrinya, setelah selesai ia langsung duduk di atas ranjang istrinya, sambil menatap wajah istrinya yang tertidur pulas, setelah lama ia memandangi wajah istrinya, ia mulai ngantuk lagi, lalu langsung tertidur dengan posisi duduk sambil menyadarkan kepalanya di kepala ranjang milik istrinya. Jam sudah menunjukkan pukul 06.00 WIB, Riana bangun lebih dulu, ia membuka mata masih dengan kepala sedikit pusing, lalu ia langsung melihat ke arah ranjang suaminya, ternyata ranjang suaminya kosong, ia langsung melirik ke arah jam dinding, tapi masih pagi


"kemana om, bukan'kah sekarang masih pagi."


Setelah mengatakan itu Riana langsung duduk, lalu langsung melirik ke arah kanan, ternyata ia melihat suaminya yang tertidur pulas di atas ranjangnya, dengan posisi duduk

__ADS_1


"apa yang terjadi, kenapa om tidur dengan posisi duduk, apa aku semalam demam."


Setelah berbicara sendiri, Riana langsung memegang keningnya, ia memang tidak kenapa-kenapa, hanya saja kepalanya masih pusing, lalu ia langsung melihat ke arah bajunya, ternyata bajunya di ganti, seketika ia langsung berteriak sambil menutupi dadanya


"tidak!"


Hadi yang mendengar teriakkan istrinya, ia pun langsung terbangun, lalu langsung menatap istrinya yang menutupi dadanya, ia langsung bertanya pada istrinya


"gadis kecil, kenapa pagi-pagi kau berteriak?"


"apa om melakukan sesuatu padaku?, kenapa bajuku berbeda, ini bukan baju yang aku pakai, apa om melakukan sesuatu pada tubuhku?"


Hadi yang mendengar pertanyaan istrinya, ia hanya menghela nafas panjang, sambil berpikir


"kalau aku menginginkan tubuhmu, mungkin aku semalam sudah melakukannya, bukan'kah semalam itu adalah kesempatan berharga, tapi sayang, aku tidak akan pernah melakukan hal itu." batin Hadi


Setelah berpikir Hadi langsung menjawab pertanyaan istrinya dengan berbohong


"semalam kau demam, lalu aku memberimu obat, tapi kau menjatuhkan gelasnya, hingga air minum itu tumpah pada baju dan celanamu, jadi aku suruh BI Ida untuk menggantikan bajumu, jika kau tidak percaya, tanya saja sama BI Ida, dia yang menggantikan bajumu."


Walaupun alasan suaminya tidak masuk akal menurut Riana, tapi ia tetap percaya pada suaminya, apa lagi ia juga tidak merasakan apa-apa dalam tubuhnya, hanya merasakan kepala pusing, lalu soal baju, ia juga percaya kalau suaminya tidak menggantikan bajunya, karena Kalau suaminya ingin melihat tubuhnya juga, ia tidak bisa apa-apa, tapi melihat suaminya beberapa hari bersikap biasa-biasa saja, jadi tidak mungkin kalau suaminya menggantikan bajunya, lalu ia memutuskan untuk minta maaf pada suaminya sambil menundukkan kepalanya


"tidak perlu om, aku minta maaf, semalam merepotkanmu."


Hadi yang mendengar permintaan maaf dari istrinya, ia hanya tersenyum tipis di bibirnya, ia tau kalau istrinya itu percaya padanya, lalu ia langsung menjawab permintaan maaf istrinya


"tidak apa-apa, tapi lain kali kau harus menurut, kau harus makan, dan jangan melamun lagi di samping kolam renang, aku tidak ingin kau mengulangi kesalahan yang sama."


"baik om."


Riana melihat wajah suaminya sekilas, lalu langsung menundukkan kepalanya lagi, ia melihat senyuman tipis di bibir suaminya, entahlah senyuman apa itu, ia juga tidak tau, tapi yang jelas perhatian suaminya itu seperti sangat nyata, walaupun mungkin suaminya perhatian karena ia adalah istri kontraknya, tentu suaminya masih memiliki tanggung jawab. Hadi langsung bertanya pada istrinya, ia takut kalau istrinya masih pusing


Riana hanya menjawab dengan anggukan kepala masih sambil menunduk. Hadi hanya menghela nafas berat, ia sangat kesal dengan kelakuan ibunya, lalu ia langsung bertanya lagi pada istrinya


"apa kau lapar?"


"iya om."


"kau lebih baik cuci muka, nanti aku ambilkan sarapan untukmu."


"iya om."


Riana langsung turun dari atas ranjang, ia langsung berjalan ke arah kamar mandi dengan langkah kaki yang lemas. Hadi yang melihat istrinya hanya menghela nafas berat, lalu ia langsung keluar dari kamarnya, hingga ia sampai di meja makan, lalu langsung menyapa orang tuanya


"pagi mah, pagi pah."


"pagi juga Hadi."


"pagi juga sayang, tumben pagi-pagi sudah bangun?, iya semalam kalian juga tidak makan, kenapa?"


"tidak kenapa-napa mah, aku dan Riana tidak lapar."


Hadi langsung mengambil sarapan, lalu langsung mengambil nampan. Henny yang melihat putrinya mengambil sarapan di nampan, ia langsung tersenyum, ia pikir rencananya berhasil


"tidak sia-sia, ternyata rencanaku berhasil."


Delon yang melihat istrinya tiba-tiba tersenyum, ia langsung bertanya pada istrinya


"mah, kau kenapa tersenyum?"

__ADS_1


"tidak kenapa-kenapa pah."


Hadi langsung menatap mata ibunya sambil tersenyum sinis pada ibunya, ia tau kalau ibunya berpikir rencananya berhasil. Henny tetap pura-pura tidak tau, ia langsung bertanya pada putrinya


"sayang, kenapa tidak sarapan di meja makan?"


Hadi yang mendengar ucapan ibunya, ia pun langsung berbohong, walaupun istrinya lemas karena masih terpengaruh obat perangsang, tapi ia yakin kalau ibunya salah paham atas jawabannya


"tubuh Riana masih lemas mah, tadi masuk ke dalam kamar mandi saja dia pelan-pelan, iya sudah aku ke atas dulu mah, pah."


"iya sayang."


Delon tidak menjawab ucapan putranya, ia hanya melihat putranya yang membawa nampan, ia bukan berpikir apa-apa, tapi ini adalah pertama kalinya Hadi sangat perhatian dengan seorang wanita, walaupun putranya memiliki tunangan, tapi putrinya tidak pernah seperhatian itu padanya, perhatiannya hanya sewajarnya saja, tapi sekarang ia melihat putranya seperti sangat perhatian. Henny yang melihat suaminya hanya diam, ia langsung bertanya pada suaminya


"pah, kau kenapa?"


"mah, kau lihat perubahan putra kita, tidak biasanya dia perhatian pada wanita, saat itu juga Yulia pernah sakit, tapi dia seolah-olah tidak ada yang terjadi apa-apa, tapi sekarang dia sangat perhatian pada Riana."


"tentu saja perhatian, apa lagi sudah terjadi sesuatu dengan mereka berdua."


"maksud mamah apa?"


"papah ini, masa tidak paham, tadi bilang tubuh Riana masih lemas, kalau tidak melakukan malam pertama apa lagi coba?, semalam juga mereka berdua tidak makan."


"jangan pikirin kesitu mah, kita juga kenal putra kita sangat dingin pada seorang wanita, jadi tidak mungkin kalau mereka melakukan hal itu, apa lagi pernikahan mereka juga baru 4 hari, sangat mustahil menurutku."


Henny yang mendengar jawaban suaminya, ia sedikit marah


"terserah papah."


"sudah mah, ayo kita lanjutkan sarapan, tidak perlu ikut campur urusan mereka, biarkan urusan mereka di selesaikan sendiri."


"iya pah."


Henny dan Delon pun melanjutkan sarapan lagi. Para pelayan yang melihat tuan mudanya membawa nampan berisi sarapan, mereka semua tidak menyangka pada tuan mudanya, yang begitu sangat perhatian pada istrinya, membawakan istrinya sarapan, apa lagi tuan mudanya itu sangat penutup dalam hal apapun. Hadi sampai di kamar, ia langsung meletakkan nampan itu di meja samping ranjang istrinya, lalu ia langsung menyuruh istrinya sarapan


"gadis kecil, kau sarapan dulu."


"baik om."


Hadi langsung mengambil meja kecil, lalu langsung meletakkannya di atas ranjang, setelah itu langsung mengambil makanan yang di nampan, setelah itu langsung meletakannya di atas meja kecil. Riana yang melihat suaminya tidak sarapan, ia langsung bertanya pada suaminya


"om tidak sarapan?"


"tidak, aku tidak lapar, kau lebih baik cepat sarapan dulu."


Setelah mendengar jawaban suaminya, ia bermaksud untuk menyupi suaminya, bagaimana pun juga, yang ia tau semalam suaminya telah menjaganya karena ia demam, ia langsung menyodorkan sendok berisi makanan itu pada suaminya


"om buka mulutmu."


"tidak perlu, aku tidak lapar."


"satu suapan saja om."


Mau tidak mau Hadi langsung membuka mulutnya, lalu istrinya langsung menyuapinya. Hadi menatap istrinya sambil tersenyum. Riana juga menatap suaminya sambil tersenyum. Hadi langsung menyuruh istrinya sarapan


"aku sudah makan satu suap, sekarang kau sarapan, apa perlu aku ambilkan sendok yang baru?"


"iya om, tidak perlu om, sendok ini saja."

__ADS_1


Riana langsung sarapan memakai sendok bekas suaminya, ia biasanya merasa jiji kalau bekas orang lain, bahkan ia juga belum pernah makan satu sendok dengan mantan kekasihnya, tapi sekarang ia tidak merasa jiji, entah apa yang ia rasakan, ia juga tidak tau. Hadi menatap istrinya yang sedang sarapan, ia bahkan melihat istrinya seperti tidak jiji bekas sendoknya, membuat ia merasa bahagia, entah perasaan apa itu, melihat istrinya yang makan bekas sendoknya saja ia merasa bahagia


__ADS_2